Tugujatim.id – Barangkali mendengar kata “preman” sering kali diasosiasikan negatif di kalangan masyarakat. Terkadang preman dianggap sebagai orang yang kasar, suka memalak, dan mabuk-mabukan. Tapi, sebenarnya tidak semua preman seperti itu, ada juga dari kalangan mereka yang “berhati ibu” membantu sesama seperti yang dilakukan Eko Purnomo.
Ya, citra negatif itu pernah dirasakan Eko Purnomo. Pria paro baya itu pernah dikenal sebagai orang yang suka memalak uang dan mabuk-mabukan di jalan. Tapi, kini dia diamanahi sebagai ketua pengelola salah satu wisata di Jawa Tengah yang memiliki pengunjung hingga 30.000 orang per bulan.
“Alhamdulillah, saya dipilih Perhutani menjadi perwakilan pokja pariwisata,” kata dia.
Eko Purnomo menceritakan, dia menjadi preman selama kurang lebih 13 tahun. Dia mengakui sudah banyak mencicipi asam garam kehidupan hitam preman.
Lalu bagaimana Eko dapat mengajak seluruh preman untuk bangkit dan keluar dari dunia kelam? Bagaimana pula Eko dapat bekerja dengan badan pemerintah untuk mengelola lokasi wisata?
Menurut keterangan yang diberikan oleh ayah dua anak tersebut, dia memikirkan untuk pensiun menjadi preman ketika dia dipenjara. Di situlah dia memikirkan banyak sekali penyesalan dalam hidup.
Dia memang tidak memiliki latar belakang sebagai orang yang berpendidikan dan menyesali hal tersebut, hingga akhirnya masuk ke dalam dunia preman. Dia juga menyesal telah membuat malu keluarga, terutama orang tuanya.

“Bagaimana cara menghidupi keluarga kami, tak ada latar pendidikan yang tinggi, membuat kecewa masyarakat dan orang tua. Sudah bikin dosa dengan masyarakat bikin malu orang tua,” sesalnya.
Munculnya pikiran tersebut, membuat dia ingin mengajak sesama temannya yang juga preman untuk keluar dari dunia kelam itu. Namun, setiap jalan yang ditempuh pasti akan ada batu kerikil yang menyertai.
Eko mengatakan, dalam perjalanan dia mengajak teman-temannya untuk membangun tempat wisata mengalami beberapa kendala. Salah satunya ada orang lain yang iri kepadanya. Namun, hal itu dianggap wajar. Dia tetap fokus menyelesaikan masalah, bukan pada hasilnya.
“Semua masalah dianggap sebagai motivasi dan jantung untuk lebih bersemangat lagi. Sebagai contoh ada gula pasti ada semut, belum jadi gula pasti belum ada semut. Kalau sudah ada gula, pasti semut akan datang. Ketika mengelola pasti ada yang punya rasa iri dan jenuh, tapi bagi kami menganggapnya sebagai angan-angan untuk menjadi lebih maju,” tambahnya.
Dia melanjutkan, kepada temannya yang kala itu baru keluar dari lapas bahwa berbuat aksi sosial itu penting. Sebagai orang yang tinggal di masyarakat harus punya jiwa sosial.
“Saya akan mengubah mereka kalau saya dapat mengubah diri saya sendiri. Kamu tidak boleh malu dengan orang lain, tapi malulah dengan orang tuamu,” imbuhnya.
Sampai sekarang, tempat wisata Limpakuwus yang berlokasi di Purwokerto, Jawa Tengah, sudah banyak dikenal masyarakat dari berbagai daerah, bahkan turis mancanegara. Tempat wisata yang bekerja sama dengan Perhutani ini sudah bersertifikat tinggi, yakni platinum walaupun baru berjalan kurang dari 2 tahun.
Menurut Eko, suksesnya tempat wisata karena tim mengelola dengan tekad, semangat, dan visi misi yang jelas. Dia mengakhiri sesinya dengan berpesan kepada para mahasiswa untuk dapat belajar tidak hanya mendapatkan sertifikat ijazah saja.
“Ada yang baik dan ada yang dapat diteruskan adik-adik mahasiswa. Jangan sampai hanya mencari sertifikat ijazah, tapi pengalamannya dapat digunakan sehabis pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Eko sebagai penutup.








