Angkat Isu Kemiskinan, LSM KOMPIP Surakarta Galakkan Transparansi-Akuntabilitas Anggaran - Tugujatim.id

Angkat Isu Kemiskinan, LSM KOMPIP Surakarta Galakkan Transparansi-Akuntabilitas Anggaran

  • Bagikan
LSM KOMPIP Surakarta usai melakukan kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UMS) beberapa waktu lalu. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
LSM KOMPIP Surakarta usai melakukan kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UMS) beberapa waktu lalu. (Foto: Dokumen)

SURAKARTA, Tugujatim.id – Berawal dari keinginan membangun kesadaran kritis masyarakat akan pentingnya partisipasi dalam pembuatan kebijakan pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat Konsorsium Monitoring dan Pemberdayaan Institusi Publik (LSM KOMPIP) Surakarta menggelar sosialisasi. LSM KOMPIP yang didukung program USAID MADANI ini ingin adanya partisipasi dan struktur masyarakat yang kuat akan mempermudah terwujudnya demokrasi lokal.

Finansial LSM KOMPIP Tina Dewi Sulistyowati mengatakan, adanya program dari USAID MADANI sangat membantu LSM KOMPIP untuk bisa berjalan dengan lebih baik. Dia mengatakan, ada banyak ilmu baru yang didapat, seperti aspek efisiensi, keberlanjutan, dan ketahanan dalam menjalankan roda kelembagaan. Sesuai dengan kebutuhan di Surakarta, USAID MADANI kemudian memberi isu tematik berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas dana di tingkat kelurahan.

“Kalau secara konstitusi itu semacam pengawas. Meski tema itu ditentukan dari USAID MADANI, tapi ini sesuai dengan kebutuhan di Solo, utamanya di Kelurahan Mojosongo dan Tajang,” tutur Tina, panggilan akrabnya.

Awalnya lembaga tempat dia bekerja itu menggunakan standard operating procedure (SOP) “Sapu Jagat”, baik dari sisi keuangan, ketenagakerjaan, barang dan jasa. Namun, begitu ada program dan pelatihan dari USAID MADANI, SOP untuk menjalankan roda kelembagaan berubah menjadi lebih terarah, dengan terlebih dulu menyosialisasikan SOP yang baru itu ke internal lembaga seperti ke dewan pembina ataupun pengawas.

LSM KOMPIP dan KOMBES diminta Kesbangpol Kota Surakarta sebagai moderator dan narasumber pengenalan Indeks Kinerja Organisasi (IKO) bagi 40 OMS Kota Solo. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
LSM KOMPIP dan KOMBES diminta Kesbangpol Kota Surakarta sebagai moderator dan narasumber pengenalan Indeks Kinerja Organisasi (IKO) bagi 40 OMS Kota Solo. (Foto: Dokumen)

Di dalam Program USAID MADANI diperkenalkan pula indeks kinerja organisasi (IKO), yang kemudian diterapkan di lingkungan pemerintah, baik itu di tingkat kelurahan ataupun kabupaten. Indeks ini mencakup arah penguatan kapasitas yang dibutuhkan agar menjadi lebih efektif, efisien, relevan, sustainable, dan berketahanan. Isu Gender Equality and Social Inclusion (GESI) juga mulai menjadi perhatian.

Perempuan berusia 39 tahun ini melanjutkan, isu itu sebenarnya menyasar lima kelurahan. Namun, karena tidak memungkinkan akhirnya dikurangi menjadi dua kelurahan, yaitu Kelurahan Mojosongo dan Kelurahan Tajang. Kelurahan Mojosongo terletak di Kecamatan Jebres, Surakarta. Sementara untuk Kelurahan Tajang berada di Kecamatan Laweyan.

Isu Kemiskinan Jadi Perhatian

Kedua kelurahan tersebut menjadi pilihan dikarenakan wilayahnya lebih luas. Selain itu, permasalahannya juga kompleks-kemiskinan, keberadaan kelompok marginal terutama kelompok difabel, dan juga tingkat pendidikan warganya.

“(Alokasi) dana untuk kelurahan itu kan besar, kami inginnya benar-benar disampaikan secara transparan dan merata,” ungkap perempuan yang berperan sebagai pengelola keuangan di KOMPIP ini.

Pihaknya menilai, karena luasnya kedua wilayah itu sehingga membuat pengalokasian anggaran dirasa belum cukup merata. Mereka menerima alokasi anggaran yang sama besarnya dengan kelurahan yang lainnya yang lebih kecil luasannya. Untuk itu, ada wacana pemekaran untuk kedua kelurahan ini.

