Tugujatim.id — Fenomena fear of missing out (FOMO) kini mulai bergeser ke joy of missing out (JOMO). Lalu bagaimana manfaat FOMO vs JOMO bagi kesehatan mental saat ini?
Tren digital terus berkembang, tetapi semakin banyak orang mulai mempertanyakan dampak media sosial terhadap kesejahteraan mereka. Fenomena FOMO, yaitu kecemasan karena takut tertinggal dari kehidupan orang lain, bergeser ke JOMO, yaitu kebahagiaan karena tidak selalu terhubung dengan dunia digital. Apa yang menyebabkan perubahan ini, dan bagaimana manfaatnya bagi kesehatan mental?
Apa Itu FOMO dan Mengapa Bisa Merugikan?
FOMO adalah perasaan cemas yang muncul saat seseorang merasa tertinggal dari tren, acara, atau aktivitas sosial yang dilakukan orang lain, terutama setelah melihat unggahan di media sosial. Dr. Dan Herman, seorang peneliti pemasaran, pertama kali mengidentifikasi istilah ini pada 1996. Namun, dengan meningkatnya penggunaan media sosial, FOMO menjadi semakin umum dan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior (2020), FOMO dikaitkan dengan peningkatan stres, kecemasan, dan ketidakpuasan hidup. Selain itu, psikolog klinis Dr Andrew Przybylski dari University of Oxford menyatakan bahwa FOMO sering kali berasal dari ketidakamanan sosial dan rasa kurangnya pencapaian dibandingkan dengan orang lain.
Baca Juga: Mengenal JOMO, Lawan dari FOMO: Yuk Cari Tahu Pengertiannya!
Akun Twitter/X @karna_idn yang sering membagikan informasi tentang kesehatan mental, menjelaskan dalam salah satu unggahannya.
“FOMO menyebabkan seseorang memeriksa timeline, inbox, atau notif di gawainya terus-menerus. Risikonya, dia tidak mampu menikmati momen yang ada di hadapannya karena pikirannya terpaku pada apa yang sedang dilakukan orang lain di luar sana,” tulisnya.
Munculnya Tren JOMO: Menikmati Hidup tanpa Media Sosial
Berbeda dengan FOMO, JOMO adalah kesadaran untuk menikmati momen tanpa tekanan harus selalu terhubung dengan dunia digital. Tren ini muncul karena semakin banyak orang menyadari dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental mereka.
Dr Christina Crook, penulis buku The Joy of Missing Out, menjelaskan, dengan melepaskan diri dari kebutuhan untuk selalu online, seseorang dapat mengalami ketenangan batin dan lebih fokus pada kehidupan nyata.
Manfaat Penerapan JOMO:
1. Mengurangi stres dan kecemasan – Dengan membatasi konsumsi media sosial, otak tidak lagi dibanjiri informasi yang memicu perasaan tidak cukup baik.
2. Meningkatkan produktivitas – Tanpa gangguan notifikasi, seseorang dapat lebih fokus pada pekerjaan dan aktivitas yang lebih bermakna.
3. Memperdalam hubungan sosial – Waktu berkualitas dengan keluarga dan teman menjadi lebih bermakna tanpa distraksi layar.
4. Meningkatkan kesehatan mental – Menurut studi dari University of Pennsylvania (2018), mengurangi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari dapat menurunkan tingkat depresi dan kesepian secara signifikan.
Baca Juga: Cemas dan Khawatir saat Main Media Sosial? Awas, Kamu Kena FOMO!
Jim Butcher, seorang pengguna Quora membagikan pengalamannya dalam menerapkan gaya hidup JOMO. Dia merasa lebih tenang dan puas setelah menghindari hubungan toxic, potensi cedera, dan dampak negatif konsumerisme. Dengan mengurangi FOMO, dia menemukan kebahagiaan dalam hidup yang lebih autentik dan penuh rasa syukur.
Bagaimana Cara Beralih dari FOMO ke JOMO?
Jika Anda ingin mengurangi ketergantungan pada media sosial dan mulai menikmati JOMO, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Kurangi waktu layar secara bertahap – Gunakan fitur screen time pada ponsel untuk membatasi penggunaan aplikasi media sosial.
- Prioritaskan aktivitas offline – Luangkan waktu untuk membaca buku, berolahraga, atau melakukan hobi yang tidak melibatkan layar.
- Batasi notifikasi – Mematikan notifikasi dari media sosial dapat membantu mengurangi dorongan untuk terus memeriksa ponsel.
- Jadwalkan detoks digital – Cobalah untuk mengambil hari bebas teknologi (digital detox) setiap minggu.
Peralihan dari FOMO ke JOMO menunjukkan bahwa semakin banyak orang mulai menyadari pentingnya kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Dengan mengurangi ketergantungan pada media sosial, seseorang dapat mengalami kebahagiaan yang lebih autentik dan menghindari tekanan sosial yang tidak perlu. Jadi, apakah Anda siap menikmati hidup tanpa merasa takut ketinggalan dengan tren FOMO vs JOMO?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Muhammad In’am Chairuzzidan Anwar/Magang
Editor: Dwi Lindawati








