Tugujatim.id – Dongeng selalu memiliki daya tarik tersendiri, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Melalui cerita dongeng pendek, kamu bisa menjelajahi dunia penuh keajaiban, petualangan seru, dan pelajaran moral yang berharga. Setiap kisah membawa pesan tersirat yang bisa menginspirasi dan membentuk karakter.
Dalam artikel ini, kamu akan menemukan berbagai cerita dongeng pendek terbaik yang mengajarkan tentang kecerdikan, keberanian, dan kebaikan hati.
Tak hanya menghibur, cerita-cerita dongeng pendek ini juga mengandung nilai kehidupan yang bisa kamu terapkan dalam keseharian. Yuk, simak kisah-kisah seru ini dan temukan pesan moral di baliknya!
Si Kancil dan Buaya
Pada suatu hari yang panas, Si Kancil merasa sangat haus dan ingin menyeberangi sungai untuk mencari air yang lebih jernih. Namun, saat melihat ke dalam air, ia melihat puluhan mata buaya yang mengintainya dengan lapar.
Kancil yang cerdik pun mendapatkan ide. Ia berseru kepada para buaya, “Wahai Buaya, aku membawa kabar baik! Raja hutan akan mengadakan pesta besar dan mengundang semua hewan, termasuk kalian! Tapi sebelum itu, aku harus memastikan berapa jumlah kalian agar cukup makanan yang disediakan.”
Buaya-buaya yang serakah dan percaya begitu saja segera berbaris membentuk jembatan. Dengan sigap, Kancil melompati punggung mereka satu per satu sambil berpura-pura menghitung.
Begitu sampai di seberang, ia tertawa dan berkata, “Terima kasih, Buaya! Aku hanya ingin menyeberang!” Buaya-buaya pun marah, tetapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena Kancil sudah pergi jauh.
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Si Kancil dan Buaya: kecerdikan bisa menyelamatkan kamu dalam situasi sulit.
Timun Mas dan Raksasa Jahat
Seorang janda tua yang sangat ingin memiliki anak akhirnya mendapatkan seorang bayi perempuan yang tumbuh di dalam timun emas. Ia merawat anak itu dengan penuh kasih sayang dan menamainya Timun Mas.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika raksasa yang dulu memberikan biji timun datang menagih janji: ia ingin memakan Timun Mas.
Sang ibu yang cerdik memberi Timun Mas kantong berisi biji timun, garam, cabai, dan terasi sebelum menyuruhnya lari.
Saat raksasa mengejar, Timun Mas melemparkan biji timun, yang langsung tumbuh menjadi hutan lebat dan menghalangi raksasa.
Ia kemudian melempar garam yang membuat tanah menjadi lautan luas. Ketika raksasa hampir menangkapnya, ia melempar cabai, yang berubah menjadi lautan api. Terakhir, Timun Mas melempar terasi yang menciptakan lumpur hisap. Raksasa pun tenggelam dan tak pernah kembali lagi.
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Timun Mas dan Raksasa Jahat: keberanian dan kecerdikan bisa membantu kamu menghadapi tantangan hidup.
Baca juga: 4 Cerita Legenda Bahasa Inggris dengan Kisah-kisah Seru yang Memikat
Si Burung Pipit yang Baik Hati
Seekor burung pipit kecil sedang terbang mencari makan ketika ia melihat seekor ular terjepit di bawah batu besar.
Dengan susah payah, burung pipit mencoba menggeser batu itu. Akhirnya, setelah berusaha keras, batu itu berguling dan ular terbebas.
Namun, bukannya berterima kasih, ular malah mendesis, “Aku lapar, dan kamu terlalu baik. Aku akan memakanmu!” Burung pipit yang ketakutan segera terbang mencari pertolongan dan bertemu dengan Rajawali.
Setelah mendengar cerita pipit, Rajawali pun terbang dan menangkap ular jahat itu, menyelamatkan burung pipit dari bahaya.
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Si Burung Pipit yang Baik Hati: berbuat baik itu penting, tetapi tetaplah waspada terhadap niat buruk orang lain.
Legenda Danau Toba
Seorang pemuda bernama Toba hidup seorang diri sebagai nelayan. Suatu hari, ia menangkap seekor ikan emas yang sangat cantik.
Saat ia hendak memasaknya, ikan itu berbicara, “Jangan makan aku! Aku sebenarnya adalah putri yang dikutuk. Jika kamu menikahiku, aku akan kembali menjadi manusia.”
Toba setuju, dan ikan itu berubah menjadi seorang wanita cantik. Mereka hidup bahagia dan memiliki seorang anak.
