• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
NU

Penulis Abdur Rahim (Foto : dok)

Tak Perlu Silau: Seni Ber-NU ala Mbah Muchit Muzadi

Mochamad Abdurrochim by Mochamad Abdurrochim
16 hours ago
in Catatan
0
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh: Abdur Rahim*

Tugujatim.id – Ada sebuah gejala psikologis yang belakangan ini kerap menjangkiti sebagian kader Nahdlatul Ulama (NU). Di tengah percaturan modernitas dan globalisasi, tidak sedikit warga, tak terkecuali fungsionaris struktural, mendadak diserang rasa minder atau inferior. Mereka memandang ke luar, lalu terpukau oleh ormas lain yang tampak begitu rapi secara administratif, disiplin secara manajerial, atau begitu heroik dan progresif dalam narasi gerakan.

Dari rasa silau itulah lahir hobi baru: membanding-bandingkan NU dengan organisasi tetangga, yang ujung-ujungnya bermuara pada keluhan, keputusasaan, atau pemaksaan kehendak agar NU mengubah wajahnya secara radikal demi meniru standar orang lain.

You might also like

MBG

MBG dan Ironi Negeri : Anak Dikasih Makan, Uang Rakyat Dimakan

16/06/2026 9:43 AM
NU.

Suket Teki, Gus Yahya, dan Tantangan Governing NU

06/06/2026 4:45 PM

Keresahan ini sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum hiruk-pikuk media sosial memperparah penyakit inferioritas ini, almaghfurlah KH A Muchit Muzadi telah meletakkan sebuah kompas moral yang jernih. Kakak kandung KH A Hasyim Muzadi ini adalah saksi hidup sekaligus “kamus berjalan” sejarah NU. Pandangan-pandangannya yang lurus, jernih, dan lepas dari syahwat politik praktis selalu berhasil menjadi oase bagi saya. Dua untaian dawuh beliau yang sangat masyhur kini mendadak menjadi sangat kontekstual untuk kita renungkan kembali.

Pertama, sebuah peringatan keras yang halus bagi siapa saja yang ingin menyentuh tubuh NU. “Jangan mengajari NU sebelum mempelajari NU, apa yang terjadi sekarang adalah akibat orang mengajari NU tapi belum mempelajari NU.” Jika kita bedah secara reflektif, dawuh ini menembak tepat ke jantung masalah yang hari ini kita sebut sebagai fenomena NU Diaspora. Hari ini, pintu gerbang struktural NU begitu terbuka lebar.

Baca Juga : Suket Teki, Gus Yahya, dan Tantangan Governing NU

Kedekatan politik, popularitas finansial, atau jabatan di ranah publik sering kali menjadi karpet merah bagi seseorang untuk langsung menduduki posisi strategis di kepengurusan jam’iyyah. Lahirlah istilah “mendadak NU”, “tiba-tiba NU”, atau “tiba-tiba pengurus NU”. Mereka masuk ke NU dengan membawa “bagasi” isi kepala dari luar: logika korporat murni, nalar LSM yang konfrontatif, atau cara pandang “ormas seberang” yang kaku.

Menurut saya, akibatnya cukup fatal. Karena belum selesai mempelajari NU, mereka datang dengan niat baik untuk “ndandani” NU, mengajari NU. Mereka heran mengapa rapat-rapat NU sering kali molor, mengapa keputusan penting kadang selesai di meja kopi atau serambi pesantren secara informal, dan mengapa ketaatan kepada kiai sepuh melampaui ketaatan pada diktum anggaran rumah tangga. Karena tidak memahami sub-culture, tradisi, dan manhaj berpikir Ahlussunnah wal Jama’ah yang lentur, mereka terjebak pada kejengkelan.

Mereka ingin mengoperasi tubuh NU agar mirip dengan ormas lain, tanpa sadar bahwa tindakan tersebut justru mencabut NU dari akar kultural dan spiritualnya. Padahal di situlah, di kedalaman akar yang sering dikira kelemahan itu, justru terletak kekuatan terbesar NU.

Di sinilah kita perlu membuka lembaran dawuh kedua Mbah Muchit yang menggetarkan jiwa: “NU itu rumahku. Meskipun bocor saya tetap krasan. Tapi sebagus-bagusnya hotel, saya gak krasan karena bukan rumahku.”

Perumpamaan rumah dan hotel ini adalah puncak dari kematangan spiritual dan mental dalam berorganisasi. Mbah Muchit tidak menutup mata bahwa NU memiliki banyak kekurangan. “Bocor” dalam analogi beliau bisa berarti banyak kekurangan, semisal manajemen keuangan yang belum akuntabel di tingkat bawah, koordinasi antar-lembaga yang sering tumpang tindih, penataan aset yang belum maksimal, hingga riuh rendahnya konflik internal menjelang muktamar. Begitulah, NU memang jauh dari kata sempurna jika diukur dengan meteran modernisme yang serba mekanis.

