SURABAYA, Tugujatim.id – Rencana pembangunan Rumah Sakit (RS) di kawasan Surabaya Selatan kembali menjadi sorotan DPRD Surabaya. Proyek strategis yang diharapkan menjawab kebutuhan layanan kesehatan warga itu terancam molor karena keterbatasan anggaran daerah.
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya dr Michael Leksodimulyo menegaskan kebutuhan rumah sakit di wilayah Surabaya Selatan sudah tidak bisa ditunda. Namun, kondisi keuangan daerah membuat pemkot harus berpikir realistis.
“Apakah rumah sakit itu perlu? Perlu sekali. Tapi dana yang disiapkan belum cukup,” ucap anggota DPRD Surabaya Michael, Sabtu, (25/10/2025).
Baca Juga: Optimalkan RS Kawasan Timur dan BDH, DPRD Surabaya Dukung Penundaan RS Surabaya Selatan
Menurut dia, jika pemkot tetap bersikeras membiayai proyek ini hanya dari APBD, konsekuensinya akan berat. Karena itu, muncul opsi menggandeng investor luar negeri untuk mempercepat pembangunan tanpa membebani kas daerah.
“Kalau dipaksakan dari APBD, beban anggaran akan besar. Opsi yang paling mungkin saat ini adalah kerja sama dengan investor, dan kabarnya ada ketertarikan dari India,” ungkap politikus PSI tersebut.
Michael menambahkan, penggunaan dana pinjaman juga dinilai berisiko tinggi karena masa balik modal (break even point/BEP) untuk rumah sakit bisa mencapai lebih dari satu dekade.
“Kalau BEP-nya 10 tahun, nanti wali kota berganti, kasihan wali kota berikutnya yang harus menanggung beban jangka panjang,” tuturnya.
Meski demikian, DPRD Surabaya menilai kebutuhan layanan kesehatan di Surabaya Selatan sudah sangat mendesak. Warga di kawasan itu selama ini harus menempuh perjalanan jauh ke Surabaya Timur atau Surabaya Pusat untuk berobat.
“Masyarakat Surabaya Selatan sangat membutuhkan. Jaraknya jauh, apalagi bagi keluarga pasien yang harus bolak-balik menjaga. Jadi ini benar-benar kebutuhan mendesak,” tegas Michael.
Nasib RS Surabaya Selatan Bergantung pada Kajian Investasi
Saat ini, proyek RS Surabaya Selatan masih dalam tahap kajian dan pembahasan kerja sama investasi. Investor disebut tengah melakukan riset dan studi kelayakan, termasuk peninjauan lahan lapangan sepak bola yang akan dialihfungsikan sebagai lokasi rumah sakit.
“Tahun 2025 ini masih kajian. Kalau nanti ada investor yang cocok, pembangunan bisa segera dimulai tanpa membebani APBD,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, masa depan RS Surabaya Selatan kini bergantung pada hasil kajian investasi yang tengah berlangsung.
Jika skema kerja sama dengan pihak luar berhasil, warga Surabaya Selatan berpeluang segera memiliki fasilitas kesehatan yang selama ini mereka dambakan tanpa menunggu APBD pulih sepenuhnya.
Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga mengakui bahwa rencana pembangunan RS Surabaya Selatan belum bisa direalisasikan pada 2026. Salah satu penyebabnya adalah adanya penyesuaian anggaran akibat pemotongan transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat.
“Sebenarnya direncanakan 2026, tapi karena ada pemotongan TKD yang cukup besar, kami harus menentukan prioritas,” pungkas Eri. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Layla Aini
Editor: Dwi Lindawati








