MALANG, Tugujatim.id – Mimpi hanya untuk mereka yang berani, semua hinaan bahkan celaan tidak dibawa mati namun menjadi penyemangat untuk membuktikan setiap ciptaan yang dianggap kekurangan ternyata memiliki kelebihan yang terpendam. Ya, Sadikin Pard Gallery menjadi saksi maestro pelukis difabel ternama yang telah berpulang namun meninggalkan maha karya mendunia yang tersimpan abadi dan menginspirasi.
Menjadi mahasiswa baru adalah awal baru bagi Sadikin Pard kala itu karena dia bisa bebas mengekspesikan perasaan di dalam hati melalui seni lukis. Berawal dari sebuah mimpi, Sadikin memilih bergabung dengan Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA). Hal ini ternyata membuat lukisannya mendunia.
Kuas yang mulai mencari warna terindah, lalu menjadi lihai menari di atas kanvas suci. Sadikin tidak hanya melukis karya abadi, namun juga sarat prestasi. Karya-karyanya berhasil menembus langit Eropa berkat kerja keras dan doa yang selalu dia sematkan.
Karena prestasi yang dimiliki, Sadikin Pard berhasil mendapatkan banyak apresiasi seperti Penghargaan Media Kick Andy dan Hitam Putih, lukisannya menjadi karya paling diminati di Eropa sebagai kartu ucapan, Galeri Nasional memberikan penghargaan untuk salah satu karya bertema agamis.
Namun, Tuhan lebih menyayangi Sadikin Pard melebihi rasa cintanya terhadap seni. Pada 2024 menjadi tahun duka karena dia harus pergi meninggalkan kita.
Almedo Pard, anak bungsu Sadikin Pard, saat ditemui pada Kamis (19/09/2025), mengungkapkan ucapan terima kasih kepada sang papa yang sudah membuat lukisan terindah.
“Terima kasih kepada Papah telah membuat lukisan terindah dan meninggalkan semua bentuk kenangan, ilmu, dan materi,” ucap Edo, sapaan akrabnya.
Berikut potret 15 potret maha karya di Sadikin Pard Gallery, Jl Selat Sunda Raya No D5/35, Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jatim, yang dipotret oleh mahasiswa magang di Tugujatim.id Diandra Talifta.















Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diandra Talifta dan Novia Hilmiasari/Magang
Editor: Dwi Lindawati








