JEMBER, Tugujatim.id – Dalam 12 bulan terakhir, fenomena penjual kopi keliling di Jember menggunakan kendaraan listrik semakin berkembang. Para penjual minuman kopi di wilayah Kabupaten Jember ini mengoperasikan berbagai merk seperti Jago Coffee, Kopi Sejuta Jiwa, dan Kopi Kelingan dengan memanfaatkan teknologi kendaraan listrik.
Kehadiran transportasi ramah lingkungan ini memungkinkan para pengusaha kopi untuk memperluas jangkauan pasar mereka. Strategi yang diterapkan oleh merk-merk tersebut adalah melakukan customisasi pada motor listrik dengan menambahkan kereta barang di bagian depan.
Baca Juga: Dari Tangan Ibu Rumah Tangga, Kerupuk Raos Berbumbu Kearifan Lokal di Kalisat Jember Merambah Pasar
Pendekatan ini terbukti efektif untuk mencapai lebih banyak konsumen, mengingat jika mereka menggunakan kendaraan bermotor konvensional dan memodifikasi, hal tersebut akan melanggar peraturan yang melarang modifikasi kendaraan tanpa perizinan resmi.
Meskipun demikian, penggunaan sepeda listrik yang telah dimodifikasi untuk keperluan dagang tidak sepenuhnya bebas dari kendala. Anas Robit, seorang penjual kopi keliling di Jember, menjelaskan, para pedagang perlu mempertimbangkan dengan matang rute perjalanan yang akan dilalui.
Kendaraan listrik yang sudah ditambah gerobak memiliki keterbatasan dalam melewati berbagai kondisi jalanan, khususnya pada area dengan kemiringan yang curam. Selain itu, kapasitas baterai yang terbatas juga menjadi faktor pembatas yang dapat mengganggu operasional sewaktu-waktu.
“Kami termasuk pionir dalam hal ini, menjadi yang terdepan dalam mengadaptasi teknologi listrik untuk usaha, namun karena menggunakan model lama, ketika menghadapi jalanan menanjak harus berjalan kaki mendorong. Sebab, tidak mampu menahan beban gerobak yang mencapai 100 kilogram,” ungkap Anas Robil pada Selasa (24/06/2025).
Tantangan Memakai Kendaraan Listrik
Anas memaparkan rutinitas kerjanya yang berlangsung selama 8 jam setiap hari. Dia memulai aktivitas dengan mengambil kendaraan listriknya dari kantor yang berlokasi di Perumahan Taman Gading, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates.
Setelah itu, dia menjalankan bisnis di kawasan Jalan Gajah Mada sampai area alun-alun. Namun, sebagian besar waktu operasionalnya dihabiskan dengan berdiam di satu tempat karena mobilitas yang terlalu sering dapat mengakibatkan kehabisan daya baterai.
“Jangkauan maksimalnya sekitar 8-10 kilometer. Meskipun dilengkapi dengan penunjuk level baterai, tetap merasa khawatir ketika harus pergi ke lokasi yang jauh,” jelasnya.
Selama empat bulan menjalankan usaha kopi keliling dengan kendaraan listrik modifikasi, Anas pernah mengalami satu kali insiden kehabisan daya di tengah perjalanan. Insiden itu memungkinkan terjadi karena baterai mengalami penurunan kualitas.
Menurut pengalamannya, baterai kendaraan listrik hanya optimal digunakan selama satu tahun, setelah periode tersebut konsumsi dayanya menjadi lebih boros.
“Pada masa awal berdagang, saya sering membawa baterai pengganti, untungnya sistem baterainya mudah untuk diganti,” katanya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Anas berpendapat bahwa kendaraan listrik merupakan pilihan transportasi yang relatif aman untuk aktivitas sehari-hari, termasuk untuk keperluan berdagang. Hal ini dikarenakan kendaraan listrik memang tidak dirancang untuk beroperasi dengan kecepatan tinggi.
Lebih lanjut, ketika terkena air hujan dan lumpur, mesin kendaraan tidak mengalami kerusakan serius.
“Yang paling sering terjadi adalah gangguan pada sistem kelistrikan seperti lampu atau klakson yang mati, sementara mesin tetap berfungsi normal meski tidak bisa melaju kencang,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








