MALANG, Tugujatim.id – Ini bisa jadi gedung pelatihan termegah milik swasta yang pernah ada di Jawa Timur. Namanya Graha Arshaka. Gedungnya mewah. Dua lantai. Berdiri di atas lahan 1.400 meter persegi.
View-nya gunung arjuno. Ada di Kota Batu. Dingin. Membuat vibes gedung ini ala villa. Aula-nya, mungkin bisa menampung sekitar 500 orang. Sudah kayak Hall milik hotel berbintang.
Tapi, yang menarik tidak hanya gedungnya. Namun, cerita dibalik gedung itu. Kebersamaan yang coba dibangun. Rasa saling percaya. Juga perngobanan kolektif orang-orangnya.
Orang-orang penyumbang untuk beli tanah di gedung itu, ditulis satu persatu lalu dipasang di dinding lantai satu. Ada sekitar 200 an orang. Terkumpul uang sekitar Rp 1 miliar. Lalu, dibeli tanah di bawah harga pasar seluas 1000 meter persegi.
Pemilik tanah itu, mas Ja’far tidak hanya menjual harga di bawah pasar, juga menghibahkan 400 meter persegi. Kalau harga tanahnya Rp 1 juta, maka keluarga Mas Ja’far sudah menghibahkan Rp 400 juta. Kalau misal harga pasar tanah di tempat itu Rp 2 juta, mas Ja’far sudah menghibahkan Rp 800 juta. Angka yang sama sekali tidak sedikit.
Graha Arshaka: Gedung Pelatihan Mewah Milik IKA-PMII Kota Malang
Gedung itu milik Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kota Malang. Pembangunannya memakai anggaran pemerintah, berkat dukungan dua alumni yang berada di DPRD Jatim yakni Mbak Hikmah Bafaqih dan Mas Fauzan Fuadi.
Ratusan orang berpartisipasi. Tentu, dengan kadar kekuatannya masing-masing. Yang melegakan: semua orang yang berpartisipasi itu, diapresiasi. Yang nyumbang besar, disebut by name oleh Gus Din, Ketua IKA PMII Kota Malang yang baru demisioner. Gus Din menyebutnya dalam sambutan terakhirnya tadi sore.
Gus Din salah satu orang paling berjasa atas berdirinya gedung megah itu. Bahkan, Tokoh IKA-PMII Kota Malang Fauzan Alfas dalam sebuah obrolan informal: sebenarnya layak gedung itu dinamai ‘Gedung Gus Din’. Tapi, tentu saja itu tidak akan dilakukan oleh Gus Din.
Gedung itu diinisiasi saat Gus Din menjadi ketua IKA PMII. Di eksekusi saat beliau menjabat, dan diresmikan, di akhir jabatan beliau. Tidak salah, jika Gus Din bisa dibilang orang paling berjasa atas berdirinya gedung ini.
Sebagai seorang pemimpin, Gus Din adalah penyalur bola layaknya Pirlo zaman dulu. Beliau menyalurkan bola kepada orang yang tepat. Mungkin, dia tidak membuat goal, tapi umpan-umpannya cukup memanjakan. Dia tidak selalu hadir, tapi mendelegasikan kewenangan ke orang-orang yang tepat.
Beliau tidak menguras energi dengan menggelar banyak kegiatan tapi tak berdampak signifikan. Beliau tahu, mana yang penting. Mana yang perlu dilakukukan. Mana yang perlu dikurangi. Dan mana yang dampaknya luas bagi organisasi.
Collective Genius: Cara Gus Din Merangkai Potensi IKA-PMII
Meminjam istilah Linda A Hill dkk, Gus Din menciptakan tim yang genius atau Collective Genius. Kata Linda, organisasi yang inovatif cenderung lebih sukses ketika mengandalkan collective genius. Bukan satu orang genius atau Solo Genius.

Dan secara tak sadar, Gus Din mampu merangkai banyak potensi yang ada di IKA-PMII Kota Malang dengan pendekatan Collective Genius.
Dalam sebuah obrolan, Gus Din menyebut, organisasi, apalagi pemimpinnya sudah agak tua seperti beliau, perlu banyak enabler= seseorang, pihak atau alat yang memungkinkan sesuatu terjadi.
Dan Gus Din cukup ulung menciptakan anabler-anabler sehingga organisasi berjalan. Dan yang terpenting: mempunyai dampak bagi massa depan.
Namun, Gus Din paham pemimpin lahir tidak untuk menyenangkan semua pihak. Itu juga yang sempat beliau sampaikan dalam sambutan terakhirnya. Proyek yang pasti gagal dalam hidup ini: adalah proyek menyenangkan semua orang.
Gus Din merasa bahwa dirinya sudah teruji. Dengan tekanan-tekanan. Intrik-intrik. Apalagi, beliau berguru langsung kepada Gus Dur, dan adiknya Gus Iim, tentang bagaimana keduanya di tekan oleh kekuasaan dan pihak-pihak tertentu.
Gus Din yang merupakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Assosiasi Petani Indonesia (API) mempunyai jaringan yang terbentang luas. Mungkin, karena inilah prespektif-nya kaya, dan sudah terbiasa mengatur organisasi dengan banyak kepentingan dan warna.
Tulisan ini tentu tidak untuk memuji Gus Din. Namun, saya niatkan memberi apresiasi. Meskipun, mungkin beliau tidak butuh apresiasi itu. Sebagaimana beliau menolak IKA-PMII Kota Malang Awards 2026 karena beliau masih menjabat sebagai Ketua Umum.
Wal hasil, dari Graha Arshaka kita tidak hanya menikmati gedung megah serta kemuliaan dan keluhuran, sebagaimana arti nama Arshaka. Namun, belajar langsung soal kepemimpinan dari dekat. Tentang rasa saling percaya. Dan tentang memanfaatkan potensi yang begitu besarnya.
Dan yang paling penting: mengapresiasi sekecil apapun kontribusi.
Tabik.
Penulis: Irham Thoriq, dari Tugu Media Group (tugumalang.id, tugujatim.id, tugu global-menyalurkan pelajar Indonesia untuk kuliah di kampus negeri di Malaysia).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Mochamad Abdurrochim







