JOMBANG, Tugujatim.id – Tangan dingin pengusaha asal Jombang, Jatim, bernama Sigit Bayu Mahendra membuat usaha arang briket naik kelas. Bahkan, setahun belakangan melalui usahanya PT Gemati Global Industri, dia sukses menembus pasar ekspor dengan menjual arang ke berbagai negara.
Meski di zaman sekarang arang jarang dilirik untuk kebutuhan masak, tapi keberadaannya masih banyak dicari untuk keperluan produksi. Bahkan, dengan modal yang murah tapi keuntungan melimpah cocok digunakan dalam memulai bisnis baru.
“Saya milih usaha arang karena modalnya kecil untuk suatu usaha sampai bikin pabrik. Bahan bakunya relatif murah karena cuma pakai arang kayu dan tepung tapioka,” katanya kepada Tugujatim.id pada Rabu (01/11/2023).

“Tempatnya juga harus di industri karena minim suara dan polusi jadi fleksibel. Bikinnya nggak terlalu sulit, jadi nggak harus pakai tenaga ahli. Orang awam belajar, seminggu juga bisa,” sambungnya.
Berbeda dengan arang kayu pada umumnya. Arang briket yang diproduksi Sigit berasal dari limbah arang kayu yang diolah kembali dengan campuran tepung.
“Bahannya cuma dua, limbah arang kayu yang sudah dihaluskan dan dicampur tepung tapioka jadi adonan. Selanjutnya dicetak dan dioven, selesai,” bebernya.
Sekali produksi, memakan waktu hingga tiga hari sampai benar-benar jadi. Sigit pun dibantu 18 karyawannya mampu memproduksi 2 ton.
Tembus ke Pasar Ekspor
Dengan mengandalkan dirinya yang sebelumnya berlatar belakang sebagai surveyor, Sigit memberanikan diri untuk membuka usaha arang briket setelah cerita dengan kolega-koleganya yang cukup menjanjikan.
“Saya dulu kerja jadi surveyor kontainer dangers cargo PT Karsurin. Karena itu, banyak berkecimpung dengan teman-teman yang punya pabrik dan eksporter. Saya sharing dengan mereka kelihatannya cukup menjanjikan,” jelasnya.
Jadi, tidak butuh waktu lama baginya untuk langsung terjun ke dunia eksportir saat awal usahanya. Kini arang briket miliknya telah masuk ke beberapa negara, di antaranya Taiwan, Australia, dan Jerman.

Tidak cukup sampai di situ, targetnya dalam menyentuh pasar internasional adalah menjual arang briket di negara-negara Timur Tengah.
“Sebenarnya kalau seksi (laku) itu negara di Timur Tengah seperti Arab dan Doha, cuma saya belum dapat (relasi) di sana,” terang pria berusia 33 tahun ini.
Dalam sekali ekspor, Sigit mampu memenuhi permintaan pembeli hingga 20-26 ton dengan angkutan dua truk kontainer. Pasar ekspor cukup membuatnya meraup omzet hingga Rp200 juta dalam sekali ekspor.
Mulai Lirik Pasar Lokal
Meski menembus pasar ekspor, Sigit ingin produknya juga laku keras di pasaran lokal. Kini produknya sudah dikenal di beberapa daerah, termasuk Surabaya, Malang, Gresik, Blitar, dan Jakarta.
“Awalnya dulu ada pengusaha ayam dari Malang yang nyari arang briket untuk DOC (day old chicken) dan pengusaha genteng bakarnya pakai arang. Dari situ saya melirik pasar lokal. Jadi, jatuhnya produksi mereka jauh lebih murah dibanding pakai gas atau baru bara. Tapi, memang harus diakui untuk penerangannya lebih sulit karena harus mau dibanding gas,” imbuhnya.
Di Indonesia, alumnus Jurusan Psikologi UIN Malang tersebut menjual hanya Rp4 ribu per kilo. Harga yang relatif murah jika dibandingkan arang briket pada umumnya yang memproduksi menggunakan abu.
“Saya harganya lebih murah karena langsung pakai limbah kayu dan sebelumnya sudah berkecimpung di situ. Kalau orang lain biasanya pakai abu arang batok. Kalau nggak punya limbah arang kayu memang jatuhnya lebih mahal,” ujarnya.
Meski sudah bergelut di pasar internasional, Sigit berharap agar produknya juga dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Hal ini bisa meminimalisasi kebutuhan rumah tangga atau produksi usaha.
Writer: Izzatun Najibah
Editor: Dwi Lindawati








