MALANG, Tugujatim.id – Kabupaten Malang ternyata tidak hanya dikenal lewat sektor pertanian hortikultura maupun wisata alam. Di balik hamparan kebun yang tersebar di sejumlah wilayah selatan, daerah ini juga menyimpan potensi kakao yang terus bertahan hingga sekarang.
Meski tidak terlalu ramai dibicarakan, produksi kakao di Kabupaten Malang tergolong stabil. Bahkan, beberapa varietas yang ditanam petani masuk dalam kategori kakao berkualitas tinggi yang tidak banyak ditemukan di daerah lain di Indonesia.
Data tahun 2025 mencatat produksi kakao di Kabupaten Malang mencapai 1.144 ton. Produksi tersebut berasal dari lahan seluas 3.046 hektare yang tersebar di 21 kecamatan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna Medisica Saniputera, mengatakan wilayah dengan potensi kakao terbesar berada di Kecamatan Donomulyo, Sumbermanjing Wetan, Pagak, Dampit, dan Poncokusumo.
Menurutnya, tanaman kakao sebenarnya sudah lama berkembang di wilayah Kabupaten Malang. Sejak masa penjajahan Belanda, sejumlah kawasan di Malang sudah dikenal sebagai area perkebunan kakao.
“Kakao ini cocok ditanam di Malang. Sejak zaman penjajahan Belanda dulu sudah ada perkebunan kakao di sini,” kata Avi beberapa waktu lalu.
Kondisi geografis dan iklim di sejumlah wilayah Kabupaten Malang dinilai mendukung pertumbuhan tanaman kakao. Karena itu, hingga sekarang komoditas tersebut masih dipertahankan oleh para petani di beberapa kecamatan.
Baca Juga : 20 Oleh-Oleh Khas Malang dan Tempat Belinya, Jangan Pulang Sebelum Beli
Criollo Jadi Varietas yang Menarik Perhatian
Dari berbagai jenis kakao yang dibudidayakan di Kabupaten Malang, varietas MCC 02 dan Sulawesi 02 menjadi yang paling banyak ditanam petani. Kedua varietas tersebut dikenal memiliki produktivitas yang cukup baik.

Namun di antara varietas yang ada, criollo menjadi salah satu jenis yang paling menarik perhatian. Varietas ini masuk kategori fine cocoa atau kakao premium yang jumlahnya cukup terbatas.
Criollo dikenal memiliki kandungan lemak tinggi dengan rasa yang lebih lembut dibanding jenis kakao lain. Karakter tersebut membuat criollo memiliki nilai lebih dalam industri pengolahan cokelat.
Meski begitu, varietas criollo tidak mudah dibudidayakan. Tanaman ini dikenal cukup rentan terhadap serangan hama dan penyakit sehingga tidak banyak daerah yang mampu mempertahankan produksinya.
Keberadaan criollo di Kabupaten Malang menjadi salah satu alasan perusahaan pengolahan kakao Finestco tertarik menjalin kerja sama dengan petani lokal.
Pemilik Finestco, Agatha Virdhi Saputra, mengatakan pihaknya mulai bekerja sama dengan petani kakao di Kabupaten Malang sejak tahun 2021.
Menurutnya, Kabupaten Malang memiliki sejarah panjang dalam budidaya kakao sekaligus mempunyai varietas premium yang tidak dimiliki semua daerah.
“Potensinya luar biasa karena punya sejarah yang panjang dan fine cocoa yang bernama criollo. Tidak semua daerah di Indonesia punya criollo,” ujar Agatha.
Petani Mulai Didorong Tingkatkan Mutu Pascapanen
Saat pertama kali berinteraksi dengan petani kakao di Kabupaten Malang, Agatha melihat pengolahan pascapanen masih belum maksimal. Sebagian besar petani masih menjual biji kakao secara curah tanpa proses pengolahan yang optimal.
Kondisi tersebut membuat nilai jual kakao belum sepenuhnya meningkat. Karena itu, pihaknya mulai melakukan pembinaan kepada petani agar kualitas biji kakao bisa lebih baik.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni meningkatkan mutu fermentasi biji kakao. Proses fermentasi dianggap penting untuk membantu menghasilkan kualitas kakao yang lebih baik sebelum dipasarkan.
“Saya bekerja sama dengan DTPHP untuk meningkatkan mutu fermentasi biji kakao yang ada di Malang,” katanya.
Saat ini, produktivitas kakao di Kabupaten Malang mencapai sekitar 770 kilogram per hektare. Hasil panen dari perkebunan kakao tersebut terserap di pasar lokal dan juga dikirim ke Kampung Cokelat Blitar.
Pemerintah Kabupaten Malang juga mulai mengusulkan program budidaya dan hilirisasi produk cokelat ke Kementerian Pertanian.
Hilirisasi Kakao Mulai Disiapkan
Pengembangan hilirisasi dilakukan agar petani tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk biji kakao mentah. Ke depan, petani diharapkan dapat mengolah sendiri hasil panennya menjadi produk bernilai tambah.
Produk olahan tersebut bisa berupa cokelat batangan maupun cokelat bubuk yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding biji kakao curah.
Melalui pengembangan budidaya dan pengolahan produk kakao di Malang, pemerintah berharap kesejahteraan petani dapat meningkat seiring bertambahnya nilai ekonomi dari hasil perkebunan mereka.
Selain menjaga produksi kakao tetap stabil, langkah tersebut juga diharapkan mampu mempertahankan keberadaan varietas premium seperti criollo yang saat ini jumlahnya masih terbatas di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Mochamad Abdurrochim








