• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita memberikan catatan di HUT ke-112 Kota Malang (M Sholeh)

Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita memberikan catatan di HUT ke-112 Kota Malang (M Sholeh)

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
2 months ago
in Catatan, Opini, Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang.

Tulisan ini menyikapi pro kontra busana khas Malang hasil daur ulang atau reinterpretasi era kolonial Belanda di Malang memerlukan kacamata yang jernih-memisahkan antara luka politik masa lalu dengan warisan estetika yang telah mengakar.

Secara holistik, ini adalah bentuk rekonsiliasi budaya di mana identitas Indonesia modern tidak lagi merasa terancam oleh simbol masa lalu, melainkan mampu menjadikannya alat ekspresi yang baru. Menghargai sejarah berarti mengakui bahwa identitas kita hari ini adalah hasil akumulasi peristiwa, termasuk era kolonial di masa kota ini berdiri.

You might also like

NU.

Suket Teki, Gus Yahya, dan Tantangan Governing NU

06/06/2026 4:45 PM
Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

30/05/2026 8:27 PM

Fashion era Belanda di Malang (seperti gaya Indische) bukan sekadar milik penjajah, melainkan hasil sinkretisme budaya yang tidak hanya terbatas pada kebudayaan Eropa. Misal Kebaya Encim dan baju Koko adalah contoh nyata bagaimana elemen Eropa dan Tionghoa bertemu dengan tradisi lokal yang sering kita kenakan pada acara formal.

Homi K. Bhabha memperkenalkan konsep “Third Space” atau teori Ruang Ketiga. Dalam konteks fashion kolonial di Jawa, dialektika terjadi ketika budaya penjajah sebagai Tesis bertemu dengan budaya lokal sebagai Antitesis. dan menghadirkan Sintesis Visual: Produk yang dihasilkan bukan lagi sepenuhnya Belanda dan bukan lagi sepenuhnya Jawa tradisional, melainkan sesuatu yang baru dan “hibrida” inilah yang saya rasa menjadi budaya seni pararel yang tumbuh dan berkembang di Malang.

Pada pandangan selanjutnya Bhabha berargumen bahwa ketika subjek yang dijajah meniru gaya berpakaian penjajah (mimicry), hal itu bukan sekadar peniruan, melainkan tindakan yang mengaburkan otoritas penjajah

Dalam bukunya yang berpengaruh, Seeing Through Clothes (1978) , Anne Hollander menekankan bahwa pakaian dalam seni dan kehidupan nyata adalah bentuk konstruksi visual yang memiliki narasinya sendiri, terlepas dari fungsi sosial atau politik.

Menurut sudut pandang ini, siluet era kolonial dipandang sebagai “bentuk murni”. Dialektika visual terjadi saat bentukbentuk ini didaur ulang ke dalam ruang modern. Hollander berargumen bahwa fashion selalu meminjam dari masa lalu untuk menciptakan drama visual baru.

Maka, penggunaan elemen kolonial hari ini adalah upaya untuk menciptakan citra keanggunan abadi (timeless elegance) yang nilai estetikanya berdiri sendiri, bebas dari beban moral sejarah politik yang menyertainya.

Seni Fashion yang Bebas Nilai: Estetika di Atas Ideologi

Dalam dunia seni, sebuah desain seringkali bersifat amoral atau bebas nilai politik. Sebuah potongan baju tidak memiliki ideologi; tidak memiliki perspektif, manusialah yang menyematkannya. pada pandangan seni kontemporer, pasti ada keterlibatan ruang eksplorasi bentuk: ketika sebuah model diadopsi menjadi inspirasi maka fokus utamanya adalah pada rekonstruksi, dekonstruksi ataupun kombinasi keduanya pada wilayah bentuk, tekstur, warna dan komposisi dengan menambah estetika artifisial.

Fashion kontemporer seperti Klambi Indis yang mendaur ulang gaya kolonial mengejar aspek vintage atau retro yang bersifat universal. Keindahan visual ini dihargai karena nilai artistiknya, yang melampaui batasan geografis dan sejarah politik.

Menghargai sejarah dalam fashion berarti merawat teknik penjahitan, pewarnaan, pengukuran dimensi material, motif dan struktur pakaian yang telah berevolusi selama ratusan tahun di tanah Jawa.

Saat ini untuk mengambil elemen kolonial—seperti beschaafd, obibelt, atau tekstil linen, kita tidak lagi “dijajah” oleh pakaian tersebut, melainkan “menguasai” dan mendefinisikannya kembali sesuai konteks kreatifitas hari ini.

Seperti seragam militer kolonial yang fungsional dengan banyak saku, bahan drill/ katun tebal diadopsi dan diubah menjad pakaian sipil yang melambangkan kewibawaan pejabat negara Indonesia merdeka setelah runtuhnya koloni eropa pasca perang dunia ke 2.

Secara estetika, ini adalah tafsir dari penggunaan garis-garis tegas dan maskulin. Nilai politiknya bergeser: dari seragam “penjajah” menjadi simbol “pembangun bangsa” (the builder) yang dipakai Orde Lama dan diteruskan Orde Baru. fashion eropa pada akhirnya menjadi material mentah yang bebas
diaplikasikan pada ruang fashion masa kini.

Dan ini adalah kemenangan estetika atas sejarah. apresiasi atas keindahan bentuk seperti struktur bahu yang tegas atau detail kancing dan aksesoris yang rumit sebagai murni pencapaian artistik manusia pada zaman itu yang dinilai lebih mampu menunjukkan martabat pemakainya, jauh dari kebudayaan fastfashion kaos oblong hari ini

Melalui lensa seni kontemporer, setiap jahitan yang mengambil inspirasi dari masa kolonial adalah sebuah pernyataan bahwa seni memiliki hak untuk melampaui trauma.

Kita mengambil yang indah, cantik, menghargai prosesnya hingga tersimpan dalam kapsul sejarah, dan menjadikannya bagian dari narasi visual Malang yang kaya, berlapis, dan berdaulat secara estetika.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: Berita Kota MalangDewan Kesenian Kota MalangKota Malang
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

NU.

Suket Teki, Gus Yahya, dan Tantangan Governing NU

by Dwi Linda
06/06/2026 4:45 PM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - KH A Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1999-2010 pernah melontarkan...

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

by Dwi Linda
30/05/2026 8:27 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Kepemimpinan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Ketegangan...

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

by Mochamad Abdurrochim
03/05/2026 7:42 PM
0

JAKARTA, Tugujatim.id – Tasyakuran 50 tahun pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain berlangsung penuh kesan, syukur, dan inspirasi di Hotel...

Next Post
Pernikahan Palsu

Pernikahan Palsu di Malang, Pengantin 'Pria': Saya Tak Pernah Mengaku Laki Laki

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID