• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Blitar

Uswatun (kanan) bersama Anisa (kiri) dan anak keduanya di sela-sela kunjungan tim pendamping PKH di Kota Blitar. (Foto : M. Luki Azhari / Tugu Jatim)

Kisah Anak Buruh Setrika di Kota Blitar Menjemput Asa Lewat Sekolah Rakyat

Mochamad Abdurrochim by Mochamad Abdurrochim
2 hours ago
in Education, Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter
“Sedih rasanya melihat teman-teman lain berseragam. Tapi saya harus sabar, menepi dulu demi bantu orang tua. Saya jualan es teh. Namun dalam hati, saya masih sangat ingin jadi guru,” ujar Anita Nur Laili (16), anak buruh tani asal Sananwetan, Kota Blitar. 

 

KOTA BLITAR, Tugujatim.id – Langkah kaki harus melewati gang sempit untuk mencapai hunian sederhana di kawasan RT 02/RW 13 Jalan Jawa, Kelurahan/Kecamatan Sananwetan. Di ruang tamu yang tak terlalu luas, sebuah stiker bertulis “keluarga kurang mampu penerima Bantuan Sosial (Bansos) Beras Sejahtera Daerah (Rastrada)” menempel pasrah di dinding pintu masuk. Di sudut meja ruang tamu, lipatan baju-baju pelanggan tampak tersusun rapi, saksi keringat sang ibu yang bertahan hidup sebagai buruh setrika kiloan.

You might also like

Sekolah Rakyat.

Menolak Padam, Asa Baru Silvia dan “The Invisible People” dari Bangku Sekolah Rakyat

26/06/2026 5:47 PM
Bupati Sidoarjo.

Terharu! Bocah Usia 7 Tahun Luka Bakar 46 Persen, Bupati Sidoarjo Subandi Siapkan Pengobatan hingga Pekerjaan untuk sang Ayah

16/06/2026 9:24 PM

Di rumah sederhana inilah, Anita Nur Laili tinggal. Setahun terakhir, lulusan SMPN 8 Kota Blitar tahun 2025 ini, terpaksa melipat rapat impiannya mengenakan seragam putih abu-abu. Demi membantu ekonomi keluarga, ia harus berdiri berjam-jam menjaga stan es teh di dekat Taman Kebon Rojo dengan upah Rp800 ribu per bulan yang seluruhnya diserahkan kepada orang tua.

Blitar
Tampak depan hunian Uswatun di Kota Blitar. Di rumah sederhana inilah, aktivitas sebagai buruh setrika dijalani demi menopang ekonomi keluarga dan membiayai impian anak-anak mereka. (Foto: M. Luki Azhari / Tugu Jatim)

Namun, asa itu kembali menyala setelah para tetangga memberikan informasi mengenai kehadiran program Sekolah Rakyat. Anita menceritakan beratnya keputusan menunda sekolah akibat himpitan ekonomi.

“Sempat berhenti sekolah belum lanjut ke SMA karena terbentur ekonomi keluarga. Sedih, tapi tetap sabar, semoga tahun depan bisa melanjutkan kalau ada rezeki. Alhamdulillah, sekarang ada Sekolah Rakyat,” ujarnya lirih saat ditemui pewarta TuguJatim.id di rumahnya, Jumat (26/06/2026).

Ambisinya kembali membara ketika tahu, seluruh biaya ditanggung penuh oleh pemerintah. Bekal awal yang dipupuk Anita sejak kecil adalah terbiasa berlatih hidup disiplin. Dia juga mengaku mantap melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat, lantaran banyak fasilitasi bantuan pemerintah yang akan membantu menopang hidup orang tuanya.

“Karena tentunya gratis, selain itu orang tua nantinya juga masih akan dapat bantuan. Alhamdulillah, saya terbiasa berusaha disiplin, dengan bangun pagi, ibadah, hingga bantu-bantu ibu,” kata Anita menambahkan.

