SURABAYA, Tugujatim.id – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Cahyo Harjo Prakoso menemukan kasus stunting dan prastunting di Kota Surabaya. DPRD Jatim menemukannya saat reses di wilayah RW 7 Pacarkeling, Kota Surabaya.
Cahyo mengungkapkan, dalam pertemuan dengan kader kesehatan setempat, pihaknya menerima sejumlah aspirasi terkait kebutuhan peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan, terutama penambahan peralatan penunjang seperti alat timbang balita, alat cek darah, serta berbagai komponen pendukung layanan kesehatan lainnya.
Baca Juga: RSD dr Soebandi Jemput Bola Berantas Stunting, Gelontor Miliaran Rupiah untuk Susu Formula
Menurut dia, kebutuhan tersebut mendesak karena jumlah penduduk di wilayah tersebut cukup tinggi sehingga pelayanan kesehatan masyarakat memerlukan penguatan sarana dan prasarana.
“Teman-teman kader kesehatan menyampaikan perlunya akselerasi atau tambahan peralatan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas layanan karena jumlah penduduk di wilayah itu cukup besar,” ujarnya saat diwawancarai di DPRD Jatim, Rabu (18/02/2026).
Selain kebutuhan fasilitas, dia juga menyoroti adanya sejumlah persoalan kesehatan masyarakat, salah satunya terkait kasus stunting. Berdasarkan laporan kader kesehatan, di wilayah RW tersebut terdapat tiga anak yang mengalami stunting dan delapan anak dalam kategori prastunting.
Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi perhatian serius karena terjadi di kawasan yang relatif dekat dengan pusat kota.
“Data yang disampaikan kader menunjukkan ada tiga anak stunting dan delapan anak prastunting di satu RW. Ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama,” katanya.
Pentingnya Kolaborasi Kelompok Rentan
Tidak hanya itu, Cahyo juga menekankan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan lainnya, termasuk ibu hamil dengan kondisi kesehatan berisiko. Dia berharap pemerintah daerah meningkatkan kegiatan monitoring dan evaluasi, termasuk memperkuat tim survei atau skrining kesehatan bagi ibu hamil dan anak-anak guna memastikan kesehatan dan tumbuh kembang mereka terpantau secara optimal.
Dia menilai, perlindungan kesehatan kelompok rentan merupakan kewajiban negara sehingga diperlukan langkah konkret dan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan.
“Pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan Kota Surabaya, diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dengan berbagai komponen masyarakat, mulai dari aparatur kecamatan dan kelurahan, RT/RW, kader kesehatan, hingga organisasi kepemudaan dan tokoh masyarakat,” jelas politikus muda dari Partai Gerindra ini.
Menurut dia, kerja sama lintas sektor tersebut penting agar kegiatan skrining kesehatan dapat dilakukan lebih masif, tidak hanya terkait masalah kesehatan fisik, tetapi juga menyangkut kondisi sosial ekonomi masyarakat, jaminan sosial, hingga berbagai persoalan sosial yang berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.
Baca Juga: YJI Malang Raya Bakal Screening 2 Ribu Pelajar Buntut Temuan Kasus Stunting Penderita Jantung
“Kalau seluruh komponen masyarakat bergotong royong memantau dan skrining secara proaktif, berbagai persoalan kesehatan maupun sosial bisa lebih cepat terdeteksi dan ditangani,” ujarnya.
Cahyo menambahkan, Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya telah memiliki sejumlah program akseleratif untuk menurunkan prevalensi stunting.
“Tapi keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan serta sinergi antara pemerintah dan masyarakat,” jelasnya.
Dia berharap dengan kerja sama yang lebih kuat, konsistensi program, serta peningkatan fasilitas dan pemantauan kesehatan masyarakat.
“Sehingga kasus stunting di Surabaya dapat ditekan hingga tidak lagi ditemukan di masa mendatang,” pungkas Cahyo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Khaesar
Editor: Dwi Lindawati








