GRESIK, Tugujatim.id – Di balik kesederhanaan Warung Bebek Kuti yang berdiri di kawasan Manyar, Gresik, tersimpan sebuah filosofi hidup yang tak biasa.
Hadi Purwanto, sang pemilik, meyakini satu hal, berkah bisa menular melalui kebaikan. Setiap kali ada tetangga yang akan menunaikan umrah, ia selalu menyajikan hidangan bebek tanpa memungut sepeser pun.
“Mas Hadi punya prinsip sederhana, kalau dia berbagi dengan jamaah yang hendak ke Baitullah, suatu hari nanti giliran dia yang akan dipanggil ke sana,” tutur salah satu petugas Chatour Travel yang menyaksikan langsung perjuangan keluarga ini.
Keyakinan itu bukan sekadar angan. Doa yang dipanjatkan di sela-sela kesibukan menggoreng bebek akhirnya menemukan jalannya sendiri, meski tak tanpa liku.
Tanggal 19 Januari 2026 menjadi titik balik bagi keluarga kecil ini. Hadi Purwanto, bersama istri Faidatun Hidayah dan putri semata wayangnya, Fatinatus Salimah, melangkah masuk ke kantor Chatour Travel dengan wajah yang menyimpan cerita.
Sebelumnya, mereka sempat mendaftar di biro perjalanan lain, namun keberangkatan yang dinanti-nanti tak kunjung terwujud.
Namun, lelaki sederhana itu tidak menyerah. Dengan tegas, ia menyampaikan satu syarat kepada petugas travel: “Kami harus bisa berangkat bulan Februari ini.”
Chatour Travel, yang memiliki keberangkatan rutin setiap pekan, menawarkan paket Umrah Syakban berdurasi 13 hari dengan jadwal keberangkatan 11 Februari 2026.
Tanpa berpikir panjang, di hari yang sama, Hadi langsung menyerahkan deposit. Baginya, kepastian adalah harga mati.
Mengantarkan Sang Putri Menuju Cahaya Illahi
Perjalanan ini bukan sekadar ibadah biasa. Bagi Hadi, ini adalah bentuk pengabdian seorang ayah, mengantarkan putri tercintanya, Fatinatus Salimah, menuju rumah Allah.
Fatin bukan anak biasa. Meski matanya tak mampu melihat dunia, ia memiliki hati yang mampu menghafal seluruh firman-Nya. Gadis muda itu adalah seorang hafidz Al Quran.
“Ketika mendengar kisah tentang Fatin yang hafal 30 juz meski tunanetra, kami merasa ada amanah besar yang kami pikul. Ibadah pertama mereka ini harus sempurna,” ungkap tim Chatour Travel dengan penuh kesungguhan.
Dari Receh Warung Menuju Pintu Baitullah
Kisah keluarga Hadi Purwanto adalah bukti nyata bahwa panggilan Illahi tidak mengenal strata sosial. Dari warung kecil di pinggir jalan, ia mengumpulkan penghasilan sedikit demi sedikit.
Setiap porsi nasi bebek yang terjual adalah doa yang terlipat rapi, setiap pelanggan yang dilayani adalah harapan yang ditanam.
Dan pada 11 Februari 2026, harapan itu akhirnya berbuah. Keluarga penjual bebek itu kini bersiap di Bandara Juanda, menanti penerbangan yang akan membawa mereka ke Tanah Suci. Tak ada lagi kecemasan, yang tersisa hanya rasa syukur yang mengalir deras.
Mereka membuktikan: keterbatasan fisik dan jalan berliku hanyalah ujian sementara sebelum tangan-tangan itu menyentuh Hajar Aswad.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








