MADURA, Tugujatim.id – Indonesia ternyata menyimpan kekayaan genetik ternak yang unik di dunia. Penelitian terbaru mengungkap bahwa sejumlah sapi Madura lokal Indonesia memiliki jejak DNA banteng liar dalam tubuhnya.
Dari seluruh rumpun sapi yang diteliti, sapi Madura tercatat sebagai jenis dengan proporsi gen banteng paling tinggi dibanding sapi domestik lain di dunia. Temuan tersebut berasal dari riset kolaborasi peneliti University of Copenhagen, Denmark dan IPB University yang menelusuri lebih dari 100 genom sapi lokal Indonesia.
Penelitian itu sekaligus membuka fakta baru tentang sejarah panjang domestikasi sapi di Nusantara yang selama ini belum banyak terungkap.
Baca Juga: Sapi Kurban Presiden Prabowo untuk Kota Blitar Berbobot 1,08 Ton, Terpaksa Indent dari Kediri
Di dunia, sapi domestik umumnya terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni sapi taurus dan sapi zebu. Sapi taurus banyak dikembangkan di wilayah beriklim sedang karena produktivitas susu dan dagingnya tinggi. Sementara sapi zebu dikenal lebih tahan hidup di daerah tropis dengan kondisi pakan terbatas.
Peneliti menemukan bahwa sapi zebu yang masuk ke Indonesia ribuan tahun lalu tidak datang langsung dari India, melainkan melalui jalur perdagangan Asia Tenggara. Setelah tiba di Nusantara, sapi tersebut kemudian kawin silang secara alami dengan banteng lokal yang telah didomestikasi.
Asal Usul Sapi Madura

Dari proses persilangan inilah lahir berbagai rumpun sapi lokal Indonesia, termasuk sapi Madura. Perkawinan silang antara sapi zebu dan banteng diperkirakan terjadi sejak sekitar abad ke-7 atau lebih dari 1.300 tahun lalu.
Sapi Madura diyakini berkembang kuat di Pulau Madura dan wilayah tapal kuda Jawa Timur. Dalam sejarah masyarakat Madura, sapi bukan hanya sekadar ternak, tetapi juga bagian dari budaya dan simbol sosial masyarakat setempat.
Tradisi karapan sapi hingga sapi sonok menjadi bukti eratnya hubungan masyarakat Madura dengan ternak tersebut. Secara fisik, sapi Madura memiliki warna tubuh merah bata hingga cokelat kekuningan dengan bagian kaki bawah dan pantat berwarna putih.
Tubuhnya relatif kecil dibanding sapi impor seperti limousin atau simental, namun terkenal tahan panas, kuat terhadap kondisi lingkungan ekstrem, serta mampu bertahan dengan pakan sederhana.
Keunggulan adaptasi tersebut membuat sapi ini banyak dipelihara peternak rakyat. Selain tahan penyakit dan mudah berkembang biak, biaya pemeliharaannya juga relatif lebih rendah dibanding sapi impor.
DNA Banteng Liar pada Sapi Madura
Penelitian terbaru menunjukkan sapi Madura memiliki sekitar 36 persen genetik banteng liar, tertinggi di antara sapi domestik lainnya. Besarnya proporsi DNA banteng itu diduga dipengaruhi populasi banteng yang dahulu cukup besar di Pulau Madura sehingga peluang kawin silang berlangsung lebih tinggi.
Keunikan tersebut membuat sapi ini memiliki keragaman genetik luar biasa. Peneliti bahkan menemukan lebih dari 3,5 juta variasi genetik baru yang belum pernah ditemukan pada sapi lain di dunia.
Keragaman genetik ini diperkirakan menjadi salah satu faktor yang membuat sapi lokal Indonesia lebih tangguh menghadapi panas ekstrem, serangan penyakit, hingga tekanan lingkungan. Sejumlah penelitian juga menunjukkan sapi lokal yang memiliki jejak gen banteng cenderung mempunyai sistem kekebalan tubuh lebih baik.
Tak hanya itu, genetik sapi liar juga dinilai berpotensi menghasilkan ternak dengan emisi gas rumah kaca lebih rendah. Temuan tersebut membuka peluang pengembangan sapi lokal Indonesia menjadi ternak masa depan yang adaptif sekaligus ramah lingkungan.
Ancaman Kepunahan dan Upaya Pelestarian Sapi Madura
Kalangan akademisi menilai sapi Madura memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai salah satu plasma nutfah unggulan Indonesia. Namun di sisi lain, keberadaan sapi lokal tersebut juga dinilai rawan mengalami penurunan kualitas genetik hingga ancaman kepunahan.
Baca Juga: Tujuh Rekomendasi Alternatif Susu Sapi untuk Lactose Intolerant!
Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof Dr Ir Hartutik MP menyebut sapi Madura memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari daya tahan tinggi terhadap penyakit dan stres lingkungan hingga kemampuan bertahan dengan pakan berkualitas rendah.
Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan penurunan mutu genetik dan populasi sapi lokal Indonesia. Persilangan dengan sapi impor dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat mengikis kemurnian plasma nutfah sapi Madura.
Karena itu, pengembangan peternakan sapi Madura dinilai perlu dilakukan dengan tetap menjaga karakter asli dan identitas genetiknya sebagai aset ternak lokal Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Imron Fauzi
Editor: Dwi Lindawati








