Catatan Mudik (7) Mancing Asyik di Danau Rawapening, Semarang - Tugujatim.id

Catatan Mudik (7) Mancing Asyik di Danau Rawapening, Semarang

  • Bagikan
Suasana Danau Rawapening Semarang Minggu. (Foto: Abdi Purmono)

SEMARANG, Tugujatim.id – Muhammad Ardi dan lima kawannya beberapa kali bergeser untuk mendapatkan posisi terbaik melemparkan joran pancing di perairan Danau Rawapening sampai akhirnya mereka bertahan di bawah Jembatan Tuntang di wilayah Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

Ardi seorang pekerja pabrik berumur 25 tahun. Ia hobi memancing sejak kecil karena rumah orangtuanya memang berada di tepi Danau Rawapening, tepatnya di Desa Mangkelang, Kecamatan Bawen.

“Ikan nila paling laku di sini. Ikannya gampang dipancing, dimakan pun enak,” kata Ardi kepada di kolong Jembatan Tuntang, Minggu siang, 1 Mei 2022.

Menurut Ardi, ada sekitar 15 jenis ikan lain yang menghuni danau seluas 2.670 hektare itu. Dari seluruh jenis ikan ini, yang populer adalah nila, mujair, gabus atau dhelek, lobster air tawar, dan bawal. Ada pula sepat rawa, sepat siam, lele, dan wader.

Suasana Danau Rawapening, Semarang, Minggu (1/4). (Foto: Abdi Purmono)

Ikan nila paling disuka pemancing karena harganya mahal dan enak dimakan dengan cara digoreng dan dibakar. Harga sekilo nila segar Rp 35 ribu.

Harga ikan gabus atau Channa striata paling tinggi, bisa mencapai Rp 100 ribu per kilo. Kandungan nutrisi yang membuat harga ikan gabus paling mahal. Albumin ikan gabus sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia, terutama untuk penyembuhan luka pasca-operasi dan luka bakar.

Harga lobster Rp 75.000 per kilogram. Sekilo mujair bisa laku Rp 25 ribu. Harga bawal juga lumayan tinggi di kisaran Rp 30 ribuan, tapi tidak begitu diminati pembeli karena banyak durinya.

Informasi sejenis disampaikan Mastur, 60 tahun, tetangga Ardi. Mastur juga pemilik warung makan.

Mastur bilang, saat ini lagi musim panen ikan Rawapening, Maret sampai Juli.

Suasana Danau Rawapening, Semarang, Minggu (1/4). (Foto: Abdi Purmono)

“Selain dijual, biasanya ikan hasil tangkapan dibakar di warung. Ya diolah sesuai pesanan pembeli,” kata Mastur.

Mastur sendiri lebih suka ikan gabus dengan alasan kesehatan, selain alasan gampang diolah dengan cara digoreng, dibakar, diopor, dan dibacem. “Timbang mujair, enakan gabus bagi saya,” ujarnya.

Namun, Ardi dan Mastur punya kecemasan serupa, yaitu luas danau yang menyusut akibat sedimentasi atau pendangkalan gara-gara kehadiran eceng gondok. Gulma bersifat invasif ini hadir sejak puluhan tahun silam tapi belum sepenuhnya mampu dibersihkan.

Danau Rawapening biasanya dijumpai para pengendara yang melintasi poros Solo-Semarang atau sebaliknya melalui jalan utama non-tol ketika sampai di wilayah Kecamatan Tuntang.

Danau Rawapening membentang di empat kecamatan (Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyuwangi) Kabupaten Semarang.

Rawapening terletak di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran. Ia menjadi hulu bagi Sungai Tuntang.

Saat ini, secara teknis, diperkirakan luas Danau Rawapening tinggal 1.850 hektare akibat pendangkalan. Kondisi ini yang membuat Danau Rawapening masuk ke dalam kelompok 15 danau berkondisi kritis di Indonesia.

Kondisi kritis itu kontras dengan keindahan danau dan banyaknya lokasi wisata yang terus bertambah dan dikembangkan.

Saat ini ada beberapa objek wisata kekinian di sana seperti wisata Bukit Cinta dan Jembatan Biru, yang melengkapi objek wisata lawas Stasiun Kereta Ambarawa. (ABDI PURMONO)

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan