Tugujatim.id – Bali, salah satu destinasi wisata Indonesia paling populer di dunia, mengejutkan banyak pihak, usai masuk 15 destinasi wisata yang tidak layak dikunjungi tahun 2025 versi Fodor’s Travel.
Untuk diketahui, Fodor merupakan penerbit panduan perjalanan asal Amerika Serikat. Setiap tahun, mereka merilis daftar destinasi wisata yang tidak layak dikunjungi.
Kali ini, Bali masuk dalam daftar tersebut bersama beberapa destinasi wisata populer lainnya, seperti Eropa, Koh Samui Thailand, Gunung Everest, hingga Tokyo.
Daftar ini dibuat sebagai bentuk kampanye kesadaran terhadap dampak pariwisata berlebihan (overtourism) dan masalah lingkungan di berbagai destinasi wisata global.
Menurut laporan Fodor’s Travel, Pulau Dewata itu masuk ke dalam daftar karena beberapa alasan. Salah satunya, lantaran permasalahan overtourism yang dinilai merambah habitat alami Bali, mengikis warisan lingkungan dan budayanya, dan menciptakan “kiamat sampah plastik”.
Baca Juga: Masa Tenang, Masyarakat Kota Mojokerto Diimbau Ikut Awasi Media Sosial Bantu Temukan Pelanggaran
Kekhawatiran tentang kelangkaan air akibat pembangunan pariwisata yang masif juga menjadi salah satu sorotan. Padahal, industri pariwisata dan lingkungan alam di Bali terikat dalam hubungan yang rapuh dan berkesinambungan. Di mana perekonomian Bali tumbuh subur berkat keramahtamahan yang bergantung pada kebaikan alamnya.
Fodor mengklaim dengan mengutip Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, mencatat ada 5,3 juta pengunjung yang mengunjungi Bali pada 2023. Jumlah wisatawan di Bali hingga tujuh bulan pertama pada 2024, naik menjadi 3,5 juta. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 22 persen dibandingkan jangka waktu yang sama pada 2023. Sementara jumlah wisatawan tertinggi ada pada 2019 dengan 6,3 juta pengunjung.
Pemulihan pariwisata ini dinilai memperparah tekanan di pulau ini. Meski arus perekonomian terus meningkat sejak pandemi, namun juga berdampak buruk dari segi infrastruktur.
Pantai-pantai yang dulunya bersih seperti Kuta dan Seminyak kini terkubur di bawah tumpukan sampah, sementara sistem pengelolaan sampah setempat berjuang keras untuk mengatasinya.
Bali Partnership, sebuah koalisi akademisi dan LSM yang bekerja untuk mempelajari dan memecahkan masalah pengelolaan sampah, memperkirakan Pulau Bali menghasilkan 1,6 juta ton sampah setiap tahun dengan sampah plastik mencapai hampir 303.000 ton.
Meski volume sampah ini sangat besar, hanya 48 persen dari semua sampah yang dikelola secara bertanggung jawab, dan hanya 7 persen dari sampah plastik yang didaur ulang. Kekurangan ini mengakibatkan 33.000 ton plastik masuk ke sungai, pantai, dan lingkungan laut Bali setiap tahun yang menimbulkan ancaman serius bagi ekosistem pulau ini.
“Pengelolaan sampah di Bali hampir tidak mampu mengimbangi volume sampah dan itu masih belum seberapa,” kata Kristin Winkaffe, pakar perjalanan berkelanjutan yang fokus di Asia Tenggara dikutip dari Fodor.
World Wildlife Fund (WWF) telah mengkritik pesatnya perkembangan pariwisata Bali selama beberapa dekade dengan menerbitkan sebuah laporan pada 2007 yang mengatakan, pembangunan pariwisata Bali terjadi dengan cepat dan tanpa perencanaan yang matang atau mematuhi aturan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, pariwisata telah menyebabkan kerusakan serius pada lingkungan pulau ini.
Selain itu, kualitas air pesisir Indonesia juga terancam oleh berbagai polutan. Sebuah laporan oleh Bank Pembangunan Asia menyebutkan bahwa nutrisi yang berlebihan, senyawa organik, dan logam berat dari air limbah domestik, industri, pertambangan, pertanian, dan akuakultur merupakan sumber polusi yang paling signifikan.
Pariwisata yang berlebihan juga dinilai memengaruhi budaya dan praktik tradisional kehidupan masyarakat Bali dan berisiko kehilangan identitas budaya.
Diketahui, ini bukan kali pertama bagi Bali. Sebab, sebelumnya Bali juga pernah masuk dalam daftar destinasi yang dilarang pada 2020.
Meski mendapat kritik, Bali tetap menawarkan keindahan alam, budaya yang kaya, dan keramahan masyarakat lokal. Wisatawan yang ingin berkunjung diimbau untuk memilih aktivitas ramah lingkungan, mendukung bisnis lokal, dan mengikuti panduan wisata bertanggung jawab.
Masuknya Bali dalam daftar “Destinasi Wisata yang Tidak Layak Dikunjungi” versi Fodor’s Travel harus dilihat sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan pelestarian lingkungan. Dengan langkah-langkah yang tepat, Bali tetap bisa menjadi surga wisata yang mendukung keberlanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