Namun, sang istri memperingatkan Toba agar tidak pernah menyebut anak mereka sebagai “anak ikan.”
Sayangnya, suatu hari, dalam kemarahan, Toba melanggar janji itu. Istrinya dan anak mereka pun kembali ke air, dan tempat mereka menghilang berubah menjadi Danau Toba.
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Legenda Danau Toba: jangan pernah mengingkari janji, karena setiap kata memiliki konsekuensi.
Lutung Kasarung
Putri Purbasari diusir dari istana oleh saudara perempuannya, Purbararang, yang iri karena kecantikan dan kebaikannya. Ia dibuang ke dalam hutan belantara dan hanya ditemani oleh seekor lutung misterius yang selalu setia melindunginya. Tanpa ia ketahui, lutung itu sebenarnya adalah seorang pangeran tampan yang dikutuk oleh dewa.
Hari demi hari, Purbasari menjalani kehidupannya di hutan dengan bantuan sang lutung. Lutung Kasarung menggunakan kekuatan gaibnya untuk menciptakan makanan lezat dan lingkungan yang nyaman bagi Purbasari. Ia juga memberikan air dari sumber ajaib yang membuat Purbasari semakin cantik dan sehat.
Suatu hari, raja memerintahkan Purbararang untuk membuktikan bahwa dirinya lebih layak menjadi pemimpin dibandingkan Purbasari.
Mereka pun melakukan berbagai ujian, termasuk siapa yang memiliki rambut lebih indah dan wajah lebih cantik. Dengan bantuan Lutung Kasarung, Purbasari memenangkan semua tantangan tersebut.
Purbararang yang marah mengajukan tantangan terakhir: siapa yang memiliki tunangan paling tampan. Dengan penuh percaya diri, Purbararang menunjukkan tunangannya yang gagah. Namun, Purbasari hanya bisa menunjuk Lutung Kasarung. Semua orang pun tertawa.
Namun, dalam sekejap, Lutung Kasarung berubah menjadi pangeran yang sangat tampan. Semua orang terkejut, termasuk Purbararang, yang akhirnya mengakui kekalahannya.
Pada akhirnya, kutukan lutung pun terangkat, dan ia menikahi Purbasari, yang kemudian menjadi ratu yang bijaksana.
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Lutung Kasarung: kebaikan dan ketulusan hati akan membawamu kepada kebahagiaan sejati.
Bawang Merah dan Bawang Putih
Bawang Putih adalah gadis baik hati yang selalu sabar meskipun diperlakukan dengan kasar oleh ibu tiri dan saudara tirinya, Bawang Merah.
Setiap hari, ia harus melakukan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang Merah hanya bersantai. Meskipun begitu, Bawang Putih tidak pernah mengeluh dan tetap berbuat baik.
Suatu hari, saat mencuci pakaian di sungai, Bawang Putih tanpa sengaja kehilangan kain milik ibu tirinya. Karena takut dimarahi, ia pun mencari kain itu hingga ke hulu sungai.
Di sana, ia bertemu dengan seorang nenek tua yang menawarkan bantuan. Sebagai balasannya, Bawang Putih membantu sang nenek melakukan pekerjaan rumah.
Sebelum pulang, nenek itu memberinya hadiah sebuah labu kecil yang ternyata berisi emas dan perhiasan.
Melihat hal itu, Bawang Merah yang serakah ingin mendapatkan hal yang sama. Namun, karena ia bersikap kasar dan tidak mau membantu nenek tersebut, ia justru diberi labu yang berisi ular dan serangga berbisa.
Akibatnya, ia mendapatkan kutukan karena keserakahannya, sementara Bawang Putih hidup bahagia.
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Bawang Merah dan Bawang Putih: kebaikan hati selalu berbuah manis, sementara keserakahan membawa kehancuran.
Kelinci dan Kura-Kura
Suatu hari di hutan, Kelinci yang terkenal cepat berlari menertawakan Kura-Kura yang bergerak lambat. “Kura-Kura, kamu berjalan terlalu lambat! Bahkan kalau aku tidur pun, aku masih bisa mengalahkanmu dalam perlombaan!” ejek Kelinci.
Kura-Kura tersenyum dan menjawab, “Kalau begitu, ayo kita buktikan. Kita berlomba sampai ke pohon besar di bukit sana.”
Perlombaan pun dimulai. Kelinci melesat jauh ke depan dan dengan percaya diri berkata, “Aku punya banyak waktu! Lebih baik aku tidur sebentar.” Ia pun berbaring di bawah pohon dan tertidur lelap.
