Tugujatim.id – Setelah 2 tahun lamanya pengajian dan salawat yang seharusnya rutin diselenggarakan setiap bulan di Pesantren Tahfiz Al-Basyir, Bogor, harus terhenti karena pandemi Covid-19 yang menahun. Tentu pandemi ini juga berdampak pada banyak sekali aktivitas sosial yang kemudian terhenti secara tiba-tiba termasuk kegiatan keagamaan.
Namun, pada Ahad (04/08/2022) pengajian dan salawat Pesantren Tahfiz Al-Basyir dapat terselenggara kembali dan dihadiri oleh ribuan jemaah, alumni haji serta para muhibbin Pesantren Al-Basyir yang datang dari seluruh penjuru Indonesia.
Tentu ini menjadi berkah yang sangat besar bagi, karena telah berhasil melewati pandemi yang begitu luar biasa menguji manusia pada 2 tahun terakhir ini. Begitu banyak saudara sebangsa maupun saudara karena kemanusiaan yang berguguran karena musibah tersebut.
Maka seyogyanya, kita perlu merefleksikan diri atas ujian ini sebagai pengingat bagi kita atas musibah yang telah melanda. Melalui kegiatan pengajian dan salawat di Pesantren Al-Basyir yang diawali dengan Tawassul oleh Gus Abdul Hamid Aly, salawat dan tausyiah oleh Almukarrom KH Abi Basyir.
Mereka ingin mengingatkan kepada seluruh jemaah tentang rasa syukur yang tak terhingga atas nikmat yang telah Allah swt limpahkan kepada kita semua melalui hikmah pandemi Covid-19 yang boleh jadi sebelum datangnya pandemi ini kita abaikan.
Kemudian ada kegiatan Bahtsul Masail Waqi’iyyah (Kekinian) atau tanya jawab terkait masalah keagamaan yang terjadi di masyarakat yang diasuh oleh Almukarrom KH Jejen dari Sipak, Jasinga, Bogor.
Setelah terkekang dalam aturan pembatasan aktivitas (PPKM) dan ancaman virus yang memaksa kita untuk melakukan aktivitas keagamaan sendiri-sendiri.
Saling berjauhan, pembatasan ibadah di masjid, pembatasan pengajian di majelis-majelis taklim bahkan penutupan Masjidil Haram setelah penutupan yang terakhir pada 1987 karena wabah meningitis yang melanda tanah suci Makkah.
Kini kita dapat kembali menjalankan aktivitas kita sebagai muslim. Berkumpul di majelis-majelis talim dan beribadah bersama-sama.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak luput dari perhatian dan izin Allah swt termasuk juga musibah. Setelah pandemi Covid-19 usai dengan segala variannya, muncul kembali virus-virus baru yang lagi-lagi menguji kita. Seperti yang terbaru, pada bulan Agustus lalu.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mengonfirmasi pasien pertama monkeypox di Jakarta yang sebelumnya sudah terkonfirmasi di 89 negara menurut catatan WHO. Meskipun transmisi Monkeypox tidak semudah Covid-19 dan pasien akan sembuh dengan sendirinya setelah masa inkubasi virus tersebut.
Tetapi dalam hal ini, abi KH Dudung Basyir kembali mengingatkan bahwa kita perlu tetap waspada dan bersiap seraya berserah diri kepada Allah swt karena ujian ini silih berganti dan kita perlu cermat dalam bersikap.
Mengapa demikian? Sesungguhnya Allah swt mengingatkan manusia dalam Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan yang ada disebabkan oleh tangan manusia.
Pandemi Covid-19 dan penyakit terbaru Monkepox adalah cerminan hubungan nirharmonis antara manusia dengan alam. Interaksi yang tidak baik ini akan mendorong bencana ekologi yang kemudian mengancam kehidupan manusia.
Kegiatan kita yang serampangan dalam memperlakukan alam menyebabkan berbagai masalah ekologi. Alih fungsi hutan misalnya, ini berdampak pada terancamnya habibat alami hewan yang kemudian mereka bermigrasi mendekat pada wilayah permukiman warga sehinngga menyebabkan interaksi antara manusia dan hewan.
Hal ini akan menyebabkan kerentanan penularan penyakit dari hewan kepada manusia seperti yang telah tercatat oleh sejarah.
Maka, pengajian salawat pesantren Al-Basyir ini hanya menjadi kegiatan keagamaan saja melainkan juga menjadi momentum bagi keselarasan kita terhadap lingkungan yang juga akan berdampak besar kepada kita nantinya.
Manusia bukan hanya sekedar satu-satunya makhluk yang sadar atas keberadaannya di alam dunia tetapi juga sebagai khalifah yang barang tentu bertanggungjawab besar terhadap apa yang telah diamatkan Allah swt kepadanya.







