Inilah Kisah Kebahagiaan Warga Ngadas saat Hari Raya Galungan Bertepatan dengan Ramadan - Tugujatim.id

Inilah Kisah Kebahagiaan Warga Ngadas saat Hari Raya Galungan Bertepatan dengan Ramadan

  • Bagikan
Warga Ngadas, Kabupaten Malang, yang penuh toleransi. (Foto: Rap/Tugu Jatim)
Warga Ngadas, Kabupaten Malang, yang penuh toleransi. (Foto: Rap/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Bagi warga Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, toleransi sudah merupakan hal yang biasa dilaksanakan sehari-hari. Lantaran, di desa ini terdapat berbagai agama mulai dari Hindu, Buddha, Islam, hingga Nasrani. Apalagi ketika merayakan Hari Raya Galungan yang bertepatan dengan Ramadan kali ini.

Rumah-rumah ibadah juga dibangun berdekatan sehingga menambah kesan toleransi yang sangat kental di desa yang menjadi akses utama menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dari arah Malang ini.

Warga Ngadas saat merayakan Galungan. (Foto: Rap/Tugu Jatim)
Warga Ngadas saat merayakan Galungan. (Foto: Rap/Tugu Jatim)

“Kebetulan kan Ramadan kali ini bertepatan dengan perayaan Galungan bagi teman-teman Hindu, tapi ini bukan hal yang asing bagi kami karena sudah terbiasa dengan keberagaman seperti ini,” terang Shinta, 19, warga asli Desa Ngadas yang kebetulan juga beragama Buddha.

Toleransi juga ditunjukkan saat warga muslim yang merayakan Idul Fitri, budaya ngelencer (bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga) ternyata tidak hanya dilakukan sesama umat Islam, tapi seluruh warga tidak memandang agama.

“Kalau sedang Lebaran, bukan hanya umat muslim yang bersilaturahmi, biasanya seluruh umat juga mengunjungi setiap rumah untuk saling bermaaf-maafan,” ungkapnya.

Salah satu rumah warga Ngadas. (Foto: Rap/Tugu Jatim)
Salah satu rumah warga Ngadas. (Foto: Rap/Tugu Jatim)

Selain itu, ternyata para warga non-muslim juga menghormati umat muslim ketika melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadan. Biasanya warga akan men-support warganya yang beragama Islam agar ibadahnya berjalan lancar.

“Kalau umat muslim sedang berpuasa, kami pasti selalu menghormati dengan tidak makan atau minum di depan mereka. Selain itu, di sini suara azan tetap berkumandang untuk peringatan salat atau berbuka puasa,” bebernya.

Warga di Ngadas selalu berbagi ketika ada yang merayakan hari raya. (Foto: Rap/Tugu Jatim)
Warga di Ngadas selalu berbagi ketika ada yang merayakan hari raya. (Foto: Rap/Tugu Jatim)

Selain itu, saat dilakukan perayaan Galungan pada Kamis kemarin (15/04/2021) oleh umat Hindu, biasanya warga-warga non-Hindu juga kebagian berkatnya (makanan).

“Kalau hari raya Galungan, biasanya kalau umat Hindu selesai sembahyang dan turun dari Pura, kami akan kebagian makanannya. Makanan-makanan itu biasanya dibagi-bagikan ke warga,” ujarnya.

“Memang sejak saya kecil sifat toleransi warga di sini tidak pernah berkurang atau berubah sedikit pun,” ujarnya.

  • Bagikan