Sementara itu, Kura-Kura tetap berjalan pelan tapi pasti. Langkah demi langkah, ia terus mendekati garis finis tanpa berhenti.
Ketika Kelinci akhirnya terbangun, ia terkejut melihat Kura-Kura sudah hampir sampai di garis akhir. Panik, Kelinci berlari secepat mungkin, tetapi terlambat, Kura-Kura sudah memenangkan perlombaan!
“Aku tidak percaya… Aku kalah dari Kura-Kura!” seru Kelinci dengan wajah penuh penyesalan.
Kura-Kura tersenyum bijak dan berkata, “Perlahan tapi pasti, itulah kunci kemenangan. Jangan pernah meremehkan usaha sekecil apa pun.”
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Kelinci dan Kura-kura: jangan pernah meremehkan orang lain, dan teruslah berusaha dengan gigih.
Baca juga: 7 Dongeng Sebelum Tidur yang Bikin Tidur Si Kecil Nyenyak dan Mimpi Indah
Putri Salju dan Tujuh Kurcaci
Putri Salju yang cantik harus melarikan diri dari ibu tirinya yang iri. Ia berlari ke dalam hutan dan menemukan sebuah rumah kecil milik tujuh kurcaci. “Siapa kamu?” tanya salah satu kurcaci dengan penasaran. “Aku Putri Salju, mohon izinkan aku tinggal di sini,” jawabnya dengan suara gemetar. Para kurcaci yang baik hati pun menerimanya.
Namun, ibu tiri Putri Salju yang jahat mengetahui bahwa putri masih hidup. Ia pun menyamar sebagai wanita tua dan mendatangi rumah kurcaci, membawa sebuah apel beracun. “Cobalah apel ini, manis dan segar,” bujuknya. Putri Salju yang tidak curiga menggigit apel tersebut dan seketika jatuh pingsan.
Saat para kurcaci menemukannya, mereka sangat sedih dan membuat peti kaca untuknya. Berhari-hari kemudian, seorang pangeran yang sedang melewati hutan melihat Putri Salju dan jatuh cinta padanya.
Ia mendekat dan berkata, “Dia begitu cantik, biarkan aku menciumnya.” Begitu ia mencium Putri Salju, sihir pun hilang, dan Putri Salju terbangun. Mereka pun hidup bahagia selamanya.
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Putri Salju dan Tujuh Kurcaci: kebaikan dan kejujuran akan selalu menang atas kejahatan.
Si Ulat dan Kupu-Kupu
Seekor ulat kecil selalu direndahkan oleh hewan-hewan lain karena bentuknya yang jelek. “Lihat si ulat lamban itu! Badannya aneh dan tidak menarik sama sekali!” ejek seekor burung gagak.
Ulat kecil itu hanya tersenyum dan berkata, “Aku mungkin tidak seindah kalian sekarang, tetapi aku yakin suatu hari aku akan berubah.”
Meski terus diejek, ulat kecil tetap berusaha bertahan hidup. Ia terus makan dan perlahan membangun kepompongnya. “Kenapa dia malah menyelimuti dirinya? Apa dia takut keluar dan menghadapi kami?” kata seekor monyet yang ikut menertawakan ulat tersebut.
Beberapa waktu berlalu, dan tiba saatnya ulat itu keluar dari kepompongnya. Ketika ia membuka sayapnya yang indah berwarna-warni, semua hewan yang dahulu merendahkannya kini terdiam. “Astaga! Itu si ulat? Dia sekarang menjadi kupu-kupu yang sangat cantik!” seru burung gagak dengan kagum.
Kupu-kupu itu tersenyum dan berkata, “Inilah hasil dari kesabaran dan keyakinanku. Semua makhluk memiliki waktunya sendiri untuk bersinar.” Ia pun terbang dengan anggun, meninggalkan para hewan yang kini sadar bahwa setiap perubahan membutuhkan proses dan kesabaran.
Pesan moral dari cerita dongeng pendek Si Ulat dan Kupu-kupu: percayalah pada proses, karena perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil.
Setiap cerita dongeng pendek yang telah kamu baca memiliki nilai moral yang dapat menginspirasi kehidupan sehari-hari. Semuanya memberikan pelajaran berharga tentang kehidupan.
Semoga kisah-kisah ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengingatkan kamu bahwa kebijaksanaan, kerja keras, dan kebaikan hati selalu membawa hasil yang baik. Di antara cerita-cerita dongeng pendek ini, mana yang paling berkesan bagi kamu??
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Tiara M