Ratapan Pilu Buruh Setrika: Saat Kemiskinan Nyaris Memupus Impian Anak

Persis di sebelah Anita, sang ibu, Uswatun Chasanah tak dapat menyembunyikan rasa harunya. Sebagai buruh setrika kiloan sejak Anita masih TK. Pendapatannya tidak menentu dan hanya berkisar Rp2.500 per kilogram. Jika beruntung, ia paling banyak membawa pulang Rp50 ribu sehari yang harus dicukup-cukupkan untuk menghidupi keluarga, sementara suaminya hanya bekerja menggarap sawah milik orang lain.

Ibu tiga anak ini kemudian mengenang momen memilukan saat harus meminta Anita berlapang dada menunda sekolah.

Blitar
Anita saat bersalaman dengan petugas pendamping PKH di kediamannya usai sosialisasi penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat di Kota Blitar, Jumat (26/6/2026). (Foto: M. Luki Azhari / Tugu Jatim)

“Sebagai ibu, rasanya trenyuh. Dulu memang pengen ke pondok atau sekolah swasta, tapi saya cari informasi memang butuh biaya banyak dan saya enggak mampu. Akhirnya saya tuturi, ‘Tahun depan kalau ada rezeki, sekolah ya’,” kenang Uswatun dengan mata berkaca-kaca.

Kini, air mata perempuan 40 tahun itu berubah menjadi rasa syukur yang mendalam setelah mengetahui anaknya bisa melanjutkan pendidikan secara gratis.

“Dengan Sekolah Rakyat ini saya sangat-sangat terbantu sekali, saya pengen pendidikan anak tetap lanjut. Saya benar-benar bersyukur, terlebih semuanya dikasih ke anak. Untuk anakku Anita, ndhuk mugo-mugo dadi anak sing kasil (semoga menjadi anak yang berhasil),” ucapnya penuh keharuan.

Bukan Sekolah Formal Biasa: Fasilitas Komplet, Bakat Anak Digali Total

Realitas di lapangan ini dikuatkan oleh ulasan dari Irma Ayu Widayanti, pendamping PKH Kecamatan Sananwetan. Irma membeberkan, seluruh kebutuhan hidup anak selama berada di asrama akan dicukupi secara total tanpa dipungut biaya sepeser pun. Dia merinci berbagai fasilitas lengkap yang siap diterima oleh para siswa, termasuk Anita.

Blitar
Petugas Program Keluarga Harapan (PKH) saat mendatangi kediaman keluarga Uswatun di Kota Blitar. Kunjungan ini dilakukan untuk memverifikasi data sekaligus memastikan penjangkauan Sekolah Rakyat, Jumat (26/6/2026). (Foto: M. Luki Azhari / Tugu Jatim)

“Fasilitas yang didapat anak paket seragam lengkap 6 macam, sepatu 3 pasang, tas, buku, laptop, hingga pakaian harian difasilitasi. Bahkan keperluan pribadi seperti sabun mandi, alat cuci, dan alat salat semua komplet,” papar Irma disambut senyum bahagia oleh Uswatun.

Ia juga menjelaskan, Sekolah Rakyat menggunakan pendekatan inklusi melalui pemetaan potensi genetik siswa demi menghindari tekanan belajar. Bahkan nantinya, Kementerian Sosial (Kemensos) dan TNI menyiapkan program pembentukan karakter bagi para siswa dengan melibatkan Taruna Akademi Militer (Akmil)

“Kita ada cek kesehatan dan cek DNA talent untuk melihat potensi anak di numerik atau linguistik agar diarahkan sesuai bakatnya. Pendidikan karakter yang dibentuk dan sangat mencegah bullying. Ketika anak fokus belajar di sekolah, keluarga di rumah juga diberi bantuan ekonomi atau rehab rumah,” jelasnya.

Misi Proaktif Presiden Prabowo Angkat Derajat “The Invisible People”

Intervensi menyeluruh yang dirasakan oleh keluarga wong cilik ini merupakan ejawantah dari program yang digagas langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Kepala Negara merintis program Sekolah Rakyat ini sebagai strategi mendasar dan gerakan proaktif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi, khususnya menyasar anak-anak dari keluarga sangat tidak mampu.

