Tugujatim.id – Sebuah keberuntungan bagi Mulyono yang mengagumi kautentikan suku Baduy dan bisa bertemu suku Baduy di Jakarta. Dalam perjalanan ke kantornya Mulyono pada Senin siang (30/12/2024), Mulyono terkejut melihat suku Baduy berjalan di trotoar Jakarta.
Begitu melihat dua orang Baduy di tengah tengah keramaian Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, Mulyono meminta sopir memberhentikan mobilnya. Dia menghampiri penjual madu hutan. Tidak hanya membeli, dia juga beramah tamah dengan penjual madu yang bernama Alek.
Baca Juga: Menyapa Harmoni di Baduy Luar: Wisata yang Menyentuh Jiwa
Mulyono sudah beberapa kali melakukan perjalanan ke Baduy Luar dan satu kali merasakan suasana alam Baduy Dalam, dia sangat senang berjumpa dengan suku Baduy seperti bertemu saudara yang lama tidak bertemu.
Di pedalaman Banten, masyarakat Baduy dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana, menyatu dengan alam, dan jauh dari teknologi modern. Salah satu tradisi yang masih mereka pertahankan adalah menjual madu hutan asli yang dipanen dari hutan lebat di sekitar permukiman. Namun, cara mereka memasarkan madu ini sungguh luar biasa: berjalan kaki berminggu-minggu ke berbagai daerah.
Madu yang dijual oleh masyarakat Baduy bukan sekadar produk biasa. Madu ini dihasilkan dari lebah liar yang mengisap nektar bunga-bunga hutan sehingga memiliki kualitas alami yang terjaga. Proses memanen madu pun dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti aturan adat yang melarang eksploitasi berlebihan terhadap alam.
Baca Juga: Kaleidoskop 2024: Sederet Atlet Jember Torehkan Prestasi Nasional hingga Kelas Dunia
Namun, tantangan utama bukanlah saat memanen, melainkan saat memasarkan madu tersebut. Dengan memegang teguh prinsip adat yang melarang penggunaan kendaraan modern, masyarakat Baduy memilih berjalan kaki ke berbagai wilayah untuk menjajakan madu mereka. Perjalanan ini bisa berlangsung berminggu-minggu, melewati jalanan terjal, hutan, dan pemukiman demi bertemu dengan para pembeli.
Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli yang menghargai kerja keras dan dedikasi mereka. Bagi orang Baduy, berjalan kaki tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga bagian dari pengabdian mereka kepada tradisi dan alam.
Cerita perjalanan panjang ini mengingatkan kita untuk lebih menghargai setiap tetes madu yang mereka tawarkan. Bukan hanya tentang rasa manisnya, tetapi juga tentang perjuangan dan nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Membeli madu hutan Baduy berarti mendukung keberlanjutan tradisi dan harmoni mereka dengan alam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mulyono Rekso, tinggal di Jakarta
Editor: Dwi Lindawati








