JEMBER, Tugujatim.id – Sebuah terobosan pendidikan menggembirakan tengah berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Banjarsengon 02, Patrang. Institusi SDN Banjarsengon 02 ini berhasil mentransformasi metode konvensional menjadi pembelajaran berbasis teknologi canggih, lengkap dengan sistem kehadiran menggunakan teknologi QR code.
Transformasi menuju era digital ini merupakan upaya strategis mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan zaman yang semakin modern, khususnya bagi generasi sekolah dasar.
Baca Juga: Pemkab Jember Siapkan Panduan Wisata Terpadu, Optimalkan Potensi Gunung dan Pantai
Menurut keterangan Guntur Bayu Wibisono selaku pimpinan SDN Banjarsengon 02, revolusi pembelajaran teknologi ini telah diimplementasikan mulai April 2025. Fokus utama program inovatif tersebut diarahkan kepada murid tingkat V dan VI.
“Implementasi teknologi pembelajaran memanfaatkan fasilitas milik sekolah. Para murid dilatih menggunakan Chromebook, perangkat komputer, serta berbagai aplikasi digital yang terintegrasi dengan platform Belajar menggunakan identitas personal masing-masing,” papar Guntur pada Jumat (26/09/2025).
Lebih lanjut dijelaskan, konsep inti dari program ini adalah mengintegrasikan kurikulum dengan aneka sumber pembelajaran digital. Harapannya, para siswa dapat menimba ilmu secara kontekstual selaras dengan dinamika informasi masa kini.
Di samping itu, setiap siswa diwajibkan menyusun dokumentasi belajar digital. Dokumentasi tersebut dibuat melalui platform Google Site, Canva, Google Docs, bahkan website sederhana sebagai arsip pencapaian akademik mereka.

“Seluruh karya peserta didik dapat terdokumentasi dengan baik. Jejak pembelajaran tidak akan hilang, justru tersimpan dengan tertib dalam ekosistem digital,” terang Guntur saat diwawancara wartawan, Jumat (26/09/2025).
Pihak sekolah juga telah membangun sistem manajemen pembelajaran (LMS). Platform LMS ini menyediakan fitur konten pembelajaran, pemberian tugas, komunikasi pendidik-orang tua, hingga pengumpulan karya siswa secara online.
Guntur mengungkapkan, tercetusnya inovasi ini bermula dari perangkat teknologi sekolah yang kurang dimanfaatkan. Daripada menganggur, dia memutuskan mengoptimalkannya untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
“Kami mengamati laptop dan komputer jarang digunakan. Jika dibiarkan akan mengalami kerusakan. Karena itu kami mengembangkan konsep ruang kelas digital,” ungkapnya.
Kendala utama justru muncul dari infrastruktur internet. Akses yang terbatas menyulitkan siswa dalam mengakses platform digital. Namun, pihak sekolah akhirnya meningkatkan kapasitas jaringan sehingga proses pembelajaran berjalan optimal.
Tidak hanya aspek pembelajaran, Guntur juga menyebutkan proyek pembangunan pagar sekolah yang dikerjakan secara bergotong royong bersama komite dan orang tua siswa. Pelaksanaan proyek berlangsung efisien dan penuh kekompakan.
“Gagasan renovasi pagar berasal dari komite. Kami sepakat mengundang wali murid untuk bermusyawarah. Ada yang berkontribusi bahan bangunan, ada yang menyumbang tenaga kerja. Dalam kurun waktu seminggu pagar rampung,” tutur Guntur.
Sementara itu, Rania Shabrina Salsabil, pengajar kelas digital, ikut menjelaskan implementasi sistem kehadiran elektronik. Mekanisme ini telah beroperasi sejak tahun 2024 dengan menggunakan database siswa dan barcode pada kartu pengenal.
“Setiap pagi para murid berbaris, kemudian memindai barcode melalui aplikasi Ship. Saat pulang sekolah juga melakukan pemindaian. Informasi langsung tercatat oleh guru piket,” kata Rania.
Orang Tua Pantau Absensi Anak lewat Aplikasi Mobile
Para orang tua dapat memantau waktu kehadiran anak melalui aplikasi mobile. Rekapitulasi presensi otomatis menampilkan jumlah masuk, izin, dan tidak hadir sehingga lebih akuntabel. Saat ini, sekolah sedang mempersiapkan sistem absensi otomatis menggunakan mesin khusus.
“Apabila sudah beroperasi, hasilnya langsung dikirim ke WhatsApp orang tua murid,” ungkap Rania.
Dalam implementasi pembelajaran digital, para guru menerapkan alur kurikulum Merdeka. Rania menyebutkan pendekatan ini mencakup tahapan mulai dari diri, eksplorasi konsep, kolaborasi, hingga tindakan nyata.
“Sebagai contoh ketika terjadi gempa bumi, siswa mencari data penyebab, skala, konsekuensi, hingga referensi terpercaya. Jadi mereka belajar langsung dari kejadian riil,” jelasnya.
Pada awalnya, anak-anak hanya mengenal smartphone untuk hiburan. Namun sekarang mereka memahami kegunaan perangkat digital untuk pembelajaran. Pemberitahuan tugas di Google Classroom membantu siswa lebih tertib.
Perubahan ini memerlukan proses adaptasi yang cukup panjang karena mengubah kebiasaan siswa menuju pola pembelajaran yang lebih efektif di masa depan.
“Kelas V umumnya masih dalam tahap penyesuaian. Tetapi di kelas VI, para murid sudah terbiasa dan lebih independen,” tutup Rania yang merupakan lulusan UIN Khas Jember.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