Blitar
Lanskap Sekolah Rakyat di Kota Blitar yang dipotret dari udara. Fasilitas pendidikan ini menjadi tumpuan dan jalan terang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memutus rantai kemiskinan. (Foto: Dinsos Kota Blitar)

Ide ini direalisasikan dalam bentuk sekolah berasrama (boarding school) yang menjamin pemenuhan hak pendidikan gratis secara total dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Inisiasi utama ini lahir dari komitmen kuat Presiden Prabowo untuk “memuliakan wong cilik” dan menjangkau anak-anak dari keluarga rentan yang selama ini kerap menjadi “The Invisible People“, kelompok yang tidak tersentuh oleh akses pendidikan berkualitas karena keterbatasan berlapis.

Akurasi Data Dinsos Kota Blitar, Sekolah Rakyat Jembatan Entaskan Kemiskinan

Di tingkat daerah, program ini diurai secara taktis oleh Dinas Sosial Kota Blitar. Kepala Dinas Sosial Kota Blitar, Eka Atikah menjabarkan bahwa proses penjangkauan dilakukan secara ketat berbasis data terpadu untuk menjaring anak-anak usia produktif yang putus sekolah.

Eka menguraikan hasil pemadanan data riil yang saat ini terus ditindaklanjuti oleh petugas di lapangan.

“Dari Kemensos semula ada data 6.303 anak di desil 1 dan 2. Setelah dilakukan pemadanan dengan dinas pendidikan, ketemu 1.700 anak usia 7-21 tahun yang sedang dijangkau oleh pendamping PKH,” beber Eka menunjuk data.

Ia menerangkan target operasional serta mekanisme pendekatan personal yang akan diterapkan di asrama. Sekolah Rakyat akan beroperasi pada Juli mendatang, tepat saat tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai.

“Target awal 270 anak di angkatan pertama. Di sana mereka dilatih disiplin sehari-hari dan membangun kepercayaan diri. Pendekatannya lebih personal, bakat minat digali, agar mereka nyaman dan mampu keluar dari lingkaran kemiskinan,” imbuh Eka.

Potret Kemiskinan di Bumi Bung Karno

Urgensi penjangkauan masif ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, jika menilik data profil kemiskinan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pada tahun 2025, angka kemiskinan nasional tercatat berada di level 8,47 persen, sementara Provinsi Jawa Timur berada di angka 9,5 persen.

Kota Blitar sendiri sebenarnya mencatat keberhasilan performa ekonomi dengan menekan angka kemiskinan di level 6,6 persen atau setara 9.690 jiwa. Angka ini mengalami penurunan positif dari tahun 2024 yang berada di angka 6,75 persen atau setara 9.860 jiwa.

Meskipun Kota Blitar berhasil mencatatkan persentase kemiskinan yang berada jauh di bawah rata-rata Jawa Timur dan nasional, potret angka 6,6 persen tersebut menegaskan realitas bahwa masih ada ribuan wong cilik di Bumi Bung Karno yang hidup di bawah garis kemiskinan, membuat anak-anak mereka rentan terbentur biaya dan terpaksa putus sekolah di tengah jalan jika tidak ada intervensi khusus dari pemerintah.

Ikhtiar Pemkot Blitar Memuliakan “Wong Cilik” Lewat Pendidikan

Merespons tantangan data tersebut, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menegaskan komitmen penuh jajaran pemerintah daerah untuk pasang badan menyukseskan program jaring pengaman ini. Wali Kota yang akrab disapa Mas Ibin ini menilai Sekolah Rakyat sebagai wujud nyata pemenuhan hak layanan dasar anak.

Mas Ibin menekankan urgensi menjangkau masyarakat rentan agar tidak melewatkan peluang emas ini.

“Ini program luar biasa yang menyentuh langsung masyarakat miskin ekstrem agar putra-putrinya tetap wajib mengenyam pendidikan. Pendidikan adalah layanan dasar dan hak anak,” tegasnya usai meninjau pembangunan Sekolah Rakyat beberapa waktu lalu.

Ia menginstruksikan seluruh jajaran birokrasi daerah untuk bergerak agresif melakukan aksi jemput bola ke kelurahan, agar tak ada satu pun anak yang luput dari program strategis nasional (PSN) ini.

