Catatan Mudik (13)-Pemudik Waspada Kerusakan Jalinsum saat Masa Arus Balik - Tugujatim.id

Catatan Mudik (13)-Pemudik Waspada Kerusakan Jalinsum saat Masa Arus Balik

  • Bagikan
Jalinsum. (Foto: Abdi Purmono/Tugu Jatim)
Kondisi jalan lintas timur Sumatera (Jalintimsum) di wilayah Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (06/05/2022). (Foto: Abdi Purmono)

JAMBI, Tugujatim.id — Memasuki H+6 Lebaran 2022, arus balik mudik tampak di sepanjang jalan negara lintas timur Sumatera atau Jalinsum dari Kota Palembang, Sumatera Selatan, ke Kota Jambi, Provinsi Jambi, dan sebaliknya. Kondisi ini juga terlihat di sepanjang Jalinsum dari Kota Bandar Lampung ke Palembang (318 kilometer). Begitu juga dari arah sebaliknya.

Kondisi itu saya lihat dan rasakan saat melintasi Jalinsum Provinsi Lampung ke Palembang pada Kamis (05/05/2022) dan Jalinsum Provinsi Sumatera Selatan ke Jambi Jumat (06/05/2022).

Sementara itu, arus balik di Jalinsum Provinsi Lampung lebih lancar dibanding arus balik di Jalinsum Provinsi Sumatera Selatan. Bahkan, mobil dan sepeda motor pemudik melaju tanpa banyak melambatkan laju kendaraan untuk bermanuver menghindari lubang-lubang di jalan. Umumnya pemudik berhenti di toko ritel modern dan area peristirahatan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Hal ini tampak kontras di Jalinsum Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatera Selatan, terutama dan khususnya di jalur sepanjang 71 kilometer dari gapura perbatasan Muba dengan Kota Palembang sampai jelang kota Kecamatan Betung, Muba. Belum jauh selepas gapura perbatasan saja sudah tampak lubang-lubang besar yang cukup dalam. Selain lubang, kontur jalan arteri itu juga bergelombang. Sebagian jalan dikelupas untuk diperbaiki. Tumpukan pasir tampak di beberapa titik.

Kerusakan Jalinsum Palembang-Betung ini membuat Ose, pemuda usia 20 tahun, gusar.

“Saya ini korban jalanan berlubang itu, Pak. Bagian depan motor saya hancur begini dan gigi saya patah,” kata Ose kepada saya di SPBU Supat Babat, Muba, seraya menunjukkan bagian depan motornya tanpa lampu dan menunjuk giginya yang rompal.

Tamatan SMA itu mengaku tak habis pikir kenapa jalanan rusak di Gajah Mati (sebutan untuk rute Palembang-Betung) belum diperbaiki. Ose merasa kasihan kepada para pemudik, khususnya pemudik bersepeda motor yang membawa keluarga. Dia tidak berani membayangkan apa yang terjadi jika ban motornya menghantam lubang besar dan dalam.

Ose mengatakan, selain dapat merusak kendaraan, jalanan rusak juga menghambat arus lalu lintas dan terutama mengancam keselamatan jiwa pengendara.

“Tolong Pak kasih tahu pemerintah untuk segera perbaiki jalan itu. Mereka bisa enak-enak di rumah tanpa tahu ada ribuan orang yang adu nasib di jalanan rusak. Anehnya di sini, tiap ada pembangunan jalanan, tak sampai sebulan sudah rusak lagi,” kata Ose, disaksikan 5 temannya. Salah satunya bernama Medi.

Menurut Medi, jalan rusak bisa ditemukan lagi selepas Supat Babat. Medi dan Ose coba mengingat-ingat jalanan rusak yang mereka ketahui. Medi menyebut beberapa titik jalan yang harus diwaspadai, seperti di Dusun Tiga, Dusun Sembilan, Kampung Baru, Simpang Village Delapan, Desa Seratus Lapan, dan Village 19.

