Tugujatim.id – Siapa yang tidak kenal Kancil? Hewan kecil yang cerdik ini kerap dijadikan tokoh dalam cerita rakyat Jawa. Namun, di balik kecerdasannya, ada pula kisah yang mengajarkan bahwa kelicikan tidak selalu membawa kebaikan. Inilah kisah Kancil Pencuri Timun, cerita rakyat yang melegenda di masyarakat Jawa.
Awal Kisah Kancil yang Licik
Di sebuah hutan yang rindang, hiduplah seekor kancil yang terkenal cerdik. Ia sering menggunakan akalnya untuk menghindari bahaya dan mendapatkan makanan. Suatu hari, Kancil merasa lapar dan melihat kebun timun milik Pak Tani yang hijau subur. Dengan akalnya, ia mencari cara agar bisa mencuri timun tanpa ketahuan.
Namun, Kancil tidak hanya sekadar mencuri. Ia juga mengolok-olok Pak Tani yang tidak menyadari kehadirannya. “Pak Tani yang bodoh! Aku makan timunmu setiap malam, tapi kau tak pernah tahu!” kata Kancil dalam hati sambil tertawa kecil.
Baca Juga : Si Kabayan dan Kerbau, Cerita sunda pendek yang penuh hikmah !
Aksi Pencurian di Kebun Pak Tani
Malam hari, ketika Pak Tani tertidur lelap, Kancil menyelinap ke kebun. Dengan hati-hati, ia memakan timun yang segar. Setiap malam, ia mengulangi perbuatannya. Pak Tani mulai curiga karena banyak timun yang hilang tanpa jejak.
Suatu malam, Kancil mengajak teman-temannya, Tikus dan Kura-kura, untuk ikut mencuri timun. “Ayo kita berpesta di kebun timun!” ajak Kancil. Namun, Tikus yang licik malah membawa banyak timun untuk disimpan, sedangkan Kura-kura yang lambat hanya bisa makan sedikit. Kancil pun tertawa melihat perbedaan di antara mereka.
Baca Juga : 5 Cerita Rakyat Bahasa Inggris Terpopuler beserta maknanya !
Pak Tani Menjebak Kancil
Merasa jengkel, Pak Tani memasang jebakan di tengah kebunnya. Ia menaruh boneka jerami berlapis getah agar pencuri terperangkap. Keesokan malamnya, seperti biasa, Kancil datang dan melihat boneka itu. Ia mengira boneka itu adalah penjaga kebun dan mencoba menegurnya. Namun, boneka itu diam saja. Kesal, Kancil menendang boneka tersebut, tapi malah terjebak oleh getah yang lengket.
Melihat Kancil tertangkap, Tikus dan Kura-kura segera melarikan diri. “Maaf, Kancil! Aku tak mau ikut tertangkap!” kata Tikus sambil lari terbirit-birit. Sementara itu, Kura-kura hanya bisa berjalan pelan, berharap tidak tertangkap juga.
Baca Juga : 3 Dongeng Pendek Bahasa Sunda yang Sarat Pesan Bijak
Kancil Menggunakan Akalnya
Saat pagi tiba, Pak Tani menemukan Kancil yang tertangkap. Ia sangat senang karena akhirnya bisa menangkap pencuri timunnya. Namun, Kancil tidak kehabisan akal. Ia berpura-pura senang dan berkata, “Terima kasih, Pak Tani! Aku sudah menunggu ini. Akhirnya aku bisa diikat untuk dikorbankan kepada raja!”
Pak Tani kebingungan. Ia takut jika benar Kancil adalah hewan istimewa. Takut mendapat hukuman dari raja, Pak Tani pun melepaskan Kancil. Begitu bebas, Kancil segera berlari ke hutan dan tertawa karena berhasil lolos lagi.
Namun, kejadian ini menjadi pelajaran bagi Kancil. Ia kini tahu bahwa tidak selamanya kecerdikan bisa digunakan untuk menipu orang lain. Teman-temannya mulai menjauhinya karena takut terkena akibat dari kelicikan Kancil.
Pesan Moral dari Cerita Kancil Pencuri Timun
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kecerdikan bisa menyelamatkan seseorang dari bahaya. Namun, kecerdikan yang digunakan untuk berbuat curang bisa mendatangkan akibat buruk. Jika Kancil terus-menerus mencuri, suatu saat ia pasti akan tertangkap tanpa bisa lolos. Selain itu, kepercayaan dari teman dan orang lain juga bisa hilang jika seseorang terlalu sering berbuat curang.
Baca Juga : 5 Cerita Dongeng Bahasa Sunda yang Penuh Makna dan Legenda!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Ilmi Habibi Rahmatullah