“Ada banyak pahlawan dalam kamus hidup Silvia Putri Cahyani, pelajar 14 tahun di Kota Batu, Jawa Timur. Paman dan bibinya, gurunya, Pemkot Batu, hingga Sekolah Rakyat yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto. Dari bangku Sekolah Rakyat, Silvia dan mereka yang disebut “The Invisible People” menolak padam. Mimpi itu masih ada dan harus diwujudkan.”
BATU, Tugujatim.id – Silvia Putri Cahyani adalah satu dari banyak anak di Indonesia yang beruntung tahun ini. Binar semangat di bola matanya kembali menyala saat Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto berkunjung ke rumahnya setahun lalu, tepatnya pada 14 Juni 2025. Dia senang bukan main begitu mendapat kabar bisa melanjutkan sekolah lagi.
“Iya, saya serius mau sekolah sampai tinggi, Pak Heli. Saya mau jadi polwan,” ujarnya yakin namun malu-malu pada orang nomor dua di Kota Batu itu.
Sebelumnya, benak Silvia seolah digelayuti rasa bersalah setiap hari. Dia tak lagi ceria dan percaya diri, terlebih saat ibunya meninggal dunia. Sejak itu pula, ayahnya menghilang tanpa kabar. Silvia bersama 2 saudara kandungnya dititipkan pada sang nenek yang sudah tua dan sakit-sakitan di Palembang.
Baca Juga: Open House Sekolah Rakyat Kediri, Bupati Hanindhito Motivasi Siswa Berani Bermimpi Besar
Dalam situasi itu, keceriaannya mulai meluntur. Dia banyak berdiam diri, menghindar. Namun dari hati terdalamnya, semangat bersekolah dan mewujudkan mimpinya tak pernah padam. Tahu akan hal ini, sang bibi, Rumsi, 47, tidak tega melihat keponakannya terlantar.
Dia memutuskan mengajak Silvia tinggal bersamanya di Kota Batu. Meski penghasilannya sebagai buruh tani bersama suami pas-pasan, Rumsi tetap nekat menyekolahkan Silvia. Dia saja tinggal menumpang di tanah orang lain. Tinggal di rumah bedeng, beratap seng, bertembok kayu, dan beralaskan tanah.
Saat itu, Rumsi membawa Silvia saat masih kelas 4 SD. Hingga kemudian dunia Silvia kembali suram. Ketika lulus SD, kendala administrasi kependudukan membuat ijazah Silvia tak bisa diterbitkan.

Belakangan diketahui, selama ini Silvia tak punya identitas kependudukan sama sekali. Akta kelahiran saja tidak punya, apalagi kartu keluarga (KK). Sang ayah, tidak bisa dihubungi lagi. Menghilang. Silvia sendiri, kisah Rumsi, bahkan sampai merajuk minta dipulangkan saja ke Palembang daripada merepotkan.
“Waktu dia ngomong gitu, hati saya makin gak karuan. Saya sendiri juga sudah bingung, gak tega. Akhirnya saya meniatkan diri. Nawaitu. Pokoknya saya usahakan dia biar tetap bisa sekolah,” kisah Rumsi pada Tugujatim.id.
Tak patah arang, berbagai cara dilakukan Rumsi dan para gurunya. Bagaimana pun caranya bocah kecil dengan sejuta mimpi ini bisa tetap lanjut sekolah. Hingga memang usaha keras tak pernah berkhianat. Kabar itu sampai ke telinga wawali Kota Batu.

“Begitu saya dengar laporan itu, hati saya langsung trenyuh. Saya langsung koordinasi dengan dinsos hingga disdukcapil agar segera ada diskresi khusus buat Silvia. Apalagi waktu saya ketemu langsung sama Silvia, antusias bersekolahnya sangat tinggi,” kata Heli.
Beruntung pula, Pemerintah Kota Batu waktu itu juga mulai membuka kuota Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14. Heli merekomendasikannya untuk lanjut sekolah di sana. Silvia akhirnya resmi menjadi siswi Sekolah Rakyat di tahun ajaran 2025/2026.
Sekolah Rakyat, Juru Selamat
Silvia hanya satu contoh. Sebenarnya, Silvia adalah puncak gunung es dari kemiskinan struktural. Kondisi di mana individu terjebak dalam kemiskinan akibat sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil. Ada ribuan warga miskin pinggiran yang “tak terlihat’ oleh sistem.
Sekolah Rakyat tidak dibangun untuk anak-anak yang sudah punya akses. Dia dibangun untuk mereka yang selama ini nyaris tak terdengar suaranya, tak pernah punya peluang. Anak-anak yang lahir di lingkungan keluarga rentan. The Invisible People.

