TUBAN, Tugujatim.id – Ramadan di Tuban, Jawa Timur, tidak hanya tentang ibadah dan kebersamaan, tetapi juga menghadirkan tradisi kuliner khas yang telah berlangsung turun-temurun. Salah satunya adalah Bubur Syuro, hidangan berbuka puasa yang hanya bisa ditemukan di sekitar Makam Sunan Bonang selama bulan suci ini.

Bubur Syuro yang lebih dikenal dengan sebutan Bubur Sunan Bonang ini bukan sekadar makanan biasa. Sajian bersejarah ini diyakini merupakan warisan sang wali yang terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar. Tekstur lembutnya yang berpadu dengan cita rasa gurih, menjadikannya buruan warga saat menjelang berbuka puasa.

Setiap sore, selepas salat Asar, ratusan warga berbondong-bondong datang ke kompleks Makam Sunan Bonang untuk mendapatkan seporsi bubur secara gratis. Tradisi ini telah berlangsung bertahun-tahun, menjadi bagian tidak terpisahkan dari nuansa Ramadan di bumi wali tersebut.
Baca Juga: Bubur Muhdor, Takjil Gratis dengan Cita Rasa Timur Tengah yang Legendaris
“Rasanya khas, gurih, dan nikmat. Yang bikin istimewa, bubur ini hanya ada saat Ramadan, jadi setiap tahun pasti ditunggu-tunggu,” ujar Imam, salah satu pengurus Mabarot Makam Sunan Bonang, Selasa (11/03/2025).

Dia mengatakan, bubur Syuro ini semakin nikmat saat disantap bersama sayur lodeh, kombinasi yang menghadirkan harmoni rasa dalam setiap suapan. Tidak hanya karena sejarahnya, bubur Syuro juga memiliki keunikan pada racikan bumbunya. Campuran rempah-rempah pilihan, bawang merah, bawang putih, dan parutan santan kelapa menghasilkan aroma khas yang menggugah selera.
Keistimewaan lain dari bubur ini adalah tambahan daging dan tulang sapi yang memberikan sensasi gurih yang lebih kaya.
“Memang (memberikan takjil bubur, Red) ini sudah turun-temurun sejak dulu sudah ada,” tuturnya.

Sementara itu, Nur Aini, salah satu warga Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, yang setiap tahun setia mengantre bubur Syuro, mengaku tidak pernah bosan dengan hidangan ini.
“Hampir setiap hari saya datang untuk mendapatkan bubur ini. Rasanya bikin ketagihan, apalagi kalau dimakan hangat-hangat saat berbuka,” ungkapnya.
Keberadaan bubur Syuro bukan hanya sekadar tradisi kuliner, tetapi juga simbol kebersamaan dan keberkahan Ramadan. Setiap suapan mengandung jejak sejarah, menghadirkan cita rasa yang tidak hanya menggoyang lidah, tetapi juga menghangatkan hati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








