KOTA BLITAR, Tugujatim.id – Art Toys and Comic, menjadi arena panggung ‘pamer taring’ yang selama ini dirindukan para seniman lokal di Kota Blitar.
Sisa hujan masih membasahi aspal di kawasan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Minggu (5/4/2026) sore.
Aroma tanah basah menyeruak, namun dinginnya cuaca tak sedikit pun menyurutkan kesibukan di sebuah gedung eks Kantor Kelurahan Sananwetan.
Di dalam aula mini yang kini disulap menjadi Blitar Art Center, tangan-tangan terampil nampak lincah menata detail-detail kecil, dari miniatur diorama yang presisi hingga goresan komik yang tajam.

Hari itu, sebuah ruang kreatif swadaya resmi dibuka. Bertajuk “Art Toys and Comic”, sebanyak 20 seniman asal Blitar Raya akhirnya “keluar” dari persembunyiannya. Mereka tidak lagi berkarya di balik pintu kamar atau studio sunyi, melainkan memamerkan taringnya kepada dunia.
Melawan Arus Underground
Miryono Daru (50) berdiri dengan bangga di antara deretan karya. Pria asal Jalan Veteran, Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul ini bukan sekadar ketua panitia, ia adalah veteran di dunia diorama sejak tahun 2005. Baginya, pameran ini adalah misi penyelamatan bakat.
“Sebenarnya acara seperti ini sudah banyak di kota besar. Saya punya keinginan menampilkan teman-teman yang selama ini underground atau tersembunyi. Biar warga tahu kalau Blitar punya talenta yang setara dengan tren seni kekinian di luar sana,” ujar Miryono dengan nada mantap.
Miryono sendiri memamerkan mahakaryanya, sebuah diorama bertema Perjuangan PETA. Miniatur itu bukan sekadar pajangan, melainkan fragmen sejarah yang kental dengan identitas bumi Blitar sebagai tanah para pejuang.

Ia gelisah melihat banyak anak muda Blitar yang justru mencari panggung ke luar kota karena merasa di rumah sendiri tak ada wadah.
“Saya ingin Blitar punya event yang tidak kalah menarik. Ini juga bentuk edukasi untuk anak-anak agar tidak melulu terpaku pada gadget,” tambahnya.
Benteng Terakhir Melawan AI
Di sudut lain, Uky Tantra (39), seorang ilustrator asal Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan tampak sedang merapikan bingkai karyanya. Bagi Uky, pameran fisik seperti ini adalah pernyataan sikap di tengah gempuran teknologi Artificial Intelligence (AI).
Uky memamerkan sebuah karya emosional berjudul “The Power of Iman”. Lukisan itu menggambarkan seorang anak kecil di Palestina yang tetap teguh mengangkat bendera meski tubuhnya bersimbah luka.

Menariknya, Uky menyisipkan simbol bambu runcing, sebuah benang merah perjuangan yang menghubungkan Gaza dengan sejarah kemerdekaan Indonesia.
Namun, di balik keindahan garisnya, Uky menyimpan kekhawatiran mendalam soal profesi kreatif.
“Sekarang ada isu bahaya bahwa pemikiran pekerja kreatif itu dianggap nol nilainya. Dengan gempuran AI, orang menganggap semua gambar itu sama dan bisa didapat gratis,” tegas Uky.
Melalui pameran ini, ia ingin menunjukkan kekuatan imajinasi manusia yang punya ciri khas dan roh tidak bisa digantikan oleh mesin.
Ia berharap literasi seni seperti ini masif dilakukan ke sekolah-sekolah. Jika generasi muda hanya mengandalkan AI tanpa memahami proses kreatif yang riil, ia khawatir produksi kreativitas manusia akan musnah di masa depan.
Menghidupkan Ekonomi Kreatif
Pameran yang berlangsung hingga 12 April 2026 ini memang digratiskan bagi pengunjung. Namun, bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu, tersedia workshop dengan biaya relatif terjangkau. Tak hanya itu, seluruh karya yang dipajang juga bisa dibeli oleh kolektor.
Safitri, seorang pengunjung asal Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo mengaku terpukau. Selama ini, ia sering menikmati karya-karya seni secara anonim di media sosial tanpa tahu bahwa kreatornya adalah tetangga kotanya sendiri.

“Senang sekali, bisa jadi hiburan akhir pekan yang beda. Saya baru tahu ternyata seniman Blitar itu keren-keren dan karyanya sangat detail. Semoga rutin diadakan agar kami tahu siapa saja orang-orang hebat di balik karya seni ini,” ungkap Safitri.
Harapan Safitri senada dengan doa Miryono Daru. Ia berharap pemerintah mulai melirik potensi ini. Bukan sekadar apresiasi kata-kata, tapi dukungan nyata berupa promosi agar seniman Blitar tidak lagi “bersembunyi” di balik bayang-bayang kota besar.
Di gedung eks kelurahan itu, sebuah gerakan telah dimulai. Blitar Art Center telah membuktikan bahwa meski di kota kecil, imajinasi para senimannya tumbuh raksasa, melampaui batas-batas layar digital dan sekat-sekat ketertinggalan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Moch. Luki Azhari/ Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