Data dihimpun Kementerian Sosial RI menunjukkan 60 persen orang tua mendominasi pekerjaan di sektor informal dan 67 persen penghasilan keluarga berada di bawah Rp1.000.000 per bulan. Kondisi itu melahirkan 4,16 juta anak putus sekolah dan bahkan ada yang belum pernah mengenyam pendidikan.
Di lapangan, realita kehidupan generasi penerus bangsa yang tak beruntung ini lebih memilukan. Banyak anak lahir dari keluarga tunggal, mengalami kekerasan, bahkan di titik ekstrem; ditelantarkan. Silvia adalah satu dari sekian banyak anak yang menjadi korban sistem yang tak adil tersebut.
Trilogi SR: Dimuliakan, Dijangkau, dan Dimungkinkan

Berkat intervensi Kementerian Sosial RI melalui program Sekolah Rakyat, Silvia dan jutaan The Invisible People lainnya bisa kembali mengangkat kepalanya tegak menatap masa depan. Pemandangan seperti ini tidak akan terjadi tanpa pijakan visi misi pendidikan inklusif yang digagas Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang mencakup tiga pilar utama.
Tiga pilar ini disebut sebagai Trilogi Sekolah Rakyat, yakni dimuliakan, dijangkau, dan dimungkinkan. Kepala Sekolah SRMP 14 Batu Yuliana menjelaskan, pilar pertama adalah mengupayakan hak dasar anak mendapatkan hak pendidikan berkualitas dan kasih sayang.
Yuliana menyebut, pemulihan identitas hukum (akta & KK) seperti dialami Silvia oleh pemkot dan Sekolah Rakyat adalah bentuk nyata dari memanusiakan atau memuliakan anak yang sempat “hilang” dari sistem negara. Tak hanya itu, sistem pendidikan juga dirancang berkelanjutan sebagai jalan keluar dari kemiskinan.
“Semua fasilitas pendidikan di SR gratis. Selain metode kurikulum standar, kami juga ada tambahan kurikulum boarding school yang menekankan pendidikan karakter. Dan tidak lupa, basic metode kami yang utama adalah kasih sayang. Ini yang kami sebut memuliakan,” jelasnya.
Pilar kedua, proses penjaringan siswa dilakukan secara langsung berdasarkan data pemerintah yang menyasar DTKS Desil 1 dan 2. Di Kota Batu sendiri, di SRMP 14, sebanyak 148 anak berhasil dijangkau menjadi angkatan pertama.
Tak hanya dari Kota Batu, mereka juga dijangkau dari daerah tetangga seperti Kabupaten Malang, Jombang, hingga Kediri. Semua berasal dari keluarga rentan. Tak berhenti di situ, pemangku daerah juga menyasar penerima manfaat berdasarkan dari hasil penyisiran lapangan. Dari mulut ke mulut. Silvia adalah contohnya.
“Silvia ini awalnya tidak terlihat, karena ada masalah identitas kependudukan itu tadi. Untung ada Pak Wawali yang gercep merespons laporan dari para guru dan bibinya. Ada juga anak-anak lain yang selama ini tinggal di kebun hutan, akhirnya bisa dijangkau bersekolah di sini,” ungkapnya.
Lalu pilar ketiga, lebih pada memberikan peluang dan kemungkinan masa depan dari yang semula tidak mungkin. Dalam hal ini, pemerintah berupaya menghadirkan akses dan dukungan, termasuk memberikan fasilitas pendukung seperti makan bergizi, pelatihan soft skill dan karakter kemandirian yang berguna di masa depan.
“Bagaimana kami semaksimal mungkin memberikan pola pendidikan dan perhatian khusus agar mereka tidak lagi terjebak dalam jurang kemiskinan. Ini yang kami sebut memungkinkan dari yang awalnya tidak mungkin,” ujarnya.
Semula Murung, Senyum Silvia Mulai Melengkung
Setahun mengenyam pendidikan di SRMP 14 Kota Batu, Silvia kini tak lagi merasa dunia tidak pernah berpihak pada dirinya. Senyum, keceriaan, dan wajah penuh harapan mulai terpancar di wajahnya sehari-hari. Dia bukan lagi anak yang “tak terlihat” seperti dulu.
Yuliana mengakui ada banyak perubahan signifikan dalam keseharian Silvia. Dia bercerita di awal-awal masa sekolah, Silvia merupakan murid paling pendiam dan pemalu dibanding siswa lainnya. Seolah rasa percaya dirinya tenggelam di dasar laut paling dalam.
Lambat laun, perilaku Silvia mulai berbalik 180 derajat. Dia tumbuh menjadi anak yang aktif, riang, dan mulai bersosialisasi dengan sekitar. Bahkan, Silvia kini sudah tercatat menjadi pemain inti di klub ekstrakurikuler (ekskul) futsal dan bola voli. Dia juga menjadi pemain inti di ekskul khusus permainan tradisional egrang.
“Di SRMP 14, hanya ada 8 orang yang bisa main egrang. Salah satunya ialah Silvia. Rupa-rupanya memang bakat dan minat Silvia memang lebih pada bidang non-akademik. Artinya, metode pendidikan kami berhasil. Awalnya dia itu murung, pendiam, dan pemalu sekali lho,” ujarnya terharu.
Wawali Kota Batu Heli Suyanto juga mengaku terharu melihat perkembangan Silvia. Dia juga dengar kabar dari bibi dan pamannya, bahwa Silvia sudah menjadi sosok yang periang ketika pulang ke rumah. Bahkan, dia selalu aktif membantu pekerjaan bibinya di rumah.