“Kami jemput bola langsung dengan kunjungan ke tiap kelurahan karena ini peluang bagi warga desil 1 and 2 yang harus dimanfaatkan. Sangat sayang jika dilewatkan karena sekolah ini gratis dengan fasilitas sangat lengkap, dan tidak hanya anaknya yang difasilitasi, tapi ekonomi keluarganya juga dibantu,” tutur Wali Kota Blitar penuh optimisme.

Sebagai salah satu strategi pendekatan, Mas Ibin akan mengajak orang tua calon siswa untuk mengunjungi lokasi sekolah. Upaya ini dilakukan agar mereka termotivasi dan yakin setelah melihat langsung kemegahan serta kelengkapan fasilitas yang disiapkan untuk anak-anak mereka.

Asa Baru “Wong Cilik” Mewujud Kokoh di Bumi Bung Karno

Komitmen besar dari pusat hingga daerah tersebut kini bukan lagi sekadar narasi di atas kertas, melainkan sudah mewujud nyata dalam rupa fisik bangunan di Kota Blitar. Saat ini, lokasi Sekolah Rakyat Kota Blitar yang bertempat di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, sedang berada dalam proses percepatan pembangunan yang masif.

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa di sejumlah titik bangunan sudah tampak memasuki tahap penyelesaian akhir. Bahkan, atmosfer institusi pendidikan berasrama yang megah sudah mulai terasa kuat seiring dengan telah tersedianya sejumlah bangku-bangku belajar yang tertata rapi di dalam bakal ruang kelas.

Gedung kokoh di Kelurahan Kauman inilah yang dalam hitungan minggu akan menjadi saksi sejarah perubahan hidup anak-anak wong cilik. Di ruang-ruang kelas baru itulah, asa Anita Nur Laili yang sempat mati selama setahun di tepi Taman Kebon Rojo akan kembali dirajut, mengubah langkah kaki seorang anak buruh setrika menjadi generator utama yang siap memutus rantai kemiskinan keluarganya demi masa depan yang jauh lebih baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer : M. Luki Azhari

Editor: Mochamad Abdurrochim

Tags: Berita KemensosBerita Kota BlitarBerita Kota Blitar hari iniKemensosKisah Anak Buruh Setrika di Kota Blitar Menjemput Asa Lewat Sekolah RakyatKota Blitar hari iniSekolah Rakyat
Mochamad Abdurrochim

Mochamad Abdurrochim

Related Stories

Sekolah Rakyat.

Menolak Padam, Asa Baru Silvia dan “The Invisible People” dari Bangku Sekolah Rakyat

by Dwi Linda
26/06/2026 5:47 PM
0

"Ada banyak pahlawan dalam kamus hidup Silvia Putri Cahyani, pelajar 14 tahun di Kota Batu, Jawa Timur. Paman dan bibinya,...

Bupati Sidoarjo.

Terharu! Bocah Usia 7 Tahun Luka Bakar 46 Persen, Bupati Sidoarjo Subandi Siapkan Pengobatan hingga Pekerjaan untuk sang Ayah

by Dwi Linda
16/06/2026 9:24 PM
0

SIDOARJO, Tugujatim.id – Bupati Sidoarjo H. Subandi menjenguk Izzan, 7, bocah yang mengalami luka bakar hingga 46 persen dan kini...

Energi masa depan

Kupas Energi Masa Depan, UM Datangkan Akademisi Malaysia

by Mochamad Abdurrochim
30/05/2026 8:37 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Energi masa depan menjadi fokus utama dalam kegiatan Guest Lecture yang digelar Departemen Fisika Universitas Negeri Malang...

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

by Mochamad Abdurrochim
29/05/2026 7:00 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kabupaten Malang ternyata tidak hanya dikenal lewat sektor pertanian hortikultura maupun wisata alam. Di balik hamparan kebun...

Next Post
Polrestabes Surabaya

Polrestabes Surabaya Amankan Belasan Orang, Usai Demo Ricuh di Gedung Negara Grahadi

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID