MOJOKERTO, Tugujatim.id – Tahun politik sering kali berbanding lurus dengan branding atau urusan publikasi. Urusan ini umumnya melibatkan media mulai siber, cetak, maupun televisi. Bahkan seiring dengan perkembangan zaman, sektor teknologi seperti media sosial (medsos) tidak luput digarap sebagai bentuk branding dari partai politik atau calon anggota legislatif.
Walau begitu, sosok yang biasa bergelut lewat medsos atau influencer tidak semua tertarik dengan dunia politik. Seperti Umbu, salah satu influencer Instagram asal Mojokerto. Bagi Umbu, garapan branding sektor politik belum memberi dampak signifikan kepada akun yang dia punya.
“Selain itu, banyak faktor kami tidak mengambil branding-branding politik. Mulai dari konsen awal dari akun kami, termasuk juga efek yang ditimbulkan sebelum dan sesudah ajang politik selesai,” beber Umbu, Selasa (31/10/2023).
Efek yang dimaksud Umbu biasanya terkait dengan kecenderungan seseorang terhadap pilihan politiknya. Saat berbeda pilihan, follow dan unfollow sering kali terjadi. Follow terjadi untuk akun-akun yang dipandang sejalan dengan plilhan politik follower, sementara unfollow menjadi pilihan manakala follower berbeda pilihan politik dengan akun yang diikutinya.
“Makanya dari awal kami konsen dengan peristiwa atau fokus pada kejadian-kejadian yang sedang viral saja. Karena untuk garap politik itu butuh pertimbangan-pertimbangan matang,” imbuh Umbu.
Aspek hiburan atau entertainment menjadi faktor pertimbangan lain bagi Umbu untuk tidak masuk dalam branding-branding politik. Konten serius seperti konteks politik justru tidak mempunyai perhatian lebih bagi penikmat medsos.
“Konten ringan seperti pantun atau tempat-tempat nongkrong yang asyik itu yang banyak dicari. Kalau yang serius-serius kayak politik malah kurang yang minat,” ujar Umbu.
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