“Cerita bibinya, Silvia sudah pintar dan aktif. Mulai sering cerita-cerita di sekolahnya. Lalu di rumah itu kan bibinya juga ada usaha mengupas kentang, nah Silvia itu selalu aktif membantu. Saya jadi terharu sekaligus bangga,” ujarnya.
Perubahan positif seperti terjadi pada Silvia menjadi kabar baik yang dinantikan semua pihak. Heli sendiri menyaksikan berbagai kegiatan penguatan karakter dan keterampilan yang mendukung proses tumbuh kembang anak didik di SR.
Menurut Heli, konsep pendidikan yang diterapkan di SRMP 14 tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, kemandirian, bahkan soft skill khusus sebagai bekal menghadapi masa depan. Seperti latihan baris-berbaris, permainan tradisional egrang, seni budaya bantengan, kaligrafi, membatik, hingga budi daya tanaman pangan.
“Sekolah Rakyat menjadi salah satu solusi untuk memastikan anak-anak keluarga tidak mampu dan rentan mendapatkan hak pendidikan yang layak. Ini menjadi komitmen kami untuk mendukung cita-cita bersama: memutus mata rantai kemiskinan,” tekad Heli.
Komitmen memutus mata rantai kemiskinan seperti dilakukan di SRMP 14 dan Pemkot Batu mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai. Dia sepakat bahwa investasi terbaik dalam pengentasan kemiskinan adalah investasi sumber daya manusia.
“Ketika kita memberi ruang bagi ‘Invisible People’ untuk mengecap pendidikan yang layak, kita sedang menyalakan lilin harapan di tengah kegelapan. Lewat Sekolah Rakyat, kita semua harus memastikan mereka bukan lagi kelompok yang terpinggirkan,” imbuhnya.
Terima Kasih Pahlawanku
Langkah setapak demi setapak Silvia kini menjadi lebih ringan. Di benaknya, mimpi menjadi polwan dan atlet bukan lagi seperti mimpi di siang bolong. Dia menuturkan banyak terima kasih kepada bibi dan pamannya, guru-guru di SDN Tulungrejo 03, wawali Kota Batu, dan semua keluarga besar Sekolah Rakyat. Bagi dia, mereka semua adalah pahlawan.
“Saya gak tahu apa masih bisa sekolah dan jadi polwan kalau gak sekolah. Saya terima kasih banget sama bibi, guru-guru, sama Pak Heli. Kalau gak ada mereka, mungkin saya gak bisa lanjut sekolah,” ujar Silvia.
Baca Juga: 2 Sekolah Rakyat Permanen di Pasuruan Siap Dibuka Juli 2026, Fasilitas Lengkap dan Ramah Disabilitas
Kepada Tugujatim.id, dia menceritakan kegiatannya di SRMP 14 menjadi pengalaman tak terlupakan. Pilihan kegiatan yang banyak, guru-guru yang seru dan penuh kasih sayang, hingga teman-teman yang asyik. Saking bahagianya, dia sampai mengikuti 4 ekskul sekaligus. Mulai futsal, egrang, bola voli, hingga bahasa Inggris.
“Saya suka banget olahraga. Makanya cita-cita saya kalau gak jadi polisi, ya atlet. Doakan tercapai, Mas,” katanya malu-malu.
Dulu, Silvia nyaris tak terlihat di balik kabut tebal kemiskinan. Namun kini, senyum ceria kembali menghiasi wajahnya. Memancarkan nyala lentera mimpi yang sempat redup. Sebuah semangat baru, menyongsong masa depan. Dari bangku duduk dia sekarang; di Sekolah Rakyat, Silvia dan jutaan The Invisible People lainnya— Menolak Padam!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writter: M. Ulul Azmy
Editor: Dwi Lindawati








