MALANG, Tugujatim.id – Pusat Gender dan Kependudukan (PGK) Universitas Negeri Malang (UM) menggelar workshop penguatan branding dan pemasaran bagi Komunitas Tunarungu Batik Toeli di Kampoeng Batik Laweyan, Surakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas melalui penguatan industri kreatif berbasis budaya.
Workshop bertajuk “Penguatan Branding dan Pemasaran Inklusif untuk Pemberdayaan Komunitas Tunarungu dan Perajin Batik Laweyan” berlangsung di Aula Mahkota Laweyan, Minggu (28/06/2026). Kegiatan merupakan hasil kolaborasi PGK UM dengan Batik Toeli Laweyan Surakarta yang tergabung dalam Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL).
Batik Toeli dikenal sebagai salah satu pelaku industri batik yang melibatkan komunitas tunarungu dalam berbagai proses, mulai dari produksi hingga pengembangan usaha. Inisiatif tersebut menjadi alasan PGK UM memilih Batik Toeli sebagai mitra dalam program tanggung jawab sosial (CSR) yang berfokus pada penguatan inklusi sosial dan kesetaraan kesempatan ekonomi bagi penyandang disabilitas.

Mengusung tema “Bersama Berkarya, Bersama Berdaya: Membangun Industri Kreatif Inklusif Berbasis Budaya melalui Penguatan Branding dan Pemasaran”, workshop diikuti sekitar 15 peserta yang terdiri atas anggota komunitas tunarungu Batik Toeli dan para perajin batik Laweyan.
Selama kegiatan, peserta memperoleh materi mengenai konsep branding, pembentukan identitas merek, hingga strategi pemasaran dan promosi produk berbasis budaya. Sesi diskusi dan tanya jawab juga menjadi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman sekaligus menyampaikan berbagai tantangan dalam mengembangkan usaha mereka.

Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga memahami pentingnya membangun identitas merek yang kuat agar mampu memperluas jangkauan pasar. Bagi komunitas Batik Toeli, workshop ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri dalam memasarkan karya sekaligus memperkuat posisi mereka sebagai bagian dari ekosistem industri kreatif di Kampoeng Batik Laweyan.

PGK UM menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas disabilitas, perajin, dan pelaku usaha menjadi langkah penting dalam menciptakan industri kreatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Ke depan, kerja sama serupa diharapkan tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi berkembang menjadi komitmen jangka panjang untuk mendukung pemberdayaan kelompok rentan.
Baca Juga: Darurat Kekerasan Seksual, UM Sosialisasikan Permen PPKS dan Dukung Pengesahan RUU PKS
Program ini juga mendukung pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kapasitas peserta, SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan usaha komunitas, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan dengan membuka akses yang setara bagi penyandang disabilitas, serta SDG 11 mengenai Kota dan Permukiman Berkelanjutan melalui penguatan kawasan budaya Kampoeng Batik Laweyan sebagai destinasi wisata yang inklusif.
Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi bersama dan foto seluruh peserta sebagai penanda berakhirnya workshop sekaligus harapan agar ilmu yang diperoleh dapat segera diterapkan untuk mengembangkan usaha Batik Toeli dan para perajin batik Laweyan. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








