MALANG, Tugujatim.id – Main sepak bola tapi pemainnya pesawat drone? Ya, inilah tren baru olahraga bernama Drone Soccer yang mulai mewabah di tanah air, termasuk di Malang, Jatim. Bahkan, olahraga berbasis teknologi unik ini diminati banyak kalangan.
Drone Soccer digambarkan dengan laga sepak bola dimainkan tanpa rumput dan pemain yang berlari. Pemainnya adalah pesawat drone dengan bola-bola bercahaya melesat di udara, saling bertabrakan, dan bermanuver dalam kecepatan tinggi di arena tertutup.
Untuk balapan drone konvensional mengandalkan kecepatan, sedangkan drone soccer uji nyali strategi dan presisi. Pemain harus manuver ketat untuk memasukkan wahana mereka ke gawang lawan memakai unit drone yang dilindungi kerangka berbentuk bola (cage),
Teknisnya, Drone Soccer dimainkan dengan format tim masing-masing terdiri dari 3-5 pemain. Setiap tim biasanya berbagi peran, mulai dari 1 orang menjadi striker dan 2 orang menjadi defender untuk membendung serangan lawan. Permainan ini dimainkan dalam 3 set, di mana setiap set durasinya 3 menit.
Drone Jadi Sarana Edukasi dan Hobi Prestisius
Praktisi Drone Indonesia Arya Dega mengatakan tren olahraga ini mulai tumbuh masif di tingkat komunitas sejak 2023. Meski begitu, dia mengatakan, prediksi olahraga ini akan menjadi tren baru di kancah dunia olahraga dirgantara Indonesia karena bisa digelar di ruang publik secara inklusif.
“Karena dimainkan di dalam ruangan, sepak bola drone relatif aman dan ramah bagi pemula, termasuk pelajar, serta minim persoalan regulasi penerbangan sehingga bisa digelar di berbagai ruang publik,” papar Arya.

Dia menilai tren di ruang digital menunjukkan minat masyarakat yang terus melonjak, menandakan drone kini bukan lagi sekadar alat kerja, tapi sarana edukasi dan hobi prestisius. Selain keren untuk konten media sosial, dia mengatakan, drone soccer adalah pintu masuk menuju dunia profesional.
Baca Juga: Kiprah Arya Dega Sukses Jadi Pakar Drone di Indonesia, Tak Pelit Berbagi Ilmu meski Banyak Haters
“Sepak bola drone menjadi pintu masuk ke dunia drone profesional. Mereka dapat belajar dasar pengendalian, aspek keselamatan, dan kerja tim sebelum terjun ke industri drone yang lebih kompleks seperti pemetaan atau sinematografi,” jelasnya.
Arya menilai dinamika perkembangan olahraga ini masih terdapat tantangan besar meski peminatnya membeludak. Dia melanjutkan, Indonesia kini belum memiliki federasi nasional resmi untuk drone soccer.
Meski begitu, para pegiat berupaya kerja sama dengan Federasi Aerosport Indonesia (FASI) agar olahraga ini resmi menjadi cabang olahraga baru.
”Standardisasi aturan dan pembinaan atlet menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, mengingat federasi dunia olahraga ini sudah berdiri kokoh di Korea Selatan,” bebernya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Ulul Azmy
Editor: Dwi Lindawati








