Boros saat Pandemi? Waspada Sindrom 'Hedonic Treadmill'

Boros saat Pandemi? Waspada Sindrom ‘Hedonic Treadmill’

  • Bagikan
Ilustrasi terkena sindrom Hedonic Treadmill. /tugu jatim
Ilustrasi terkena sindrom Hedonic Treadmill. (Foto: Pinterest)

Oleh: Zahra Qolbi*

Tugujatim.idPandemi yang melanda dunia selama satu tahun lebih, ternyata telah banyak membawa perubahan. Salah satunya membuat hampir semua kegiatan terpusat di dalam rumah. Semestinya dengan begitu, semua orang dapat berhemat. Namun, faktanya banyak dari masyarakat yang justru boros sehingga cash flow keuangannya menjadi tak terkontrol.

Hal ini juga selaras dengan pandemi Covid-19 yang membuat tren belanja online di masyarakat meningkat. Berdasarkan hasil survei Selligent terhadap 5 ribu responden, membuktikan bahwa hampir 40 persen responden mengatakan setiap minggu berbelanja online. Sejak pandemi Covid-19, angka itu ternyata meningkat hingga 30 persen dibandingkan sebelum adanya pandemi.

Beberapa orang mungkin seringkali tidak menyadari bahwa sering hidup boros. Salah satu contohnya, ketika membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Selain itu, juga dapat dilihat dari gaya hidup hedonis yang berkembang di masyarakat saat ini. Cara hidup hedonis seolah-olah meyakinkan bahwa standar hidup tinggi mampu meningkatkan kebahagiaan dan harga diri seseorang. Namun, nyatanya hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai standar kebahagiaan.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai ketika kita boros, yaitu sindrom “hedonic treadmill“. Sindrom ini merupakan salah satu gangguan psikologis yang membuat kita merasa sulit bahagia karena sering merasa belum puas terhadap materi yang sudah dimiliki. Orang-orang yang terkena sindrom ini cenderung mendefinisikan kesuksesan dengan status sosial yang tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, semakin banyak pendapatan yang dimiliki seseorang, maka disaat yang sama gaya hidup pun akan semakin tinggi. Sehingga pendapatan yang telah didapat rela dihabiskan untuk memenuhi gengsi. Kondisi ini akan menjadi dampak buruk untuk kesehatan keuangan di masa tua nanti.

Solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah sindrom “hedonic treadmill” adalah dengan membuat financial goals. Dengan menetapkan tujuan keuangan untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Financial goals dapat menjadi cara jitu untuk menjaga keamanan finansial. Hal ini karena kita cenderung akan menghabiskan lebih dari yang seharusnya ketika kita tidak mempunyai tujuan keuangan.

Selain itu, dengan menerapkan gaya hidup minimalis juga dapat menjadi salah satu cara terlepas dari sindrom tersebut, membatasi diri dari barang-barang yang dimiiliki membuat kita akan lebih percaya diri dan senantiasa lebih fokus pada hal yang dapat membantu dalam pengembangan diri kita.

*Penulis adalah member Pondok Inspirasi.

  • Bagikan