Sama dengan Ose, Medi pun kenapa rute Palembang-Betung cepat rusak. Bahkan, Medi menduga, rusaknya jalan bukan karena ketiadaan ahli konstruksi jalan yang hebat dan mumpuni, tapi karena korupsi. Bisa jadi anggaran pembangunan maupun perbaikan jalan dikorupsi sehingga mengurangi volume material dan menurunkan kualitas jalan.

“Saya sih menduganya begitu, Pak. Ada pernah saya baca di internet soalnya. Laporin saja pada Pak Jokowi biar jalannya segera diperbaiki atau yang sedang diperbaiki segera diselesaikan, masak tumpukan pasir dibiarkan berserakan, kan bisa membahayakan mata pengendara kalau kena angin pasirnya,” kata Medi.

Sebagian besar jalan rusak yang diinformasikan Ose dan Medi terbukti benar. Selepas Supat Babat, meski tak sebanyak di rute Palembang-Betung, banyak lubang di Jalinsum arah ke Jambi. Sebagian jalan ditambal sulam begitu saja. Sedangkan sisi jalan ke Palembang relatif lebih mulus. Di kota Kecamatan Sungai Lilin, misalnya, sebagian jalanan tampak berlubang dan bergelombang. Banyak kendaraan berhenti di sini untuk mengisi bahan bakar minyak.

Secara umum, kondisi Jalinsum selepas Supat Babat bagus. Namun, masalah jalan rusak muncul lagi di wilayah Kecamatan Bayung Lencir, mendekati perbatasan Kota Jambi. Ada sekitar 2 kilometer jalan yang sedang dikelupas untuk diperbaiki sehingga pengendara berjalan pelan, melakukan zigzag untuk menghindari lubang. Sedangkan bus dan truk cenderung tak mau pelan sehingga debu membubung ke atas, beterbangan ke segala arah dan mengganggu penglihatan.

“Dari Bayung Lencir ke Jambi tinggal 1 jam lagi sebenarnya. Tapi karena ada jalan yang jelek, bisa lebih sedikitlah waktu tempuhnya. Jalan jelek itulah masalahnya di Bayung Lencir,” kata Ramond, seorang aktivis di Kota Jambi.

Saat memasuki wilayah Kota Jambi, saya masih menjumpai empat-lima lubang besar dan salah satunya nyaris membuat saya terjatuh. Setelah itu lancar hingga memasuki kota.

Kerusakan jalan yang saya saksikan setidaknya terkonfirmasi oleh pernyataan Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BPPJN) V Budiamin di Jakarta, 26 April 2022, sebagaimana diberitakan sejumlah media.

Budiamin mengatakan, terdapat jalan nasional sepanjang 138 kilometer di Sumatera Selatan masih rusak arus mudik Lebaran 2022. Perbaikan baru sebatas tambal sulam di titik-titik tertentu untuk mencegah kerusakan makin parah.

Total panjang jalan nasional di wilayah Sumatera Selatan 1.600 kilometer, mencakup 410,170 kilometer jalan lintas timur; 471,240 kilometer jalan lintas tengah; 649,540 kilometer jalan lintas penghubung, serta 69,230 kilometer di wilayah metropolitan Palembang. Sebagian pelaksanaan kontrak pengerjaan jalan dilakukan Maret lalu.

BBPJN V memang sudah menginstruksikan kepada para kontraktor untuk memperbaiki jalan rusak meski perbaikannya masih bersifat sementara karena masih memakai agregat, setidaknya bisa dilintasi pemudik dengan aman. Untuk itu, petugas disiagakan di daerah rawan yang jalannya masih rusak.

Sedangkan Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Komisaris Besar M. Pratama Adhyasastra menginformasikan jalan rusak menjadi salah satu penyebab kemacetan utama di kawasan Sumatera Selatan. Jalan lintas Sumatera pun cenderung sempit dengan lebar 14 meter untuk dua lajur yang dilintasi berbagai jenis kendaraan, mulai dari berukuran besar hingga sepeda motor.

Apabila ada truk mogok atau kecelakaan seperti terjadi di jalan Palembang-Betung, maka menimbulkan kemacetan Panjang di musim mudik dan arus balik.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan