Berawal dari Hobi, Warga Trenggalek Ramu Minuman Tradisional Anti Covid-19

  • Bagikan
Intarti, warga Trenggalek yang menekuni ramuan tradisional. (Foto: M Zamzuri/Tugu Jatim)
Intarti, warga Trenggalek yang menekuni ramuan tradisional. (Foto: M Zamzuri/Tugu Jatim)

TRENGGALEK, Tugujatim.id –  Eksistensi minuman tradisional makin terkikis seiring perkembangan zaman. Namun, pandemi Covid-19 mengerek tren minuman tradisional naik daun lagi. Sebab, kunci agar terhindar dari paparan virus tersebut selain 5 M (menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas), juga menjaga imunitas.

Minuman tradisional memiliki kelebihan karena dinilai aman dan tak memiliki efek samping, meskipun dikonsumsi sehari-hari. “Aman saja kalau diminum tiap hari,” ungkap Intarti, salah seorang peracik minuman tradisional asal Desa Widoro, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek.

Intarti adalah aparatur sipil negara (ASN), seorang pengajar anak-anak di TK Dharma Winata SD Widodo I. Karier ASN-nya pun dimulai sejak 1987 lalu. Namun di balik kariernya, ternyata Intarti memiliki hobi meracik minuman tradisional sejak kecil.

Menurutnya, tak ada alasan khusus bagaiamana dirinya bisa tertarik dengan minuman tradisional. Dia menepis, kalau kemampuan itu datang dari garis keturunan. Keluarga besarnya tak ada yang memiliki profesi atau hobi yang seperti itu. Sehingga, kata Intarti, hobi itu muncul ketertarikan saja.

“Sejak kecil itu suka meracik minuman tradisional,” ungkap owner Minuman Rempah tersebut.

Intarti mengaku, meracik minuman tradisional hanya mencari kepuasan pribadi. Sejak kecil, Intarti hanya suka bereksperimen dengan mencampur-campurkan bahan alami untuk minuman tradisional. Dan, tak sedikit orang di sekitarnya yang berkesempatan untuk menikmati jamu racikannya.

Minuman tradisional buatan warga Trenggalek yang diklaim sebagai minuman anti Covid-19. (Foto: M Zamzuri/Tugu Jatim)
Minuman tradisional buatan warga Trenggalek yang diklaim sebagai minuman anti Covid-19 karena dipercaya bisa meningkatkan imunitas tubuh. (Foto: M Zamzuri/Tugu Jatim)

“Sering juga saya mengonsumsinya sendiri,” ujar Ibu satu putra ini.

Perempuan ramah itu pun tak mengira, hobi semasa kecilnya ternyata bermanfaat di usia 53 tahun. Kemunculan pandemi Covid-19 sekitar Maret 2020, menjadi titik awal yang menginspirasinya untuk memproduksi Minuman Rempah.

Mulanya, minuman tradisional Intarti hanya untuk membantu warga di sekitar lingkungan rumahnya. Siapa sangka, minuman tradisionalnya makin banyak diminati, sehingga pada Agustus 2020 Intarti mulai meningkatkan produksi minuman tradisionalnya untuk dijual.

“Dulu itu masih kemasan plastik, tapi kemudian saya ganti dengan botol plastik,” ujarnya.

Minuman tradisional Intarti tak jauh beda dengan minuman tradisional lainnya, sebab bahan yang digunakan kurang lebih sama. Misal, jahe, serih, cengkeh, kayu manis, pandan, gula aren dan gula batu. Sedangkan teknis meraciknya dimulai dari menumbuk jahe dan serih, kemudian mencampurkan semua bahan, hingga memanaskan dengan api lilin (api kecil) selama 30 menit.

“Didiamkan semalam, esok harinya baru bisa diminum, agar cengkeh dan kayu manisnya terasa,” ucapnya.

Karena tanpa menggunakan bahan pengawet, kata Intarti, minuman tradisionalnya hanya bertahan selama tiga hari dan seminggu lebih lama apabila di simpan di freezer. Di luar itu, dirinya mengkhawatirkan rasa minuman tradisionalnya berubah.

“Kalau untuk produksi, sekitar 60 botol per hari. Paling banyak sampai 150 botol,” ungkapnya.

Hobi sedari kecil pun kini dapat menambah penghasilannya, Intarti mengaku, dengan menjual minuman tradisional seharga Rp 3 ribu/botol, omzetnya mencapai Rp 3 juta per bulan.

Dari pengalaman para konsumennya, kata Intarti, banyak yang kesan setelah meminum minuman buatannya badannya terasa hangat, pegal-pegal mereda, dan melegakan tenggorokan.

“Ada yang mau pilek itu tak jadi. Yang kena batuk, lalu minum itu longgar,” ucap istri dari Sukarman tersebut.

  • Bagikan