SURABAYA, Tugujatim.id – Di tengah riuhnya jagat media sosial yang kerap dipenuhi debat kusir dan ujaran kebencian, Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni memilih jalur berbeda.
Politikus yang akrab disapa Mas Toni ini menjadikan media sosial bukan panggung pencitraan, tetapi ruang dialog dan akuntabilitas politik yang hidup.
“Media sosial bagi saya bukan tempat untuk menunjukkan siapa paling benar, tapi tempat belajar bersama rakyat,” kata Toni pada Senin (13/10/2025).
Melalui akun Instagram pribadinya, @ariffathoni.official, Toni membagikan keseharian, refleksi hidup, hingga kegiatan legislatifnya dengan gaya yang ringan namun bernas. Dia tidak segan membalas komentar warganet, baik yang memuji, mengkritik, bahkan mencaci.
“Saya senang menjawab langsung. Bagi saya, kritik dan pujian punya nilai yang sama: umpan balik dari masyarakat,” tutur alumnus Universitas Bhayangkara itu, sambil tersenyum.
Politik Dua Arah di Era Digital
Menurut Wakil Ketua DPRD Surabaya ini, media sosial kini telah menjadi “ruang parlemen baru” di mana publik bisa langsung menyuarakan aspirasi tanpa harus menunggu forum formal. Dia meyakini, transparansi digital adalah bentuk nyata dari tanggung jawab moral seorang wakil rakyat.
“Setiap suara yang dititipkan kepada kami harus bisa dipertanggungjawabkan, salah satunya lewat komunikasi digital yang jujur dan terbuka,” tegas politikus Partai Golkar ini.
Dia juga menekankan bahwa media sosial dan media massa konvensional sama-sama penting dalam menjaga keterbukaan informasi publik.
“Media mainstream memberi kedalaman, sementara media sosial memberi kedekatan. Keduanya saling melengkapi,” ujarnya.
Refleksi Humanis di Tengah Polarisasi
Menariknya, unggahan Toni tidak melulu soal politik. Kadang dia menulis kutipan reflektif seperti pepatah yang sempat viral di laman Instagram-nya:
“Teruslah berjalan sesuai cita-citamu, karena orang yang tidak mengenalmu akan terus membencimu. Biarkan energi mereka habis untuk menilaimu, sementara engkau terus melangkah mewujudkan rencanamu,” tulisnya.
Dia menutup kutipan itu dengan kalimat sederhana namun sarat makna.
“Jangan lupa tersenyum, karena itu sedekah paling sederhana untuk lingkungan sekitarmu,” imbuhnya.
Menjaga Ruang Digital Tetap Sehat
Toni menyadari, algoritma media sosial mudah memicu polarisasi. Karena itu, dia berkomitmen menjaga ruang digitalnya tetap teduh dan edukatif.
“Kita semua punya tanggung jawab untuk menghadirkan pendidikan politik yang sehat. Jangan biarkan media sosial menjadi jembatan kebencian,” terangnya.
Melalui gaya komunikasi yang hangat, reflektif, dan responsif, Toni menunjukkan bahwa politik bisa tampil humanis di dunia maya. Dia berharap, pendekatan ini dapat menginspirasi politisi lain.
“Semoga semakin banyak politikus yang bukan hanya hadir di media sosial, tapi juga hadir untuk berinteraksi. Karena di sanalah jembatan kepercayaan publik dibangun,” pungkasnya. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Layla Aini
Editor: Dwi Lindawati








