JEMBER, Tugujatim.id – Anggota DPRD sekaligus Ketua Fraksi Partai Gerindra Hanan Kukuh Ratmono respons produksi petani kopi di Jember. Dia mendorong pemerintah daerah (pemda) untuk menghadirkan investor pabrik kopi di Jember guna menyerap produksi kopi lokal yang terus meningkat.
Menurut Hanan, langkah ini diharapkan dapat menstabilkan harga dan meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Jember.
Dia mengatakan, potensi kopi di Jember sangat besar dengan produksi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2024, produksi kopi Jember mencapai sekitar 11.000 ton, dan diperkirakan bisa mencapai 15.000 ton lebih pada 2025.
“Kami mewakili aspirasi petani kopi di Jember berharap pemerintah bisa menjembatani menghadirkan investor dan pabrik kopi agar bisa membeli produksi kopi yang sangat besar. Biar produksi kopi tidak lari ke kabupaten lain dan ada branding sendiri khusus Jember,” ujar Hanan pada Rabu (05/11/2025).
Politikus Partai Gerindra itu juga mengungkapkan, kendala utama yang dihadapi petani kopi di Jember adalah panjangnya rantai distribusi dari petani hingga ke pabrik. Hal ini menyebabkan selisih harga yang cukup tinggi, berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram.
Fluktuasi harga kopi juga menjadi persoalan serius. Pada musim panen raya kemarin, harga kopi robusta sempat mencapai Rp79.000 per kilogram, namun anjlok ke Rp44.000 per kilogram saat panen raya. Kondisi ini memaksa petani dengan modal kecil untuk menjual hasil panen dengan harga murah.
“Saat ini harga sudah mendekati Rp70.000 lagi. Dengan pemerintah menghadirkan pabrik dan distributor, kami berharap harga tidak terlalu jomplang di musim panen dan tidak panen,” jelasnya.
Anggota Komisi Janji Bahas Sektor Kopi bareng Pemerintah
Untuk mendorong optimalisasi sektor kopi, Hanan berjanji akan meminta anggota komisi terkait untuk membahas hal ini dalam pembahasan APBD dengan pemerintah. Tujuannya adalah menciptakan stabilitas harga yang menguntungkan petani.
Hanan juga menekankan pentingnya branding kopi Jember. Menurut dia, daerah tetangga seperti Dampit sudah membranding sejak 5-10 tahun lalu. Padahal, sebagian besar produksi kopi Dampit berasal dari Kabupaten Jember.
“Kopi Jember lebih dikenal sebagai kopi Dampit. Jember tidak punya branding sendiri. Kami perlu melakukan branding seperti Raung Kopi atau Argopuro Kopi, karena punya dua sisi pegunungan yang ditanami kopi,” ungkapnya.
Dari segi kualitas, Hanan yakin kopi Jember mampu bersaing di pasar. Kopi dari kaki Gunung Raung dan Argopuro memiliki ciri khas masing-masing yang dipengaruhi oleh karakter ketinggian lokasi penanaman.
Hanan juga menyebut sinkronisasi dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) sudah berjalan sejak lama. Sebagian besar bibit yang ditanam petani kopi di Jember berasal dari Puslitkoka, termasuk klon Tugusari dan klon-klon baru seperti klon Bagio yang memiliki produktivitas lebih tinggi.
“Tinggal pemerintah melakukan branding, kopi Jember pasti bisa bersaing,” ujar Hanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








