JEMBER, Tugujatim.id – Ketua Umum Pengurus Pusat (Ketum PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pandangan mendalam tentang hubungan antara Islam dan pelestarian lingkungan dalam forum Kajian Ramadhan yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).
Hadir secara daring melalui Zoom Meeting, Haedar membawa pesan yang relevan di tengah krisis ekologi global. Menurutnya, manusia mengemban amanah sebagai khalifah yang berkewajiban mengelola dan menyuburkan bumi, bukan membiarkannya terbengkalai, apalagi mengeksploitasinya secara destruktif.
Seluruh kekayaan alam, dari lautan, daratan, mineral, hingga energi, merupakan titipan Tuhan yang wajib dirawat demi kemaslahatan umat manusia.
“Bangunlah, makmurkan, manfaatkan, kelola, tetapi jangan dirusak. Itulah konsep dasarnya,” tegasnya.
Haedar mengingatkan agar umat Islam menghindari dua ekstrem yang sama-sama berbahaya: sikap rakus yang menguras alam demi keuntungan sesaat, serta sikap pasif yang membiarkan sumber daya alam tidak tersentuh atas nama konservasi namun justru mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan bahwa peradaban yang maju mustahil terwujud tanpa kemakmuran yang nyata.
Dalam pandangannya, ekoteologi Islam bukan larangan untuk membangun, melainkan seruan untuk membangun dengan kesadaran dan tanggung jawab penuh. Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan negara yang berpihak pada keadilan ekologis dan sosial.
Indonesia, dengan kekayaan alamnya yang luar biasa, seharusnya mampu mensejahterakan rakyat tanpa harus mengorbankan lingkungan, meski ia mengakui hal ini memerlukan kecerdasan kolektif dan sinergi antara masyarakat sipil dan pemerintah.
Haedar juga menegaskan peran strategis Muhammadiyah dalam mendorong kemandirian ekonomi umat sekaligus menanamkan kesadaran ekologis melalui jalur pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan sosial.
Ia mencontohkan dilema yang kerap muncul di lapangan, seperti kasus pertambangan yang di satu sisi menimbulkan kerusakan lingkungan namun di sisi lain menjadi sandaran hidup warga lokal.
Persoalan semacam ini, tegasnya, hanya bisa diselesaikan dengan pendekatan yang menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong.
Mengakhiri arahannya, Haedar mengajak seluruh peserta untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai kompas dalam mencari solusi atas berbagai tantangan kebangsaan, termasuk krisis lingkungan. Ia menegaskan bahwa orientasi dunia dan akhirat adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
“Bangunlah dengan ihsan, bangunlah dengan Islam, tetapi jangan merusak. Itulah ekoteologi yang sesungguhnya,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