Namun, seburuk-buruknya rumah sendiri, ia tetaplah rumah. Di sana ada kehangatan, ada ikatan batin, ada sanad keilmuan yang tersambung dari ulama ke ulama hingga ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada barakah para pendiri yang tidak bisa dibeli dengan sistem manajemen secanggih apa pun. Sebaliknya, ormas lain yang tampak begitu megah, tertib, dan kaya raya dengan aset yang tersebar di berbagai wilayah, diibaratkan sebagai hotel bintang lima.

Sangat nyaman, kamarnya bersih, fasilitasnya lengkap, dan pelayanannya profesional. Kita boleh mengagumi kemegahannya sebagai tamu. Namun, sekaya apa pun kita membayar kamar hotel, kita tidak akan pernah memiliki hak milik atas bangunan tersebut. Kita tidak akan pernah merasa krasan (betah) secara eksistensial, karena di sana tidak ada ruh, tidak ada sejarah spiritualitas yang mengikat jiwa kita.

Rasa inferior yang lahir dari membanding-bandingkan NU dengan ormas lain, menurut saya justru menjadi beban yang paling berat dalam perjalanan khidmah kita. Memaksa NU menjadi seperti ormas lain sama saja dengan memaksa sebuah rumah tinggal yang hangat untuk dirombak total menjadi lobi hotel yang dingin dan kaku, dan bukan milik sendiri.

Lantas, bagaimana fungsionaris dan kader NU masa kini harus bersikap? Jalan keluarnya adalah kembali ke ruhul jihad serta khittah kesadaran yang diajarkan Mbah Muchit. Kita harus kembali belajar. Bukan sekadar membaca buku sejarah berdiri tahun 1926. Jauh lebih mendalam dengan menyelami bagaimana para kiai terdahulu merawat jamaah di tengah tekanan zaman yang tidak kalah beratnya.

Ingat bagaimana NU bertahan dari gempuran Orde Baru justru bukan dengan kekakuan struktural, melainkan dengan kelenturan kultural dan kepercayaan jamaah yang dibangun perlahan dari pesantren ke pesantren. Ber-NU itu seni mengelola kelonggaran, seni merajut keragaman, dan yang paling utama: seni menjaga keikhlasan.

Sebagai fungsionaris, tugas kita bukanlah mengeluh di media sosial tentang betapa bocornya atap rumah bernama NU ini, atau sibuk memuji-muji genteng rumah tetangga yang kokoh. Jika atap rumah kita bocor, tugas logis seorang anak adalah mengambil tangga, membawa semen, lalu menambalnya secara perlahan dengan penuh adab. Memperbaiki manajerial organisasi itu wajib, meningkatkan kemandirian ekonomi itu mutlak, namun semua itu harus dilakukan dengan local wisdom dan ruh kepesantrenan. Kita memperbaiki fasilitas rumah agar penghuninya semakin nyaman, bukan merobohkan rumahnya untuk dibangun sebuah hotel megah milik orang.

Kesetiaan kepada NU pada akhirnya adalah kesetiaan yang melampaui sekat-sekat struktural. Jabatan sebagai fungsionaris akan ada masanya selesai, namun status sebagai batih atau anggota keluarga dalam rumah besar NU bersifat abadi. Ketika kita mampu menatap NU dengan kacamata cinta yang jernih seperti Mbah Muchit, maka segala dinamika dan “kebocoran” di dalamnya tidak akan membuat kita berpaling. Kita akan tetap krasan bersimpuh di dalamnya, sembari terus berbenah. Sebab kita tahu persis, rumah yang bocor bisa ditambal, tapi ruh yang sudah tercabut dari akarnya susah dikembalikan. Wallahu a’lam.

*Warga NU; tinggal di Desa Simo, Kabupaten Tuban.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Editor: Mochamad Abdurrochim

Tags: Berita Nahdlatul UlamaKH A Muchit MuzadiNahdlatul UlamaNU
Mochamad Abdurrochim

Mochamad Abdurrochim

Related Stories

MBG

MBG dan Ironi Negeri : Anak Dikasih Makan, Uang Rakyat Dimakan

by Mochamad Abdurrochim
16/06/2026 9:43 AM
0

Tugujatim.id - Artikel MBG dan Ironi Negeri : Anak Dikasih Makan, Uang Rakyat Dimakan Oleh Muhamad Ulil Arham, Founder Omah...

NU.

Suket Teki, Gus Yahya, dan Tantangan Governing NU

by Dwi Linda
06/06/2026 4:45 PM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - KH A Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1999-2010 pernah melontarkan...

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

by Dwi Linda
30/05/2026 8:27 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Kepemimpinan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Ketegangan...

Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

by Mochamad Abdurrochim
03/05/2026 7:42 PM
0

JAKARTA, Tugujatim.id – Tasyakuran 50 tahun pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain berlangsung penuh kesan, syukur, dan inspirasi di Hotel...

Next Post
Gus Fawait

Gus Fawait Siapkan Layanan PMI Terpadu di Jember, CPMI Tak Perlu Lagi ke Surabaya

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID