JEMBER, Tugujatim.id – Penyelenggaraan Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025 di kampus Universitas Jember (UNEJ) telah usai. Kesuksesan KMHE 2025 sebagai kompetisi bergengsi tingkat nasional ini tidak bisa dilepaskan dari kerja keras sosok-sosok yang jarang mendapat sorotan.
Seperti petugas Marshal Trek dan Liaison Officer dari institusi penyelenggara yang bertugas memastikan segala aspek teknis dan keselamatan berjalan optimal sepanjang agenda berlangsung.
Baca Juga: Unej Jadi Tuan Rumah KMHE 2025, Rektor Iwan Taruna: Target Net Zero Emission 2045
Muhammad Thoriq Fauzi yang memimpin koordinasi petugas keamanan lintasan KMHE 2025, mengungkapkan, hambatan utama yang mereka hadapi adalah memastikan kondisi jalur perlombaan tetap aman, khususnya di belokan-belokan ekstrem. Salah satunya adalah tikungan dengan sudut tajam yang sempat menjadi perhatian khusus berbagai kontingen karena tingkat kesulitannya.
“Tugas kami mencakup pemberian arahan tegas kepada penonton, pembuatan penanda jalur yang memadai, serta inspeksi menyeluruh untuk menghilangkan potensi bahaya,” papar Thoriq pada Minggu (26/10/2025).
Menurut dia, bila terjadi kecelakaan berat seperti kendaraan terbalik, keselamatan pengemudi menjadi fokus pertama. Kendaraan yang mengalami insiden harus melewati pemeriksaan teknis ulang sebelum diperbolehkan kembali ke arena kompetisi.
“Rasa bangga saya besar karena peran marshal sangat vital, setiap keputusan kami berdampak langsung pada hasil perlombaan,” tambahnya.
Di sisi lain, petugas Liaison Officer berperan sebagai jembatan komunikasi yang ramah, melayani keperluan operasional 68 tim di area Paddock. Amalia Rizki bersama Alisya Kalista yang bertugas sebagai LO, menceritakan pengalaman berharga mereka selama mendampingi peserta.
Permintaan bantuan non-teknis yang kerap diterima meliputi informasi bengkel yang beroperasi hingga larut malam, tempat pembelian komponen darurat, hingga saran kuliner dan cinderamata lokal. Amalia, yang mendampingi delegasi dari Universitas Hasanuddin, menghadapi tantangan komunikasi tersendiri.
“Kesulitan terbesar adalah beradaptasi dengan dialek Makassar mereka yang sangat khas. Butuh usaha ekstra untuk benar-benar memahami maksud mereka,” ungkapnya.
Kebersamaan Kontingen Saling Membantu
Meski kompetisi berlangsung ketat, semangat kekeluargaan tetap terpelihara. Alisya menjelaskan, mereka berusaha keras mencegah kesalahpahaman dan selalu membuka ruang bagi tim untuk berbagi keluhan.
“Sebelum mereka kembali ke penginapan, saya selalu menyediakan waktu mendengarkan cerita mereka dan memberikan dukungan moral,” katanya.
Amalia menambahkan, mereka juga menyaksikan momen-momen kebersamaan antar kontingen.
“Meski berkompetisi, mereka tetap saling membantu, terutama tim dari wilayah yang sama,” jelasnya.
Keakraban juga terbangun ketika beberapa tim secara sukarela menambahkan LO pendamping mereka ke dalam grup komunikasi internal, memastikan alur informasi berjalan lancar sekaligus menjadikan mereka tempat curhat selama kompetisi.
“Mereka sangat terbuka dan memperlakukan saya layaknya bagian dari tim. Saya pun ikut merasakan ketegangan di momen-momen penting,” kenang Amalia.
Pencapaian KMHE 2025 bukan hanya diukur dari catatan efisiensi energi, namun juga dari standar keselamatan ketat yang dijaga petugas Marshal di lintasan dan dukungan logistik optimal yang disediakan LO di area Paddock. Kerja keras para petugas dari Universitas Jember ini telah menghadirkan pengalaman kompetisi yang tak terlupakan bagi semua peserta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








