SURABAYA, Tugujatim.id – Kawasan Tugu Pahlawan berubah penuh nuansa sakral saat Surabaya gelar acara ruwatan dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya 2026, Jumat malam (23/05/2026). Ribuan warga memadati area monumen sejak sore untuk menyaksikan prosesi budaya Jawa yang diyakini membawa doa keselamatan dan keberkahan bagi Kota Pahlawan.
Suasana khidmat langsung terasa ketika alunan gamelan dan musik campursari menggema di pelataran Tugu Pahlawan mulai pukul 18.00 WIB. Warga duduk memenuhi area lapangan sambil menikmati pertunjukan pembuka dan mengabadikan momen menggunakan telepon genggam mereka.
Tak hanya warga lokal, sejumlah wisatawan dari luar kota hingga mancanegara juga terlihat ikut menyaksikan tradisi budaya yang jarang digelar dalam skala besar tersebut. Prosesi ruwatan malam itu menjadi salah satu magnet perayaan Hari Jadi Kota Surabaya tahun ini.
Setelah pertunjukan campursari, prosesi kirab budaya mulai dilakukan. Barisan peserta dari berbagai paguyuban Kejawen di Surabaya berjalan mengelilingi kawasan monumen sambil membawa gunungan hasil bumi berupa buah, sayur, hingga makanan tradisional yang disusun menjulang tinggi.
Gunungan tersebut dijunjung bersama-sama sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa keselamatan untuk masyarakat Surabaya. Nuansa semakin sakral ketika peserta kirab dengan pakaian adat Jawa serba hitam memasuki area utama Tugu Pahlawan sambil tetap membawa sajian di atas kepala mereka.
Sorak kagum pengunjung pecah saat iring-iringan memasuki pelataran monumen. Banyak warga mengaku baru pertama kali melihat prosesi ruwatan secara langsung.
Salah satunya Dina, pengunjung asal Semarang yang sengaja datang karena penasaran dengan tradisi tersebut.
“Jarang sekali bisa melihat prosesi budaya seperti ini secara langsung. Kebetulan saya lagi di Kota Surabaya dan pas banget ada acara ini jadi sekalian nonton karena pengen tahu,” ujarnya.
Baca Juga : 10 Daftar Event di Kota Surabaya Spesial Bulan Mei 2026, Simak Jadwalnya!
Gunungan Hasil Bumi dan Wayang Anak Warnai Tradisi Budaya Kota Surabaya
Hal serupa disampaikan William yang datang bersama rekan kampusnya untuk mengerjakan tugas akhir semester sekaligus mempelajari tradisi ruwatan lebih dekat.
“Selain buat ngerjain tugas, kita datang ke sini juga pengen tahu sebenarnya ruwatan itu apa, rangkaiannya seperti apa, dan apa saja yang dilakukan,” ungkap William.

Ia menilai kegiatan budaya seperti ini perlu terus dilestarikan karena tradisi sakral khas Jawa mulai jarang ditemukan di Kota Surabaya.
Dalam prosesi tersebut, panitia juga menjelaskan makna ruwatan kepada masyarakat. Tradisi Jawa ini dipercaya sebagai bentuk doa untuk membersihkan diri dari hal-hal buruk sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan.
Ketua Puanhayati, Rahmawati, mengatakan ruwatan bukan sekadar ritual seremonial, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan kepada Tuhan agar Kota Surabaya dijauhkan dari marabahaya.
“Ruwatan itu tentang permohonan kepada Gusti. Kita hidup di tanah Jawa, jadi ini bentuk spiritual dan rasa terima kasih kepada leluhur,” jelasnya.
Menurut Rahmawati, gunungan hasil bumi yang dibawa saat kirab juga memiliki makna khusus. Bentuknya yang mengerucut ke atas melambangkan harapan manusia agar semakin dekat dengan Tuhan.
Ia menambahkan, masyarakat yang mengambil hasil bumi usai prosesi dipercaya sedang mengambil berkah, rezeki, dan keberuntungan.

“Karena sebelumnya hasil bumi itu sudah didoakan dan dibawa keliling terlebih dahulu,” lanjutnya.
Selain kirab budaya, acara ruwatan juga dimeriahkan dengan pertunjukan tari Remo hingga wayang kulit yang seluruh pemainnya merupakan anak-anak. Keterlibatan generasi muda itu menjadi simbol upaya pelestarian budaya tradisional agar tetap hidup di tengah modernisasi Kota Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Devi Ismayanti/Magang
Editor: Mochamad Abdurrochim








