Oleh: Abdur Rahim*
Tugujatim.id – KH A Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1999-2010 pernah melontarkan perumpamaan yang menarik tentang NU. Saya mendengar perumpamaan ini saat menghadiri salah satu kegiatan yang mengulas tentang pemikiran Abah Hasyim –begitu kami menyapa beliau– tentang NU.
Beliau dawuh, NU itu seperti suket teki (rumput teki). Susah ditata, tapi juga mustahil dimatikan. Dipotong, tumbuh lagi. Dicabut, akarnya tetap di bawah tanah, menunggu musim berikutnya. Tumbuh liar di sela-sela beton, enggan diatur. Tangguh. Namun bukan tanaman yang indah menurut estetika kebun modern. Ia hidup justru karena tidak bergantung pada sistem irigasi mana pun.
Baca Juga: Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?
Perumpamaan ini menurut saya bukan sindiran atau otokritik dari tokoh sekaliber Abah Hasyim. Ini sebuah potret paling jujur tentang resiliensi organisasi NU. Karena itu, ini sesungguhnya adalah penghormatan. Sebab, NU dalam sejarahnya memang lahir dan hidup dari napas kiai-kiai kampung, dari tradisi yang sudah mendarah daging, dari kemandirian jemaah yang tidak perlu menunggu instruksi dari atas untuk bergerak. Juga, bukan dari “pupuk” birokrasi pusat.
Akan tetapi, di sinilah cerita menjadi menarik, sekaligus pelik. Sebagai rizoma, suket teki menyimpan cadangan nutrisi jauh di bawah permukaan tanah. Inilah yang membuat rumput itu tetap hijau meski musim kemarau panjang, meski diinjak berkali-kali, dan meski rezim datang silih berganti.
Begitulah NU, tafsir saya terhadap perumpamaan Abah Hasyim. Kekuatannya bukan pada jabatan formal para pengurusnya. Bukan pula pada gedung yang ada di Kramat Raya. Melainkan pada rizoma itu sendiri: jaringan kiai dan ulama, pesantren, majelis manaqib dan tahlil, dan tradisi-tradisi yang melekat dalam kesadaran umat.
NU memiliki otonomi organik. Namun, ada harga yang harus dibayar akibat otonomi organik ini. Ketika dunia menuntut efisiensi, transparansi, dan kecepatan merespons disrupsi, karakter suket teki ini mulai terasa seperti kerikil dalam sepatu.
Apalagi ada kecenderungan untuk membanding-bandingkan organisasi lain yang sudah berlari dengan sistem data, tata kelola terstandar, dan jaringan digital. Bukan berarti perbandingan itu tidak adil, tapi memang konteks dan lanskapnya sudah berubah. Tanpa tata kelola yang terukur, NU dengan jumlah massa yang begitu besar, berisiko kehilangan daya tawar strategis dan lambat dalam merespons zaman.
Pada titik inilah Gus Yahya –KH Yahya Cholil Staquf– mencoba masuk dengan tiga agenda utamanya: transformasi konstruksi organisasi, reposisi kedudukan NU, dan revitalisasi peran NU dalam lanskap nasional maupun global. Sebuah harapan baru bagi warga NU sekaligus membawa kontroversi karena “dianggap” melawan arus tradisi.
Gus Yahya tampaknya memahami jika NU hanya dibiarkan “tumbuh liar” seperti suket teki, maka ia akan kehilangan momentum untuk memberikan dampak yang lebih besar bagi umat dan bangsa. Oleh karena itu, sejak memimpin PBNU lima tahun lalu, Gus Yahya memulai apa yang saya sebut sebagai proyek besar: mengubah “padang suket teki” menjadi ekosistem yang lebih terkelola. Inilah yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai governing NU. Sebuah upaya menjam’iyyahkan jamaah. Dimulai dari mendata jamaah secara riil, membangun sistem kaderisasi, menertibkan aset, mendorong standardisasi tata kelola, hingga digitalisasi organisasi melalui platform Digdaya NU. Langkah-langkah yang terdengar wajar di telinga siapa pun yang pernah mengelola organisasi besar.
