JEMBER, Tugujatim.id – Dari sudut kecil Kecamatan Kalisat, sebuah dapur sederhana menyimpan cerita panjang tentang ketekunan dan mimpi. Aroma bawang yang harum menguat dari tempat ini setiap pagi, menandakan dimulainya aktivitas produksi yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Inilah markas Kerupuk Raos, sebuah usaha keluarga yang telah mengukir namanya dalam peta kuliner Jember hingga Bondowoso.
Tahun 1999 menjadi titik awal perjalanan Rahamseh, seorang ibu yang akrab dipanggil Riska, dalam dunia industri makanan ringan. Dengan berbekal resep turun-temurun asal Bandung, ia mulai mengolah kerupuk dengan cita rasa yang berbeda dari produk sejenis di pasaran.
Keunikan rasa bawang yang menjadi ciri khas produknya ternyata mampu memikat selera masyarakat lokal. “Resep ini sebenarnya warisan dari keluarga di Bandung, tapi entah mengapa pas dicoba di sini, warga Jember malah sangat menyukainya,” kenang perempuan yang akrab disapa Riska sambil memperhatikan proses pengukusan adonan di dapurnya pada Sabtu (14/6/2025).
Kini, usaha yang dimulai dari skala rumahan itu telah berkembang menjadi industri kecil yang memberikan nafkah kepada puluhan keluarga. Sembilan tenaga kerja tetap bertugas menangani berbagai tahap produksi, mulai dari pencampuran bahan hingga penjemuran.
Setiap individu memiliki spesialisasi masing-masing: dua orang ahli meracik, satu orang mengoperasikan alat kukus, tiga orang bertugas mencetak, dan tiga lainnya menangani proses pengeringan.
Kapasitas produksi harian mencapai 2,5 kuintal bahan mentah yang menghasilkan sekitar 50.000 keping kerupuk siap konsumsi. Angka ini menunjukkan efisiensi produksi yang cukup tinggi, dengan rasio 1 kuintal bahan menghasilkan 20.000 keping produk jadi.
Sistem distribusi yang diterapkan Riska cukup unik dalam dunia UMKM. Tujuh belas distributor terdaftar, namun hanya sepuluh yang aktif setiap hari. Fleksibilitas ini sengaja diberikan untuk mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan masing-masing mitra distribusi.
“Sistem kami tidak mengikat. Siapa yang mau ambil barang hari ini, silakan. Yang tidak sempat, juga tidak apa-apa,” jelas Riska mengenai pendekatan bisnis yang lebih mementingkan hubungan personal ketimbang target penjualan keras.
BACA JUGA: Situs Klanceng: Warisan Prasejarah Tersembunyi di Antara Rumah Warga Jember
Margin keuntungan distributor pun cukup menarik. Mereka membeli dengan harga Rp 150 per keping dan menjual ke toko-toko mitra dengan harga Rp 250 per keping, memberikan keuntungan sebesar Rp 100 per keping.
Yang paling menawan dari kisah Kerupuk Raos adalah filosofi bisnis yang diterapkan Riska. Delapan distributor senior telah ia bantu untuk memiliki kendaraan operasional melalui sistem pembayaran bertahap. Ini bukan sekadar strategi bisnis, melainkan bentuk kepedulian terhadap mitra yang telah dianggap sebagai keluarga sendiri.
“Kalau ada yang butuh kendaraan tapi dananya belum cukup, saya bantu dulu. Mereka bayar secara bertahap sesuai kemampuan,” tutur Riska menjelaskan program CSR natural yang ia lakukan.
Meski keuntungan bersih harian sekitar Rp 300.000 tergolong sederhana, Riska membuktikan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari nominal. Dalam tiga tahun, ia berhasil mengumpulkan dana untuk menunaikan ibadah umrah. Bahkan, enam tahun lalu ia telah mendaftarkan diri untuk ibadah haji.
BACA JUGA: Kisah Agus Sakti, Smallframejember Go International berkat CDI Buatan Lokal Tembus Tiga Benua
“Yang penting adalah rasa syukur. Berapapun untungnya, kalau tidak bersyukur pasti akan terasa kurang,” filosofi sederhana yang menjadi pegangan hidup perempuan yang telah membuktikan bahwa usaha kecil bisa memberikan dampak besar.
Kerupuk Raos bukan sekadar produk makanan ringan, melainkan representasi dari kegigihan seorang ibu dalam membangun ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Dengan tetap mempertahankan kualitas dan rasa otentik, usaha ini telah membuktikan bahwa konsistensi dan integritas adalah kunci bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin ketat.
Di tengah gempuran produk-produk modern, Kerupuk Raos tetap eksis dengan mengandalkan cita rasa tradisional dan pendekatan bisnis yang humanis. Sebuah pelajaran berharga bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari skala besar, tetapi dari keberlanjutan dan dampak positif yang diberikan kepada lingkungan sekitar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








