SURABAYA, Tugujatim.id – Pesantren menjadi lembaga yang turut berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa. Selain itu, menjadi tempat untuk membentuk dan membina kepribadian yang beriman, bertakwa, dan berakhlakul karimah. Hal itu diungkapkan Asisten Administrasi Umum Setda Jatim Dr H. Akh. Jazuli SH MSi.
Berbeda dengan fenomena pada 20-30 tahun lalu, di mana pesantren hanya dianggap sebagai kebiasaan orang desa atau orang dengan kategori ekonomi ke bawah. Sehingga banyak keluarga yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah negeri maupun favorit bergengsi.
Kini semakin banyaknya peningkatan kualitas pendidikan di pondok pesantren membentuk kembali citra dan kepercayaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mumpuni. Terlebih, perkembangan dunia juga turut berdampak pada perilaku anak.
Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Al-Amin dan Al-Khodijah Mojokerto Dr H. Akh. Jazuli SH MSi mengungkapkan, pesantren merupakan solusi yang tepat untuk mendidik generasi muda agar tidak terjerumus ke perilaku negatif. Mengingat maraknya kenakalan remaja saat ini masih masif terjadi.
“Karena di pesantren itu 24 jam ngaji, berjamaah, interaksi dengan agama, terbentengi pergaulan bebas karena ada pemisahan antara putra dan putri. Lalu, di pesantren itu pendidikan moral dan agama sangat diutamakan,” katanya.
Lingkungan pesantren yang notabene sebagai lembaga pendidikan agama akan mengajarkan anak untuk bersikap tawadu dan sopan santun. Jadi, dapat menjadi penunjang untuk membentuk karakter anak lebih kuat dalam hal agama dan juga pengetahuan umum.
“Yang menjamin anak untuk terbentuk karakter kuat secara agama itu hanya Allah SWT. Tapi, secara ikhtiar mengarah ke sana (ilmu agama). Karena kalau di pesantren rohaninya lebih terasa. Kalau tidak ada arahan ilmu agama dari keluarga, anak akan lebih dominan mengejar dunia,” jelasnya.
Bagi dia, pendidikan ilmu agama bisa menjadi pengendali seseorang untuk bisa berimbang antara kepentingan dunia dan akhirat. Dia menekankan, orang sukses bukan hanya sebatas kepemilikan harta material ketika masih dunia.
“Era hedonisme dan materalisme, orang memandang bahwa sukses itu lahiriah dari materi, kalau nggak ada jabatan dan hartanya banyak berarti belum sukses. Tapi orang tidak melihat apakakah jalannya benar atau salah. Sementara orang yang ahi ibadah dan pintar ngaji itu dikira nggak sukses. Padahal, nabi pun nggak semua kaya. Ada nabi yang miskin, Nabi Ayyub AS,” paparnya.
Mengaca pada dirinya, Akh. Jazuli yang kini juga menjabat sebagai Plt Asisten Administrasi Umum Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Artinya, tanggung jawab antara urusan duniawi dan juga akhirat harus diperlakukan setara.
“Apa pun yang kami lakukan selama niatnya baik dari Allah SWT dan bermanfaat untuk orang lain, maka semua akan menjadi nilai ibadah. Ini prinsip saya dalam dunia pesantren dan pemerintahan. Memberikan pelayanan, mempercepat kinerja, dan membentuk problematika masyarakat harus dilakukan penuh amanah. Ini prinsip saya dalam dunia pesantren dan pemerintahan,” ungkap mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jombang tersebut.
Dia juga menuturkan, sebagai manusia yang berupaya memenuhi kebutuhan dunia dengan bekerja, maka selayaknya juga diniatkan sebagai ibadah.
“Saya selalu tanamkan kepada teman-teman kalau semua harus diniati ibadah. Dan kalau bekerja sesuai kompetensi kemampuannya serta mencintai pekerjaan kita karena kalau cinta itu melakukannya akan enjoy dan bernilai manfaat,” ujar pria kelahiran 5 Juli 1965 tersebut.







