TUBAN, Tugujatim.id – Lebaran selalu punya cara sederhana untuk menyentuh hati. Salah satunya lewat ketupat. Tradisi ini hadir di meja makan, tampak biasa saja, namun nyaris tidak pernah absen dari setiap perayaan Idulfitri.
Di balik rasanya yang akrab di lidah, ketupat sebenarnya menyimpan cerita yang tidak sesederhana bentuknya. Anyaman janur yang membungkus nasi itu seperti sedang “berbicara” pelan tentang manusia, tentang kesalahan, dan tentang cara kita menyelesaikannya.
Baca Juga: Tradisi Dus-dusan di Pantai Tuban: Doa, Ketupat, dan Harapan Tahun Depan
Konon, filosofi ketupat tidak lepas dari ajaran. Bukan sekadar makanan, tetapi simbol yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Coba perhatikan bagian luarnya. Anyaman janur itu tidak sederhana. Bagi yang pernah mencoba, pasti tahu, ada bagian yang harus dilipat, diselipkan, lalu dikunci dengan rapi. Sedikit saja salah, bentuknya bisa berubah, bahkan gagal. Di situlah letak perumpamaannya.
Hidup manusia juga demikian. Tidak selalu lurus. Ada kesalahan kecil yang terlanjur diucapkan, ada sikap yang tanpa sadar melukai, ada juga keputusan yang akhirnya disesali. Semuanya saling bertaut, seperti anyaman yang tidak selalu mudah diurai.
Ketupat seperti mengingatkan, bahwa rumitnya hidup itu wajar. Yang tidak wajar adalah jika kita pura-pura tidak pernah salah.
Dalam tradisi Jawa, ketupat sering dimaknai sebagai “ngaku lepat”, mengakui kesalahan. Sementara janur yang membungkusnya dimaknai sebagai “sejatining nur”, cahaya sejati. Maknanya sederhana, tapi dalam.
Bahwa mengakui kesalahan adalah langkah awal untuk kembali pada hati yang jernih. Namun, Lebaran tidak berhenti di situ.
Ada satu hal lagi yang sering luput disadari, yakni bagaimana kesalahan itu “dirapikan”. Bukan disembunyikan, bukan pula diabaikan. Melainkan diselesaikan dengan cara yang baik.
Momen saling bersalaman, saling berkunjung, dan mengucapkan maaf bukan sekadar tradisi tahunan. Di situlah semua yang sempat mengganjal, perlahan dilepaskan. Kata maaf menjadi ruang untuk menenangkan, sekaligus menuntaskan.
Seperti ketupat yang dibungkus rapat, maaf yang tulus juga bekerja dengan cara yang sama. Ia menjaga agar kesalahan tidak lagi terbuka, tidak kembali menjadi bahan luka di kemudian hari.
Dan saat ketupat itu dibelah, bagian dalamnya tampak putih bersih. Barangkali di situlah inti dari semuanya.
Setelah melalui proses yang tidak sederhana—dari menganyam, mengisi, hingga merebus dalam waktu lama—ketupat akhirnya menjadi utuh. Putih, padat, dan siap disajikan.
Baca Juga: Hidangan Pendamping Ketupat yang Wajib Tersedia Saat Lebaran
Begitu pula manusia setelah Ramadhan. Setelah menahan diri, belajar mengendalikan emosi, dan berusaha memperbaiki sikap, Lebaran menjadi titik untuk kembali. Kembali pada hati yang lebih bersih, lebih lapang, dan lebih siap menerima.
Mungkin selama ini, masih terlalu fokus pada apa yang tersaji di meja makan. Padahal, ketupat tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipahami.
Tentang bagaimana berani mengakui salah. Tentang bagaimana merapikan luka. Dan tentang bagaimana menuntaskan maaf, tanpa menyisakan ganjalan.
Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan hanya soal pulang ke rumah. Tetapi juga tentang pulang ke hati yang lebih tenang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








