Imam Sarozi, “Grab” Dadakan Pasien Isoman Covid-19

  • Bagikan
Donor darah bersama Imam Sarozi di UDT PMI Tuban pada 7 Juni 2021. (Foto: Rochim/Tugu Jatim)
Donor darah bersama Imam Sarozi di UDT PMI Tuban pada 7 Juni 2021. (Foto: Rochim/Tugu Jatim)

TUBAN, Tugujatim.id – Jawa Timur menjadi salah satu wilayah penyebaran virus Covid-19 yang cukup tinggi sehingga menerapkan PPKM Darurat sejak 3-20 Juli 2021. Entah PPKM Darurat ini akan diperpanjang atau tidak, semua orang masih berharap-harap cemas. Termasuk Imam Sarozi.

Pun dengan kondisi Kabupaten Tuban yang masuk wilayah Jatim sebelah barat pantura itu dalam kategori zona merah. Terlepas dari kondisi pelik semua itu, ada satu kisah menarik yang saya dapatkan dari Imam Sarozi, 26, wartawan salah satu media online lokal di Tuban.

Selain aktivitas super sibuk sebagai buruh kuli tinta, dia juga menjadi kurir barang dadakan para pasien Covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah maupun di rumah sakit.

Hari ini (14/03/2021) saya berjumpa dengannya di salah satu apotek di Jalan Lukman Hakim Tuban ketika membeli obat. Karena lama mengantre, kami yang duduk bersebelahan berjarak 1 meteran terlibat dalam obrolan, hingga saya tahu jika aia tengah merawat orang isoman.

Pria yang memiliki tubuh tak terlalu tinggi itu setiap hari harus mengantarkan segala kebutuhan yang dipesan para pasien isoman. Baik makanan, cemilan, obat-obatan, belanja kebutuhan dapur, hingga membayarkan tagihan-tagihan.

“Ada senangnya, ada susahnya, Mas,” tuturnya singkat.

Saya tertarik dan mencoba menanyakan lebih dalam perihal alasannya mau menjadi “Grab” dadakan yang bisa dibilang berisiko tinggi terpapar Covid-19.

Menurut Imam, menjadi kurir yang memenuhi kebutuhan orang isolasi itu dilema. Senang karena mendapatkan kepercayaan, pun diberikan kesehatan untuk bermanfaat untuk orang lain. Di sisi lain, dia merasa waswas nanti tertular meski dia menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat.

Selain itu, dia seakan-akan ikut merasakan apa yang dialami para pasien isolasi. Jadi, merasakan betapa mahalnya sehat itu.

“Banyak belajar dari merawat orang-orang itu, Mas. Semakin intropeksi diri dan bersyukur dengan kehidupan ini,” ucapnya.

Dalam kesehariannya, Imam merawat kurang lebih 7 orang dan 1 orang selesai masa isolasi dan sembuh. Dia membagi waktunya dari pagi sampai malam agar tidak bentrok dengan pekerjaannya. Jadi, dia mengatur rotasi pengiriman kebutuhan orang-orang isolasi itu.

“Harus stand by jika dibutuhkan sewaktu-waktu, Mas. HP harus selalu on,” ungkapnya.

Sudah lebih dari dua bulan dia menjalani aktivitas ini. Imam juga tak mematok tarif karena itu semua dia lakukan secara sukarela meski tak jarang banyak dari pasien yang memberikan ganti uang bensin.

Imam hanya berharap kondisi pandemi seperti ini cepat menemukan solusi yang bisa membuat orang lega. Sebab, dia merasakan sendiri, melihat kondisi pasien isolasi dampaknya begitu besar.

“Semoga ini lekas membaik keadaannya,” kataku sambil menepuk punggungnya.

Obrolan kami berakhir berbarengan dengan pesanan obat kami sama-sama datang.

Dari cerita ini, kita mampu memetik pelajaran berharga sangat banyak. Saling tolong menolong atas nama kemanusiaan meski dalam kondisi mencekam, lebih sadar jika kesehatan itu mahal, dan semakin merawat tubuh agar tidak sakit. Semoga cerita silaturahmi kali ini bermanfaat untuk pembaca.

  • Bagikan