MALANG, Tugujatim.id – Bus Trans Jatim telah mengaspal manis membelah rute strategis di jantung Kota Malang sejak November 2025 lalu. Sementara angkutan kota (Angkot) di Kota Malang menangis tergerus minat masyarakat yang kian menipis. Kini, Komisi C DPRD Kota Malang kembali mendorong pemerintah untuk benar benar mengintegrasikan Bus Trans Jatim dengan angkot di Kota Malang.
Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, M Anas Muttaqin mengatakan bahwa minat masyarakat terhadap Bus Trans Jatim besutan Pemprov Jatim itu terus menunjukkan tren positif.
Polesan fasilitas yang memanjakan penumpang, ditambah harga yang hanya Rp 5 ribu untuk rute Kota Malang sampai Kota Batu, membuat transportasi publik itu terus dipenuhi penumpang.
Sementara di sudut-sudut jalanan, transportasi publik lokal Malang yakni Angkot semakin lesu. Tantangannya tak henti hentinya datang. Belum rampung pulihnya dari gempuran transportasi online, kini Bus Trans Jatim datang sebagai pesaing baru.
DPRD Dorong Integrasi Bus Trans Jatim dan Angkot
Melihat kondisi itu, Anas mendorong Pemprov Jatim dan Pemkot Malang juga memberdayakan angkutan lokal tersebut. Baginya, integrasi dua transportasi publik itu perlu dilakukan. Mengingat, operasional Bus Trans Jatim sedikit banyak telah mengiris sumber pendapatan para sopir angkot di Kota Malang.
“Kalau Trans Jatim berjalan tanpa dibarengi integrasi dengan sistem angkutan kota, tentu sangat disayangkan. Sejak awal kami sudah mendorong agar transportasi lokal juga diberdayakan,” tegasnya.
Sejauh ini, hanya satu program yang bisa menjadi asa para sopir angkot di Kota Malang. Yakni subsidi angkot dari pemerintah untuk proyek Angkot Pelajar Gratis. Namun itupun belum terealisasi meski hanya direncanakan untuk 80 angkot di tahap awal.
“Usulan DPRD yang mau dilaksanakan tahun ini kan subsidi angkutan sekolah itu. Tapi saat ini, itu sedang difinalisasi menuju tahap akhir,” ujarnya.
Bicara soal integrasi, Anas berharap transportasi publik Kota Malang di masa depan benar benar berpihak kepada masyarakat lokal. Ia tak mau pembangunan insfrastruktur transportasi publik justru mematikan angkutan lokal.
Revitalisasi Jalu Angkot Masuk Usulan Evaluasi
Skema angkot menjadi feeder atau pengumpan Bus Trans Jatim juga bisa menjadi bentuk integrasi kedua armada itu. Terlebih, konsep ini sudah diwacanakan jauh sebelum Trans Jatim dioperasikan di Malang.
Selain itu, Anas juga mendorong Pemkot Malang melakukan revitalisasi jalur angkot. Melalui dukungan kebijakan, ia yakin geliat perekonomian para sopir angkot akan bertumbuh.
“Sekarang kan banyak daerah sudah berkembang, yang dulu sepi sekarang ramai (tapi tak ada angkot). Lalu ketika jalur lama tak lagi diminati masyarakat ya tentu sepi penumpang. Inilah yang perlu dikaji,” tuturnya.
Lebih jauh, Komisi C menilai keluhan sopir angkot terkait jarak antar halte Bus Trans Jatim yang dianggap terlalu rapat perlu menjadi bahan evaluasi. Dikatakan, meski penyusunan rute dan halte sebelumnya telah melibatkan paguyuban angkot, evaluasi tetap harus dilakukan berdasarkan kondisi di lapangan.
Ia berkomitmen bahwa Komisi C DPRD Kota Malang juga akan segera melanjutkan aspirasi terkait integrasi Bus Trans Jatim dan angkot ke DPRD Provinsi Jatim. Termasuk evaluasi Trans Jatim hingga rencana koridor baru di wilayah Malang. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : M. Sholeh
Editor: Mochamad Abdurrochim








