SURABAYA, Tugujatim.id – Di tengah polemik harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan desakan nasional menuju target net zero emission, penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) dinilai sebagai solusi konkret bagi Jawa Timur khususnya Kota Surabaya untuk mempercepat transisi menuju energi bersih.
Guru Besar Teknik Mesin Universitas Kristen Petra (PCU) Surabaya, Prof. Dr. Willyanto Anggono, S.T., M.Sc, menegaskan bahwa BBG merupakan pilar penting dalam mewujudkan kota rendah emisi, khususnya di wilayah perkotaan padat seperti Surabaya.
“BBG, yang sebagian besar terdiri dari gas metana (CH₄) dengan rantai karbon rendah, mampu menekan emisi gas buang secara signifikan. Pembakarannya lebih bersih dibanding BBM, dan ini sangat relevan untuk menjadikan Surabaya sebagai kota hijau dan rendah emisi,” ujar Prof. Willyanto, Senin, 3 November 2025.
Surabaya Tinggal Perluas SPBG
Prof. Willyanto menjelaskan, Surabaya sebenarnya telah memiliki fondasi kuat untuk pengembangan energi bersih, dengan jaringan gas bumi dan infrastruktur perpipaan yang sudah dimanfaatkan industri dan rumah tangga. Tantangan terbesar justru ada di sektor transportasi.

“Yang paling mendesak adalah penambahan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di titik-titik strategis. Selain itu, digitalisasi sistem distribusi gas juga penting agar layanan ke masyarakat makin efisien,” paparnya.
Transportasi Umum Jadi Langkah Awal
Menurutnya, transportasi umum seperti bus, taksi, dan kendaraan operasional pemerintah bisa menjadi langkah awal paling realistis untuk beralih ke BBG. Selain hemat hingga 70 persen dibanding BBM, peralihan ini juga akan memperkuat ketahanan energi domestik sekaligus memperbaiki kualitas udara.
“Kalau armada publik mulai lebih dulu, dampaknya langsung terasa, baik bagi ekonomi masyarakat maupun lingkungan,” imbuhnya.
PGN: Konsumsi BBG di Surabaya Terus Tumbuh
Kinerja penggunaan BBG di Surabaya pun menunjukkan tren positif. Sales Area Surabaya PT Gagas Energi Indonesia (anak perusahaan Pertamina Gas Negara), Dedy Adhariadi, mencatat konsumsi BBG hingga September 2025 mencapai 1,5 juta liter setara premium (LSP) yang meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Dedy menyebutkan, pengguna terbesar BBG saat ini berasal dari armada taksi Blue Bird, disusul taksi daring dan sebagian mobil pribadi.

“SPBG Pertamina di Jalan Ratna yang menjadi satu-satunya di Surabaya melayani rata-rata 4.000 LSP per hari, dengan harga stabil di Rp4.500 per LSP,” jelas Dedy.
Namun, lanjutnya, keterbatasan jumlah SPBG masih menjadi hambatan utama. Ia menilai, perlu dukungan pemerintah melalui penambahan SPBG dan subsidi converter kit agar lebih banyak kendaraan bisa beralih ke gas.
“Semoga kedepan tidak hanya satu SPBG saja, tentunya dukungan dari pemerintah juga sangat diperlukan terlebih untuk bisa subsidi converter kit sehingga banyak lebih banyak pengguna BBG ini,” tandas Dedy.
Menuju Surabaya Kota Rendah Emisi
Prof. Willyanto optimistis, dengan potensi cadangan gas bumi yang melimpah di Jawa Timur, Surabaya berpeluang menjadi kota percontohan transisi energi bersih di Indonesia.
“BBG adalah jembatan menuju energi bersih. Dengan dukungan kebijakan dan insentif yang tepat, Surabaya bisa menjadi pionir kota rendah emisi,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Layla Aini
Editor: Darmadi Sasongko