Dari kelurahan nantinya, menurut dia, juga akan melakukan monitoring dan evaluasi (monev). Namun, karena saat ini masih dalam kondisi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sehingga monev masih belum bisa terlaksana.

LSM KOMPIP juga memberikan perhatian kepada difabel di Surakarta. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
LSM KOMPIP juga memberikan perhatian kepada difabel di Surakarta. (Foto: Dokumen)

Sementara itu, di lapangan upaya yang sudah dilakukan yaitu mensurvei kaum marginal, pedagang kaki lima (PKL), lansia, perempuan rumah tangga, dan difabel. Data-data itu pun kemudian disampaikan kepada badan perencanaan pembangunan daerah (bappeda) setempat.

“Ada respons positif dari bappeda, kami lalu mengadakan Focus Group Discussion (FGD) antara warga marginal, bappeda, dan perangkat kelurahan. Melalui kegiatan ini, kami kemudian bisa menemukan solusi bersama,” ujarnya.

FGD ini dilakukan secara bertahap dengan pertimbangan supaya kualitas suara masyarakat marginal tidak turun jika dilaksanakan FGD multistakeholder. Untuk itu, masing-masing stakeholders sebelumnya juga dilakukan FGD, baru kemudian dilakukan pleno hasil.

LSM KOMPIP saat FGD dengan organisasi masyarakat sipil (OMS) Surakarta. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
LSM KOMPIP saat FGD dengan organisasi masyarakat sipil (OMS) Surakarta. (Foto: Dokumen)

Karena ada capaian yang menggembirakan, kegiatan yang dilakukan itu mendapat apresiasi dari Bappeda Surakarta. Jadi, rancangan anggaran biaya (RAB) untuk kedua wilayah tersebut dinaikkan dari tahun sebelumnya.

Selama bergabung dalam Program USAID MADANI ini, KOMPIP mencatat berbagai pencapaian. Capaian pada tahun pertama, KOMPIP berhasil mengadakan kegiatan Learning Forum yang diberi nama Komunitas Belajar Madani Surakarta atau disingkat KOMBES yang melibatkan 11 Civil Society Organization yang berkolaborasi dengan sistem kemitraan. Capaian lainnya, KOMPIP berhasil melakukan kerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS) Surakarta.

Terfasilitasi dengan Adanya AtmaGo

Hubungan dengan publik di luar kelembagaan juga menjadi penting. Salah satunya dengan melakukan komunikasi dengan publik eksternal secara informatif dan persuasif. Tina menjelaskan, secara kelembagaan, adanya platform AtmaGo ini sangat membantu. Sebab, setiap kegiatan yang dilakukan itu bisa terpublikasikan. Sehingga bisa dilihat masyarakat lebih luas, tidak hanya di Surakarta saja.

Untuk diketahui, platform www.atmago.com tersebut merupakan platform media sosial berbasis masyarakat yang dikembangkan oleh Atma Connect yang menjadi partner kerja Program USAID MADANI.

Selain itu, dengan dipublikasikannya kegiatan di platform AtmaGo juga bisa dijadikan alat bukti dan rekam jejak digital sejauh mana lembaga tersebut menjalankan sebuah program, begitu juga dengan capaian-capaiannya.

LSM KOMPIP membagikan sembako kepada masyarakat Surakarta. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
LSM KOMPIP membagikan sembako kepada masyarakat Surakarta. (Foto: Dokumen)

“Kalau secara pribadi, akhirnya saya bisa menulis. Bagi saya, ini pengalaman kali pertama menulis berita. Senangnya lagi, ada platform yang mau menerima dan memublikasikannya,” kata ibu dua anak ini.

Tina juga merasa senang karena sebelumnya juga ada training dari AtmaGo, akhirnya jadi tahu bahwa ada platform tentang Jurnalisme Warga.

Selain itu, dampak positif lainnya yaitu bisa lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi karena belakangan ini dunia maya banyak dimunculkan informasi dan berita palsu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Kalau kita mau nulis di koran itu kan agak susah, tapi di AtmaGo ini mudah. Bisa nulis apa saja, asal tidak mengandung unsur SARA,” demikian anggapannya.

Dari setiap postingan itu, kemudian dapat dibagikan melalui media sosial seperti Facebook hingga WhatsApp Group (WAG). Respons yang didapat pun beragam, tapi rata-rata sambutannya positif. Bahkan, ada yang menanggapi jika kegiatan yang sudah dilakukan itu bagus dan bermanfaat untuk banyak orang.

“Dari pemangku kepentingan, alhamdulillah kami dapat respons positif dari bappeda dan badan kesatuan bangsa dan politik (kesbangpol). Mereka menyambut baik,” ucapnya. (ads)

 

 

 

  • Bagikan