Namun yang terjadi rupanya tidak sesederhana itu. Ada pihak justru menyambut upaya ini dengan kecurigaan. Ada juga yang masih nyaman dengan pola lama yang serba informal. Bahkan, ada pula yang terang-terangan menganggap kepemimpinan PBNU hari ini terlalu birokratis, jauh dari ruh NU yang mereka kenal.
Saya mencoba untuk memahami perasaan yang demikian. Tidak semua orang mudah menerima perubahan, apalagi perubahan yang menyentuh sesuatu yang sudah lama terasa seperti identitas. Tapi ada satu hal yang perlu kita akui dengan jujur. Tidak semua yang tetap mempertahankan karakter suket teki ini melakukannya demi menjaga spirit dan marwah NU.
Saya melihat ada arus balik yang menginginkan NU tetap menjadi organisasi yang “apa adanya”, karena di balik itu tersimpan ruang abu-abu itulah kepentingan mereka selama ini terlindungi. Di balik kata “apa adanya” ini juga tersimpan zona nyaman yang menguntungkan. Sebagian resistensi terhadap governing NU bukan soal ruh organisasi, melainkan soal siapa yang memegang kendali atas informasi dan sumber daya di dalamnya.
Baca Juga: Usai Rapat Pleno, PBNU Pulihkan Posisi Gus Yahya sebagai Ketua Umum
Inilah yang membuat paradoks ini terasa berat. Padahal, menurut saya, yang dimaksud dengan governing NU bukan hendak mencabut nyawa suket teki dari tanahnya. Bukan pula hendak menyulapnya menjadi tanaman hias yang rapuh di dalam pot kaca. Yang dimaksud adalah memastikan bahwa rizoma itu tetap menyerap nutrisi dari bumi, sementara batang dan daunnya tumbuh cukup teratur untuk bisa menaungi orang banyak. Bukan sekadar tumbuh liar, berdesakan, dan saling mematikan satu sama lain. Menata organisasi bukan berarti mematikan barokah. Justru sebaliknya: tanpa tatanan, barokah itu tidak akan pernah tersalurkan secara maksimal.
Mengelola NU memang bukan pekerjaan biasa. Ia adalah seni mengelola keikhlasan di satu tangan dan profesionalisme di tangan yang lain, tanpa keduanya saling jatuh. Seni semacam ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Dan mungkin itulah pelajaran paling penting yang bisa kita ambil dari lima tahun ini. Sebuah transformasi organisasi tidak akan berjalan hanya karena satu orang punya visi yang jernih. Ia butuh ekosistem yang mau bergerak bersama. Gus Yahya boleh jadi memiliki cetak biru yang bagus, tapi cetak biru itu perlu tangan-tangan lain untuk mewujudkannya.
Pada akhirnya, NU menurut saya akan selalu menjadi suket teki. Sekali lagi, itu bukan kelemahan namun kodrat dan kebanggaan. Tapi kita bisa memilih versinya: apakah kita ingin menjadi suket teki yang tumbuh sembarangan di sela-sela beton sejarah, ataukah yang akarnya tetap liar dan kuat, rizomanya tetap menghujam dalam ke tradisi, namun tumbuh cukup terarah untuk benar-benar menghijaukan bumi. Tugas terberat hari ini bukan sekadar menjaga agar rumput ini tidak mati, melainkan memastikan ia tumbuh dengan cara yang paling maslahat bagi masa depan bangsa. Dan pilihan itu ada di tangan kita bersama. Bukan hanya di tangan satu orang yang sedang mencoba berenang melawan arus sendirian. Wallahu a’lam.
*Warga NU; tinggal di Tuban, Jawa Timur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








