JEMBER, Tugujatim.id – Rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Jember sepanjang Januari-Februari 2026 meninggalkan jejak kerusakan yang tidak sedikit.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat tidak kurang dari 27 titik infrastruktur yang rusak dan memerlukan perhatian segera, tersebar di tujuh kecamatan dengan dominasi kerusakan akibat longsor.
Baca Juga: Jalur Desa di Kalisat Lumpuh Total, BPBD Jember Berjibaku Hancurkan Batuan Besar
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jember Anang Dwi Resdianto menyebutkan bahwa pihaknya telah merampungkan pendataan menyeluruh terhadap seluruh fasilitas terdampak.
“Kami menginventaris semua kerusakan infrastruktur di sisi kebencanaan. Mulai dari retaining wall, jembatan, jalan warga dan sebagainya kita evaluasi kembali,” ujar Anang, Jumat (27/02/2026).
Objek yang didata mencakup beragam jenis infrastruktur, mulai dari dinding penahan tanah, konstruksi jembatan, hingga jalan pemukiman warga. Hasil inventarisasi ini selanjutnya dijadikan acuan untuk menyusun skala prioritas penanganan.
Desa Kemuning Lor Posisi Paling Kritis
Di antara puluhan titik tersebut, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, menduduki posisi paling kritis. Dinding penahan tanah di lokasi itu mengalami kerusakan parah dan mendesak untuk segera direkonstruksi, mengingat fungsinya yang sangat vital sebagai penopang akses utama warga setempat.
Kondisi serupa juga ditemui di Dusun Sodong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti. Jembatan berbahan bambu yang dibangun pada 2019 kini menjadi satu-satunya penghubung bagi sekitar 30 rumah tangga. Kondisi material yang semakin rapuh membuat warga berharap segera ada penggantian dengan konstruksi permanen yang lebih layak.
Tak kalah mengkhawatirkan, bronjong kawat setinggi belasan meter di Dusun Glundengan, Desa Suci, yang baru berdiri sejak 2025, kini berada dalam kondisi rawan. Curah hujan yang terus mengguyur berpotensi memicu kelongsoran yang bisa menghancurkan badan jalan di sekitarnya.
Anang menjelaskan bahwa mayoritas kerusakan dipicu oleh tekanan lateral berlebih pada lereng akibat intensitas hujan yang tinggi, sehingga terjadi pergerakan tanah dan longsor. Dengan kondisi cuaca yang belum sepenuhnya stabil, ancaman kerusakan lanjutan masih tetap ada.
Guna mempercepat pemulihan, BPBD Jember tengah menyiapkan proposal desain teknis dan pengajuan anggaran ke pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Baca Juga: Baru 50 Persen Desa Tangguh Bencana, BPBD Jember Kebut Pembentukan Destana
Sementara itu, penanganan sementara difokuskan pada pemulihan hunian warga yang terdampak langsung, sedangkan perbaikan infrastruktur skala besar akan dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan anggaran daerah.
“Yang sudah kami tangani tentu minimal yang langsung menyentuh masyarakat, terutama pemulihan rumah. Tetapi infrastruktur tetap akan kami dukung karena itu menopang kegiatan masyarakat,” tandasnya.
Sebagai langkah antisipatif, BPBD Jember juga mendorong penguatan kapasitas masyarakat dalam mendeteksi potensi bahaya secara dini, khususnya di kawasan dengan topografi berlereng dan sistem drainase yang belum memadai. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








