TUBAN, Tugujatim.id – Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky menegaskan tidak akan meniru kebijakan pendidikan ala barak yang belakangan diterapkan sejumlah kepala daerah terhadap siswa bermasalah. Dia lebih memilih didik siswa nakal lewat pendekatan berbasis pesantren dan kearifan lokal di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Wacana membawa siswa “nakal” ke barak untuk dibina secara militer memang kembali mengemuka. Beberapa daerah bahkan sudah menerapkannya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi misalnya, secara terbuka mendukung langkah tersebut sebagai bentuk pembinaan karakter bagi pelajar yang melanggar aturan.
Baca Juga: Unik! Ikon Iguana Raksasa Mojokerto Bikin Siswa Betah Sekolah
Namun di Tuban, pendekatannya berbeda. Alih-alih menggunakan metode yang keras dengan didik siswa nakal di barak, Pemkab Tuban justru menekankan pentingnya pendidikan yang menyentuh hati dan jiwa.
“Kami di Tuban punya basis kuat, ada pesantren, ada tokoh agama, ada tokoh masyarakat. Semua itu bagian dari ekosistem pendidikan yang sudah terbentuk sejak lama,” ujar bupati yang akrab disapa Mas Lindra itu.
Kekuatan Kuat pada Pendidikan Berbasis Agama
Menurut dia, keberadaan lembaga pendidikan berbasis agama sudah tersebar hingga ke pelosok desa. Dari sekolah dasar hingga tingkat menengah, baik negeri maupun swasta, sudah cukup menjangkau masyarakat.
“Kalau soal fasilitas, kami sudah siap. Sekolah-sekolah ada di mana-mana, bahkan di tingkat desa pun sudah terjangkau. Tinggal bagaimana kami memaksimalkan potensi yang ada, bukan justru membuat kebijakan baru yang belum tentu cocok,” katanya.
Lindra juga mengaku bersyukur bahwa pola pendidikan kolaboratif yang melibatkan pesantren sudah berjalan baik.
“Dengan adanya ulama dan pondok pesantren, kami bisa membina anak-anak. Mereka bisa belajar akhlak, etika, dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.
Saat ini, Pemkab Tuban juga tengah menyiapkan sekolah rakyat dari program Kemensos RI yang nantinya berbasis asrama. Sekolah ini diharapkan bisa menjadi alternatif bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu atau yang tinggal jauh dari pusat kota agar tetap mendapatkan pendidikan layak dengan pembinaan karakter.
“Insyaa Allah, semoga saja bisa terealisasi. Sekolah rakyat ini lengkap dengan asrama. Nantinya akan dibangun bertahap dari tingkat SD, SMP, sampai SMA. Kami sudah siapkan lahannya. Tinggal menunggu progresnya,” ujarnya.
Lindra berharap masyarakat mendukung upaya ini. Menurut dia, membangun karakter siswa bukan soal keras-lembut, melainkan soal pendekatan yang tepat sesuai budaya setempat.
“Tidak semua yang viral itu cocok di semua tempat. Kami harus lihat konteks daerahnya. Tuban punya kekuatan sendiri, dan itu yang akan kami rawat,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








