SURABAYA, Tugujatim.id – Di tengah deru mesin dan asap knalpot di Terminal Purabaya Surabaya, berdiri tegap Annisa (40) seorang perempuan tangguh pemegang kendali perjalanan armada bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) jurusan Surabaya-Jember. Annisa Srikandi Terminal jauh dari seragam resmi kantoran dan duduk di ruang berpendingin, tapi sebaliknya bergulat dengan kehidupan kerasnya jalanan dan hiruk pikuk bus antar kota, yang lazim didominasi para kaum Adam.
Annisa bukan sekadar petugas tiket, tapi seorang ibu tunggal yang menukar gelar guru dengan peluit dan tiket, demi satu tujuan masa depan sang buah hati. Sebelum menjadi kondektur, Annisa adalah guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di kampung halamannya, Pamekasan, Madura.
“Ngajar sebulan cuma dapat seratus ribu. Buat hidup sehari-hari saja nggak cukup,” kenang Annisa, pada Selasa, (15/7/2025).
Dari Papan Tulis ke Terminal Bus
Profesi itu harus ditanggalkan karena gaji yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidup bersama buah hatinya. Hingga suatu hari, tawaran menjadi kondektur bus datang dari seorang teman. Tanpa ragu, Annisa memilih jalan baru, penuh tantangan, namun menjanjikan penghasilan lebih layak.
“Awalnya ada teman saya yang ngasih tahu kalau ada lowongan kondektur bis, gajinya sekian, mau tidak? Ya karena ingin merubah nasib demi anak dan keluarga, akhirnya saya mau coba,” ungkap Annisa.
Tiga tahun sudah Annisa menyusuri jalur Surabaya–Jember, juga terkadang sampai ke Banyuwangi. Siang malam, ia beradu dengan waktu, menjaga keselamatan penumpang, hingga mengusir kantuk sambil tetap ramah memberi pelayanan.

Meski, pendapatannya tak tetap, naik turun sesuai dengan kondisi penumpang di Terminal. Namun, ia tetap bersyukur karena gajinya cukup untuk kebutuhan anak dan keluarga di kampung.
“Kalau penumpang sepi, kadang sehari cuma mengantongi Rp100 ribu. Tapi saat musim ramai seperti Lebaran, bisa sampai Rp800 ribu per harinya. Ya, yang penting halal dan bisa untuk biaya anak,” ujarnya tegas.
Dunia Terminal: Bukan Wilayah Ramah Perempuan
Meski dikelilingi rekan kerja pria dan lingkungan yang keras, Annisa tak pernah merasa gentar. Godaan, candaan kasar, hingga penumpang nakal yang pura-pura tidur demi menghindari bayar tiket, semua ia hadapi dengan sabar dan senyum.
“Yang sering itu penumpang nggak mau bayar. Terus pura-pura tidur, tapi ya tetap saya tagih tiketnya. Dulu awal-awal kerja sering juga digoda sama sopir, teman laki-laki, kadang penumpang. Kalau digoda, saya cuekin aja. Justru sekarang teman laki-laki semua baik sama saya, suka bantu juga,” katanya sambil tertawa kecil.
Setiap Perjalanan Penuh Kisah dan Tanggung Jawab
Tentunya sebagai kondektur, ia mempunyai kewajiban setiap pagi, sebelum bus melaju melakukan inspeksi rutin. Mulai dari oli, radiator, hingga memastikan kondisi kabin.

“Kalau berangkat jam 9, saya sudah datang jam setengah 8. Semuanya harus dicek dulu. Itu tanggung jawab saya juga,” ungkapnya penuh semangat.
Di samping itu, karena jam kerjanya bisa sampai 12 jam sehari, ia memilih indekos dekat Terminal Purabaya agar tak ketinggalan jadwal.
“Untuk jam kerja rata-rata 8 jam, kadang juga bisa 12 jam itu kalau kondisi ramai bisa bolak-balik ke Surabaya-Jember. Dan pasti pulang kerja kan capek, jadi saya ngekos deket-deket sini saja (terminal),” paparnya.
Ibu, Perjuangan, dan Rindu yang Tak Pernah Padam
Anak semata wayangnya, kini berusia empat tahun, tinggal bersama keluarga besar di Madura. Rasa rindu pun menjadi teman sehari-hari yang harus ditahan. “Kalau kangen, ya video call. Tapi tetap sedih, apalagi kalau dia lagi sakit,” ucapnya lirih.
BACA JUGA: Skadron Udara 32 Misi Angkutan Udara Latihan Sikatan Daya 2025, Sosok Pilotnya Menyita Perhatian
Namun ia tak pernah menyesali jalan hidupnya. Baginya, menjadi kondektur bukan keterpaksaan, tapi pilihan untuk bertahan dan memberi harapan bagi sang buah hati.
Perempuan Juga Bisa Berdiri Sendiri
Annisa adalah potret nyata srikandi tangguh masa kini. Ia hanya bisa menorehkannya dalam peluh, kesabaran, dan langkah tak kenal lelah di atas aspal panas. Annisa berpesan kepada perempuan di luaran sana untuk tetap berjuang diatas kakinya sendiri.
“Perempuan juga bisa mandiri. Jangan bergantung pada laki-laki. Jangan mudah menyerah, karena hidup ini harus terus diperjuangkan,” pesan Annisa, yang menggema di antara deru mesin siap membawanya pada perjalanan berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Layla Aini
Editor: Darmadi Sasongko








