Pasuruan, Tugujatim.id – Ikan Danau Ranu Grati Pasuruan mati akibat fenomena Sapon. Ikan yang mati dalam beberapa hari terakhir diperkirakan mencapai ribuan ekor.
Donas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) mengungkapkan bahwa sapon merupakan fenomena alam yang diakibatkan oleh proses upwelling atau pengadukan arus dari dalam danau.
Kabid Perikanan DKP3 Kabupaten Pasuruan, Wahid Setyantoro mengungkapkan upwelling atau pengadukan arus dari dalam danau mengakibatkan lapisan air dari dalam danau yang memiliki kandungan bahan organik terangkat ke permukaan. Hal ini menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun drastis hingga ikan menjadi keracunan dan mati mendadak.
“Secara ilmiah sapon merupakan upwelling. Yakni adanya pengadukan arus dari dalam danau, sehingga kandungan bahan organik naik ke permukaan. Akibatnya oksigen berkurang dan ikan tidak bisa bertahan,” ujar Wahid pada Sabtu (31/1).
Menurut Wahid, fenomena sapon ini sangat bergantung pada faktor cuaca, khususnya angin barat yang kerap bertiup kencang belakangan ini. Angin tersebut memicu bergeraknya massa air di danau sehingga sapon makin sulit diprediksi dan bisa terjadi kapanpun.
“Kemarin sering muncul di waktu-waktu tertentu, untuk sekarang sudah tak bisa dipastikan. Selama angin barat masih berhembus, sapon bisa terjadi tiba-tiba,” ungkapnya.
DKP3 menghimbau para petambak untuk mewaspadai sapon terutama ketika cuaca ekstrem. Walaupun sulit dicegah sepenuhnya, memantau kondisi air serta mengurangi kepadatan ikan dalam keramba dianggap bisa mengurangi risiko kerugian.
Rusdi (52) , seorang petambak ikan asal Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati, mengatakan kematian ikan akibat sapon lebih sering terjadi ketika jelang matahari terbit dan tenggelam. Terutama ketika terjadi hujan deras beserta angin kencang.
“Angin datangnya pagi dan sore,” ujar Rusdi.
Rusdi menyebut dia mempunyai 24 petak keramba berisi tombro dan nila. Ia mengalami kerugian jutaan rupiah karena ribuan ikan yang mati.
“Kemarin ada satu kuintal mati, ruginya Rp 3 juta, sekarang 3 kuintal, rugi Rp 7 juta,” ungkapnya.
Khoirul Anam, warga lain yang mempunyai 18 petak keramba juga merugi karena banyak ikannya yang mati. Ia harus memilih ikan mati yang masih layak dijual.
“Sekarang sulit dan hampir nggak bisa diprediksi datangnya sapon,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Lohk Mahfud
Editor: Darmadi Sasongko








