BLITAR, Tugujatim.id – Duka mendalam menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menyusul insiden ledakan balon udara berisi petasan pada Rabu pagi (27/05/2026).
Pantauan di rumah duka, sebuah tenda tampak berdiri di depan rumah keluarga pria berinisial I, 23, korban ledakan balon udara yang meninggal dunia. Sementara itu, puluhan warga tampak datang silih berganti untuk bertakziah dan menyampaikan belasungkawa.
Baca Juga: Update Kasus Ledakan Balon Udara di Blitar, Polisi Sebut Petasan Dipesan Korban via TikTok
Sosok yang dikenal sebagai pekerja keras ini mengembuskan napas terakhirnya akibat hantaman ledakan petasan balon udara, tepat di saat dirinya baru saja menginjakkan kaki di rumah usai merantau jauh ke Pulau Kalimantan.
Paman korban, Wasis menceritakan bahwa keponakannya itu sebenarnya baru tiba di rumah pada Selasa siang (26/05/2026). Sosok I yang sehari-hari bekerja sebagai mekanik tambang batu bara di Kalimantan sengaja pulang kampung untuk memanfaatkan momentum libur panjang bersama keluarga.
Niat Membantu Berujung Petaka
Wasis bercerita, tragedi ini bermula saat korban yang tengah beristirahat usai perjalanan jauh dibangunkan oleh kakeknya pada Rabu pagi (27/05/2026). Sang kakek memberitahu bahwa ada anak-anak yang tengah bersiap menerbangkan balon udara di persawahan, sekitar 500 meter dari kediaman mereka.
Melihat sekelompok anak di bawah umur kesulitan saat petasan pada balon udara gagal meledak, korban tergerak untuk membantu. I mencoba mengecek kondisi petasan tersebut dengan memegangnya, namun nahas, mercon itu tiba-tiba meledak tepat di depannya.
“Dia bermaksud membantu mengecek kondisi petasan yang tidak meledak itu. Ternyata saat dipegang, petasan langsung meledak dan tidak sadarkan diri,” ungkap Wasis.
Dikenal sebagai Pribadi Pekerja Keras
Kepergian I meninggalkan duka mendalam, terutama mengingat perjuangannya bekerja di luar pulau demi keluarga. Wasis mengaku tidak tega melihat rekaman video saat keponakannya tersebut berjuang di rumah sakit sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat luka serius di tangan, dada, dan wajah.
“Dia anak yang rajin dan pekerja keras di pertambangan,” tambahnya.
Wasis juga menyayangkan kebiasaan pembuatan balon udara disertai petasan yang masih marak dilakukan anak-anak di bawah umur di wilayah Dusun Tekik. Dia berharap kejadian yang menimpa keponakannya ini bisa menjadi pelajaran bagi warga lain agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Penyelidikan Pihak Kepolisian
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Blitar AKP Margono Suhendra menyebut, pihaknya hingga kini masih terus menyelidiki lebih mendalam guna mengusut tuntas peristiwa tersebut.
Meski sejumlah saksi telah diperiksa dan asal-usul petasan mulai teridentifikasi, polisi belum menetapkan tersangka lantaran masih fokus pada pengumpulan bukti serta pemulihan medis para korban yang masih anak-anak.
“Masih penyelidikan, karena korban kami fokuskan untuk tindakan medis dulu mengingat masih anak-anak,” jelas AKP Margono.
Baca Juga: Tragedi Ledakan Maut Mercon Balon Udara di Blitar: 1 Pemuda Tewas, 2 Anak-Anak Luka Bakar
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga kamtibmas dengan tidak menyalahgunakan bahan peledak karena dampaknya bisa berakibat fatal.
“Kalau ada informasi terkait jual-beli petasan segera sampaikan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, sebuah balon udara bermuatan petasan meledak di persawahan Desa Tambakan, Gandusari, Blitar, saat warga tengah melaksanakan salat Iduladha sekitar pukul 06.30 WIB. Insiden ini menelan satu korban jiwa, sementara dua anak yang mengalami luka serius dilarikan ke RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Moch. Luki Azhari
Editor: Dwi Lindawati








