BLITAR, Tugujatim.id – Penyelenggaraan Bazar Blitar Djadoel 2026 menyisakan persoalan lingkungan yang serius. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar mencatat, volume gunungan sampah yang dihasilkan dari gelaran tahunan tersebut menyisakan “oleh-oleh” sekira 5-6 ton.
Kepala DLH Kota Blitar Jajuk Indihartatik mengungkapkan, limbah yang mendominasi area alun-alun sepanjang acara didominasi oleh sampah plastik sekali pakai.
Sebagai langkah penanganan awal, dinas mengarahkan seluruh sampah tersebut untuk disortir terlebih dahulu di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
Baca Juga: Sidak Temukan Sampah, Kemacetan, dan Parkir Liar, Eri Cahyadi Ancam Tiga Kecamatan
“Kemungkinan sekitar 5 sampai 6 ton. Yang paling banyak adalah sampah plastik. Nanti akan kami pilah dulu di TPS3R,” kata Jajuk saat dikonfirmasi TuguJatim.id, Senin (13/07/2026).
Sebenarnya, DLH telah mengantisipasi lonjakan sampah dengan menyediakan fasilitas penampungan di sekitar area bazar. Sedikitnya ada 30 hingga 40 unit dropbox sampah yang disebar di berbagai titik strategis.
Namun, fasilitas tersebut dinilai belum efektif dalam menjaga kebersihan lokasi. Jajuk menyayangkan masih banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan di area terbuka alun-alun.
“Padahal sudah kami berikan sarana prasarana berupa dropbox sekitar 30 sampai 40 unit, tapi tetap saja tercecer. Kalau saya lihat memang masih banyak yang tercecer di alun-alun,” imbuhnya.
Alur Distribusi Sampah dan Bayang-Bayang Overload TPA
Setelah melalui proses pemilahan awal, seluruh sampah dari alun-alun tersebut selanjutnya akan diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngegong.
Di TPA Ngegong, pengolahan limbah tidak langsung ditumpuk begitu saja. Pihak DLH akan melakukan proses pemilahan lanjutan dengan melibatkan para pengirit atau pengurus dari bank sampah setempat.
“Kalau plastik-plastik kan nanti dipilah, kadang juga diambil oleh pengirit-pengirit, bank sampah, kemudian nanti tetap di TPA,” tuturnya.
Namun, penambahan volume limbah dari event besar ini kian memperpanjang beban daerah. Pasalnya, total produksi sampah harian di Kota Blitar saat ini sudah tergolong tinggi, yakni menyentuh angka 68 ton per hari.
Baca Juga: Tren Junk Journal Kian Populer, Ubah Barang Bekas Bantu Kurangi Stres dan Sampah Digemari Anak Muda
Akibat tingginya produksi harian tersebut, TPA Ngegong kini berada dalam kondisi kritis. Fasilitas pembuangan utama milik kota ini diprediksi akan mengalami kelebihan kapasitas (overload) dalam waktu dua tahun ke depan, tepatnya pada 2028.
Menyikapi ancaman tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dalam waktu dekat berencana melakukan perluasan lahan TPA sebesar 1 hektare. Upaya perluasan ini sekarang sedang dalam tahap penyelesaian administrasi dan pembebasan tanah di sekitar area lokasi TPA.
“Kalau untuk perluasan lahan TPA itu, saat ini posisinya masih dalam proses,” jelas Jajuk mengenai perkembangan pembebasan lahan tersebut.
DLH mengimbau masyarakat lebih bijak meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai. Menurut dia, urusan kebersihan kota adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan pengelolaan sampah secara mandiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Luki Azhari
Editor: Dwi Lindawati








